Optimalisasi Unit Layanan Disabilitas UIN Bandung: Identifikasi Kebutuhan dan Strategi Efektif

admin.aiotrade 24 Okt 2025 3 menit 12x dilihat
Optimalisasi Unit Layanan Disabilitas UIN Bandung: Identifikasi Kebutuhan dan Strategi Efektif
Optimalisasi Unit Layanan Disabilitas UIN Bandung: Identifikasi Kebutuhan dan Strategi Efektif

FGD Persiapan Pembentukan Layanan Disabilitas di UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Pada perayaan Hari Santri, Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka persiapan pembentukan layanan disabilitas. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Pimpinan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) pada Selasa, 22 Oktober 2025. Acara ini mendapatkan dukungan penuh dari Rektor melalui Wakil Rektor I bidang akademik untuk menciptakan kampus yang inklusif.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor I Prof. Dr. H. Dadan Rusmana, M. Ag menyampaikan bahwa UIN SGD Bandung memiliki komitmen untuk mewujudkan layanan disabilitas. Namun, masih terdapat beberapa kendala seperti belum tersedianya kebijakan, tata kelola, dan anggaran khusus. Meski demikian, ia berharap Unit Layanan Disabilitas (ULD) bisa segera terwujud.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Kepala PSGA, Irma Riyani, menjelaskan tujuan dari FGD ini adalah untuk mendiskusikan berbagai hal yang diperlukan dalam proses pembentukan ULD, terutama terkait kebijakan, penganggaran, dan tata kelola. Ia menekankan bahwa visi UIN SGD Bandung adalah basis Rahmatan Lil Alamin, yang salah satu indikatornya adalah non-diskriminatif dengan prinsip no one left behind. Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membentuk sumber daya manusia unggul yang adaptif dan inklusif, termasuk akses dan partisipasi yang setara dalam pendidikan tinggi.

Ketua LP2M, Setia Gumilar, menyetujui terbentuknya ULD sebagai titah dari Undang-Undang no. 48 tahun 2023 dan PMA no. 1 tahun 2024 tentang akomodasi yang layak bagi peserta didik penyandang disabilitas. Menurutnya, perguruan tinggi dikatakan unggul bukan hanya dari aspek akademik, tetapi juga dari fasilitas sarana dan prasarana untuk disabilitas.

FGD ini dimulai dengan pemaparan tim peneliti tentang kebijakan disabilitas di UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang disampaikan oleh Asep Muhamad Iqbal Ph.D. Dalam presentasinya, ia menjelaskan data dan fakta di lapangan terkait fasilitas dan pengalaman para mahasiswa penyandang disabilitas. Ia menyoroti bahwa kebijakan yang belum ada serta pemahaman yang kurang tentang keberadaan disabilitas di kampus menyebabkan kurangnya empati terhadap teman-teman mahasiswa yang memiliki kebutuhan berbeda.

Beberapa mahasiswa penyandang disabilitas juga hadir dalam FGD ini dan menyampaikan pengalaman serta harapan besar untuk terbentuknya ULD. Mereka mengungkapkan kendala dalam proses pembelajaran, seperti keterbatasan sarana dan prasarana, serta isolasi. Beberapa di antaranya bahkan mengalami stigma dan peminggiran. Mahasiswa disabilitas ini berada di bawah naungan komunitas Inklusifin.

Ketua Inklusifin, Hazar, menyatakan bahwa teman-teman mahasiswa disabilitas tidak ingin diistimewakan, tetapi ingin diberikan akses dalam proses pembelajaran sesuai dengan kebutuhan mereka serta keterbukaan informasi yang memadai.

Dalam pemaparannya, Asep Muhamad Iqbal menjelaskan matrix kebijakan yang perlu diperhatikan dalam proses pembentukan ULD. Hal tersebut mencakup formulasi dan sosialisasi kebijakan, peningkatan infrastruktur dan layanan, pelatihan dan pendampingan, serta monitoring dan evaluasi. Ia menekankan pentingnya pendapat dan masukan dalam proses pembentukan ULD, banyak berjejaring, penyempurnaan sarana dan prasarana baik secara fisik maupun sumber informasi, bacaan, dan fasilitas pembelajaran yang memadai bagi para mahasiswa penyandang disabilitas.

Mengakhiri FGD ini, Irma Riyani menyatakan bahwa langkah konkrit dari tindak lanjut FGD tersebut akan dibuatkan Tim Khusus yang akan menggodok lebih matang persiapan pembentukan ULD agar segera terwujud dengan dukungan dari semua pihak.

FGD ini dihadiri sekitar 30 peserta yang terdiri dari para Katim, para Wakil Dekan I dan Wakil Direktur I, para dosen pengamat disabilitas, serta mahasiswa disabilitas yang berada di bawah naungan Komunitas Inklusifin.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan