Pahlawan Nasional Tionghoa-Manado yang Dijuluki Hantu Selat Malaka oleh Belanda

admin.aiotrade 10 Nov 2025 4 menit 15x dilihat
Pahlawan Nasional Tionghoa-Manado yang Dijuluki Hantu Selat Malaka oleh Belanda

Sejarah Perjuangan John Lie sebagai Pahlawan Nasional

John Lie adalah salah satu tokoh yang sangat berkontribusi dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, terutama di wilayah laut. Ia dikenal dengan julukan "Hantu Selat Malaka" oleh pasukan Belanda karena keberaniannya dan kemampuannya dalam menjalankan misi-misi berisiko tinggi di lautan.

Latar Belakang dan Awal Kehidupan

Laksamana John Lie lahir di Manado pada 9 Maret 1911. Ia berasal dari keluarga Tionghoa-Manado yang berkecukupan. Ayahnya, Lie Kae Tae, adalah seorang pengusaha sukses dalam bidang transportasi, sedangkan ibunya bernama Oei Tjeng Nie Nio. Meskipun mengenyam pendidikan formal di sekolah Belanda seperti Hollands Chinese School dan Christelijke Lagere School, minat John Lie pada dunia pelayaran sudah muncul sejak usia muda.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Pada usia 17 tahun, ia meninggalkan tanah kelahirannya dan berlayar ke Batavia (kini Jakarta). Di sana, ia bekerja sebagai buruh sambil mengikuti kursus navigasi. Kemudian, ia direkrut oleh perusahaan pelayaran Belanda, Koninklijk Paketvaart Maatschappij, dan menjabat sebagai klerk mualim III di kapal.

Perjalanan Menuju Militer

Keterlibatan John Lie dalam dunia militer dimulai pada tahun 1942 ketika ia ditugaskan ke Koramshar, Iran, untuk menjalani pendidikan. Pengalaman dan keahlian navigasinya menjadi modal utama bagi perjuangannya dalam membela kemerdekaan Republik Indonesia.

Peran dalam Perjuangan Kemerdekaan

Ketika Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, John Lie yang sedang berada di luar negeri segera kembali ke tanah air. Dengan tekad bulat, ia bergabung dengan Kesatuan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) dan akhirnya diterima di Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI).

Di tengah perjuangan melawan Belanda, John Lie tidak hanya berperan sebagai pelaut, tetapi juga sebagai pemimpin yang cerdik. Salah satu peran pentingnya adalah menembus blokade laut yang dilakukan Belanda untuk mengisolasi Indonesia. Saat itu, Belanda berusaha menghalangi pasokan senjata dan logistik yang sangat dibutuhkan oleh pejuang kemerdekaan.

John Lie memimpin berbagai operasi penyelundupan senjata dan bahan kebutuhan lainnya. Dengan menggunakan kapal-kapal kecil, salah satunya dikenal dengan nama The Outlaw, ia berhasil menembus blokade Belanda yang ketat. Hasil bumi yang dibawa ke Singapura ditukarkan dengan senjata, yang kemudian digunakan untuk memperkuat perjuangan di Sumatra dan wilayah lainnya.

Keberhasilan John Lie dalam menjalankan misinya membuat Belanda sangat kesulitan. Mereka pun memberi julukan "Hantu Selat Malaka" kepada John Lie, karena kecepatannya dalam menembus blokade dan melakukan penyelundupan tanpa terdeteksi.

Kehidupan Pribadi dan Kematian

Meskipun dikenal sebagai sosok yang keras di medan pertempuran, kehidupan pribadi John Lie jauh dari sorotan media. Ia baru menikah pada usia 45 tahun dengan seorang wanita bernama Margaretha Dharma Angkuw, yang seorang pendeta. Di usia yang sudah tidak muda lagi, pernikahannya menambah babak baru dalam kehidupannya, meskipun tanggung jawabnya sebagai tentara selalu mendahului segalanya.

Pada tahun 1966, John Lie mengganti namanya menjadi Jahja Daniel Dharma sebagai tanda kedewasaan dan dedikasinya terhadap bangsa. John Lie meninggal pada 27 Agustus 1988 karena stroke. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Penghargaan dan Pengakuan Negara

Atas jasa-jasanya terhadap Bangsa dan Negara, John Lie dianugerahi berbagai penghargaan, termasuk Bintang Mahaputera Utama yang diberikan oleh Presiden Soeharto pada 1995. Penghargaan ini merupakan pengakuan atas dedikasi dan pengorbanan John Lie dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Pada 9 November 2019, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada John Lie, melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 058/TK/Tahun 2009. Pada 13 Desember 2014, nama John Lie diabadikan dalam sebuah kapal perang KRI John Lie 358, yang diresmikan di Pelabuhan Samudera Bitung, Sulawesi Utara.

Rumah Kelahiran John Lie

Hendri Gunawan, peneliti Tionghoa, menyebutkan bahwa rumah kelahiran John Lie di Kanaka Manado berhasil dilacak. Letaknya di belakang Gelael Supermarket di Jalan Sudirman. Meskipun rumah tersebut sudah pindah tangan karena dijual, para sejarawan percaya bangunan ruko itu dulunya adalah rumah kelahiran John Lie. Ruko itu bersusun dua dan dalam keadaan tertutup.

Tempat itu hanya terpisah ratusan meter dari DAS Tondano. Ke Pelabuhan Manado berjarak hampir satu kilometer. John Lie dilahirkan di Kanaka, Manado, pada 9 Maret 1911 dari pasangan Lie Kae Tae dengan Maryam Oei Tseng Nie.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan