
Langkah Strategis Pemerintah dalam Menyuntik Likuiditas ke Himbara
Suntikan likuiditas sebesar Rp 200 triliun dari pemerintah ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menjadi langkah penting untuk mengurangi tekanan likuiditas di industri perbankan. Menurut Jenny Tantono, Head of Transaction Banking Standard Chartered Bank, kebijakan ini memiliki dampak langsung terhadap penurunan biaya dana perbankan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
"Karena dalam berebut likuiditas, bank-bank melakukan perang harga," ujarnya dalam media briefing yang digelar di Hotel Mulia, Jakarta, pada Kamis (16/10).
Meskipun Bank Indonesia (BI) telah memangkas suku bunga acuannya sebanyak 125 basis poin (bps) ke level 4,75 persen, perbankan masih belum menurunkan suku bunga pinjamannya. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan bank untuk mempertahankan dana pihak ketiga (DPK).
"Tidak ada solusi lain saat itu. Perbankan terpaksa bersaing menaikkan suku bunga simpanan agar DPK tidak lari ke bank lain. Akibatnya, cost of fund jadi tinggi," tambahnya.
Sebelum adanya suntikan likuiditas, rasio Loan to Funding Ratio (LFR) perbankan, termasuk Himbara, sudah sangat ketat. LFR merupakan indikator penting yang mengukur kemampuan bank dalam menyalurkan kredit berdasarkan dana yang berhasil dihimpun.
"Nah, ketika likuiditas bank Himbara sangat ketat tapi masih harus mengguyurkan kredit dari sisi aset, mau tidak mau harus melakukan perang harga. Supaya DPK naik," jelas Jenny.
Persaingan suku bunga ini merembet ke bank-bank lain yang lebih kecil. Nasabah cenderung memindahkan dana mereka ke bank besar yang menawarkan suku bunga simpanan lebih tinggi. Sehingga membuat kompetisi makin tidak seimbang.
Namun kini, dengan suntikan likuiditas Rp 200 triliun mulai mengubah situasi. LFR akan semakin longgar. Bank tidak perlu lagi berebut dana lewat perang bunga deposito. Ketika bank-bank besar mulai menurunkan suku bunga simpanan, maka bank-bank lain pun akan ikut menyesuaikan.
Meski, memang dampak penurunan suku bunga simpanan ini memang tidak akan terjadi secara instan. Namun, tren penurunan diperkirakan mulai terlihat dalam beberapa bulan ke depan. Kebijakan ini menjadi cara menurunkan cost of fund suku bunga untuk rupiah.
Sehingga diharapkan dapat menciptakan struktur biaya dana yang lebih efisien. Agar bank dapat lebih leluasa menurunkan suku bunga kredit. Dengan begitu, pertumbuhan penyaluran kredit dapat terdorong menjelang akhir tahun.
"Ketika cost of fund turun, diharapkan bakal membantu pertumbuhan kredit di akhir tahun ini," terang Jenny.
Layanan Cash Management dan Trade Finance
Dalam menghadapi dinamika ini, Standard Chartered mengedepankan layanan cash management dengan sasaran segmentasi local corporate, multinational/global subsidiaries, dan financial institution. Dengan representasi di lebih dari 50 negara, mendukung perusahaan Indonesia yang berekspansi ke luar negeri. Termasuk ke pasar baru seperti Bangladesh, Filipina, Thailand, dan Nigeria.
Inisiatif ini memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok regional dan mendorong aliran investasi lintas negara. "Dengan representasi di Amerika Serikat (AS) dan Hongkong, kami bisa membantu perbankan di Indonesia untuk melakukan clearing mereka di negara tersebut," ungkapnya.
Cash management bukan sekadar produk perbankan. Tapi membantu nasabah korporasi dalam mengatur arus kas secara efisien. Secara cash flow maupun biaya agar terkontrol.
Pengelolaan kas yang pruden akan berdampak signifikan terhadap penghematan biaya operasional. Bahkan bisa menjadi savings atau simpanan buat perusahaan.
Standard Chartered juga mendorong layanan trade finance untuk mendukung aktivitas perdagangan internasional. Terutama bagi perusahaan yang bergerak dalam ekspor dan impor. Selain merupakan fungsi penting dari perbankan, layanan ini membantu meminimalkan risiko antara pembeli dan penjual dalam transaksi perdagangan. Karena untuk skala korporasi transaksinya sudah cross border (lintas negara).
"Kami melihat peluang yang besar di sektor trade finance dan cash management, terutama seiring meningkatnya aktivitas perdagangan lintas batas. Fokus kami adalah membantu nasabah mengelola arus kas dengan efisien dan berkelanjutan, sekaligus mendukung ketahanan likuiditas industri perbankan," jelas Jenny.
Pendekatan Konsultatif dan Berbasis Solusi
Dari sisi strategi, Standard Chartered mengedepankan pendekatan konsultatif dan berbasis solusi (solution-based approach). Tidak hanya menawarkan produk, tapi juga membantu nasabah merancang proses keuangan menyeluruh. Mulai dari integrasi sistem akuntansi dan pelaporan, hingga tata kelola transaksi lintas negara.
"Pendekatan ini memperkuat loyalitas nasabah korporasi dan memastikan setiap solusi benar-benar sesuai dengan kebutuhan bisnis mereka," ucapnya.