
Di tengah proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 yang stagnan dan lemahnya sektor tradisional, ekonomi berbasis pengalaman menawarkan harapan baru. Namun, risiko kredit konsumsi dan isu tenaga kerja prekariat mengancam potensi sektor yang sangat bergantung pada daya beli kelas menengah ini.
Proyeksi perekonomian Indonesia untuk tahun 2026 cenderung moderat. Tekanan eksternal dari gejolak geopolitik, ketidakpastian pasar keuangan, hingga jatuhnya harga komoditas utama menahan laju pertumbuhan. Bank Pembangunan Asia (ADB), dalam Asian Development Outlook pada Kamis, 11 Desember 2025, memprediksi pertumbuhan Indonesia hanya naik tipis ke 5,1 persen. Center of Reform on Economics (Core) Indonesia bahkan memproyeksikan angka di kisaran 4,9-5,1 persen.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Net ekspor akan turun, sementara kenaikan belanja pemerintah, konsumsi, dan investasi hanya marginal,” kata Direktur Eksekutif Core Indonesia, Mohammad Faisal, dalam peluncuran Outlook 2026 lembaganya. Sinyal perlambatan juga terlihat dari terkontraksinya sektor properti (penjualan rumah menengah dan besar minus 12% dan minus 23% pada triwulan III 2025) dan sektor pertambangan (terkontraksi minus 0,4% pada triwulan III 2025), mengindikasikan berakhirnya commodity supercycle.
Sektor Jasa: Bintang di Tengah Kelesuan
Namun, di tengah sinyal perlambatan tersebut, sektor jasa menjadi penopang optimisme. Sektor ini tumbuh kuat sepanjang 2025 dan diproyeksikan berlanjut pada 2026. Kepala Ekonom Mandiri Andry Asmoro menegaskan, meskipun menghadapi tekanan global, Indonesia sangat kecil kemungkinannya terjerumus ke jurang resesi, karena resiliensi konsumsi rumah tangga yang dominan menyumbang lebih dari 50 persen PDB.
Mandiri memproyeksikan tiga sektor yang terkait erat dengan Experience Economy berpeluang tumbuh tinggi pada 2026:
- Sektor Mobilitas (Transportasi): Diproyeksikan tumbuh 13,1 persen.
- Sektor Jasa Lainnya (Ekonomi Rekreasional): Diperkirakan tumbuh 10 persen.
- Akomodasi, Makanan, dan Minuman: Berpotensi tumbuh 9,7 persen.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, melihat pergeseran konsumsi masyarakat kelas menengah ke arah pengalaman sebagai peluang motor pertumbuhan baru.
Potensi pertumbuhan sektor ini bersumber dari luasnya cakupan ekosistem bisnis di dalamnya. Dalam penyelenggaraan festival musik, misalnya, perputaran uang juga muncul dari penjualan merchandise, makanan/minuman, jasa keamanan, hingga akomodasi dan transportasi. “Penyerapan tenaga kerjanya juga tinggi. Penyelenggaraan festival musik bisa mempekerjakan 700-1.000 orang,” ujar Bhima.
Bayangan Kredit Macet dan Prekariat Baru
Di balik prospek cerah ini, Bhima dan ekonom lainnya mengingatkan adanya risiko yang mengintai. Fenomena lonjakan belanja hiburan, khususnya yang didorong oleh Gen Z dan milenial, berpotensi memicu masalah keuangan rumah tangga.
Data mencatat bahwa kredit konsumsi tumbuh signifikan sepanjang 2025. Bank Indonesia mendapati, pada kuartal ketiga, tingkat non-performing loan (NPL) kredit konsumsi mulai menunjukkan kenaikan, meski masih di bawah level 5 persen. Peningkatan belanja yang didorong oleh kredit dan paylater berisiko menimbulkan kredit macet jika daya beli kelas menengah tidak stabil.
Masalah kedua terkait dengan kualitas penyerapan tenaga kerja. Sektor ekonomi kreatif memang menyerap 26,47 juta jiwa per 2024. Namun, Bhima menyebut banyak pelaku usaha di sektor ini yang masih berstatus pengusaha menengah. Akibatnya, pelaku usaha lebih banyak merekrut pekerja lepas dengan upah harian. “Ini malah berisiko menciptakan kelas prekariat baru dan memperlebar kesenjangan,” kata Bhima.
Langkah yang Perlu Diambil
Untuk menangkap momentum pertumbuhan sektor konsumsi ini secara berkualitas, para ekonom berpendapat pemerintah harus memikirkan insentif. Insentif tersebut, menurut Bhima, bisa berupa keringanan pajak bagi para pelaku usaha industri kreatif.
“Ada tendensi, akibat efisiensi anggaran pemerintah pusat, pemerintah daerah justru kian agresif menarik pungutan dan pajak pelaku usaha. Ini malah makin membebani mereka,” pungkasnya, menandakan perlunya dukungan kebijakan untuk menjaga agar mesin pertumbuhan baru ini tidak kehilangan daya ungkitnya.