P2G: Mandarin Lebih Disukai Daripada Portugis di Dunia Industri

admin.aiotrade 26 Okt 2025 2 menit 15x dilihat
P2G: Mandarin Lebih Disukai Daripada Portugis di Dunia Industri

Penjelasan P2G Mengenai Pelajaran Bahasa Portugis di Sekolah

Koordinator Nasional (Kornas) Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Satriwan Salim, memberikan respons terhadap kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang mengusulkan pengajaran Bahasa Portugis di sekolah-sekolah Indonesia. Menurutnya, langkah ini perlu dipertimbangkan dengan matang karena berbagai alasan yang berkaitan dengan kurikulum dan prioritas pembelajaran.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Beban Kurikulum yang Sudah Padat

Satriwan menilai bahwa saat ini struktur kurikulum di sekolah sudah cukup padat. Dengan penambahan pelajaran baru seperti Bahasa Portugis, beban siswa akan semakin berat. Ia menyatakan bahwa banyak bahasa asing yang telah diajarkan di sekolah, termasuk Bahasa Jerman, Arab, Prancis, Jepang, dan Mandarin. Meskipun beberapa mata pelajaran tersebut bersifat pilihan, jumlahnya tetap cukup besar.

Fungsi Bahasa dalam Dunia Bisnis

Selain itu, Satriwan juga menyampaikan bahwa Bahasa Portugis tidak memiliki peran signifikan dalam dunia bisnis. Bahasa ini lebih sering digunakan oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Dalam konteks global, Bahasa Portugis tidak menjadi bahasa utama dalam industri atau perdagangan. Sebaliknya, ia menilai Bahasa Mandarin, Jepang, Prancis, dan Arab lebih bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri.

Masalah Ketersediaan Guru

Salah satu tantangan lain adalah belum adanya jurusan atau prodi di perguruan tinggi yang khusus menyiapkan calon guru Bahasa Portugis. Menurut Satriwan, hingga saat ini belum ada program pendidikan yang secara khusus mempersiapkan tenaga pengajar untuk mata pelajaran ini. Hal ini bisa menjadi kendala dalam implementasi kebijakan tersebut.

Rekomendasi untuk Bahasa Mandarin

Sebagai alternatif, P2G merekomendasikan agar pemerintah lebih fokus pada pengajaran Bahasa Mandarin. Alasannya adalah potensi peluang kerja yang lebih besar bagi siswa yang menguasai bahasa ini. Tiongkok sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat dan menjadi pusat industri serta teknologi membuat Bahasa Mandarin menjadi sangat strategis.

Perhatian pada Bahasa Lokal

Selain itu, P2G juga menekankan pentingnya menjaga dan melestarikan bahasa lokal yang terancam punah. Satriwan menyebutkan bahwa berdasarkan riset BRIN, terdapat sekitar 400 bahasa daerah yang terancam hilang. Ia menilai bahwa pemerintah seharusnya memberi perhatian lebih besar pada pelestarian bahasa-bahasa tersebut.

Arahan dari Presiden Prabowo

Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan kepada Menteri Pendidikan Tinggi dan Menteri Pendidikan Dasar Indonesia untuk segera menerapkan pelajaran Bahasa Portugis di sekolah-sekolah. Ia mengatakan bahwa langkah ini merupakan bentuk perhatian terhadap hubungan antara Brasil dan Indonesia, yang dinilai sangat penting.

Dengan berbagai pertimbangan di atas, P2G berharap pemerintah dapat melakukan evaluasi menyeluruh sebelum memutuskan kebijakan pembelajaran Bahasa Portugis di sekolah-sekolah.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan