Pakar Sebut RI Jadi Pemain Unggulan di ASEAN, Kepercayaan Investor Naik

admin.aiotrade 14 Nov 2025 2 menit 11x dilihat
Pakar Sebut RI Jadi Pemain Unggulan di ASEAN, Kepercayaan Investor Naik

Jakarta –
Pandangan dari Global Chief Economist Juwai IQI Shan Saeed menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia semakin meningkat. Hal ini terlihat dari stabilitas Rupiah dan perkembangan kapasitas manufaktur yang signifikan.

“Yang paling penting, kepercayaan investor terus meningkat. Kombinasi stabilitas Rupiah, disiplin makro, kapasitas manufaktur yang berkembang, serta rezim investasi yang kredibel menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan performa terbaik di Asia Tenggara,” ujar Saeed dalam pernyataannya, Jumat (14/11).

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Menurutnya, Penanaman Modal Asing (PMA) atau Foreign Direct Investment (FDI) terus mengalami percepatan. Dalam tahun 2025, FDI diperkirakan mencapai angka antara US$52 hingga US$57 miliar. Hal ini didukung oleh komitmen besar terhadap hilirisasi mineral, baterai kendaraan listrik, petrokimia, pusat data, hingga manufaktur berat.

“Sektor manufaktur menyumbang sekitar 38 persen hingga 42 persen dari total FDI. Ini menunjukkan adanya pergeseran struktural Indonesia menuju industri bernilai tambah tinggi,” jelasnya.

Saeed menambahkan bahwa manufaktur tetap menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Output industri tumbuh antara 4,5 persen hingga 5,5 persen, didorong oleh peningkatan impor barang modal, pembangunan kawasan industri baru, serta diversifikasi rantai pasok dari Asia Timur.

Selain itu, proses hilirisasi nikel, tembaga, dan bauksit memperkuat ekspor bernilai tambah, sekaligus membangun dasar industrialisasi jangka panjang.

“Pasar keuangan memperkuat narasi ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mendapatkan dukungan arus masuk investor asing, didukung oleh kinerja emiten yang solid dan likuiditas domestik yang tangguh. Cadangan devisa tetap tinggi, yaitu antara US$140 hingga US$145 miliar, memberikan perlindungan kuat terhadap risiko eksternal,” katanya.

Saeed menegaskan bahwa alasan utama Indonesia memasuki 2025 dengan fondasi makroekonomi yang kuat adalah karena "Doktrin Stabilitas Makroekonomi Presiden Prabowo Subianto". Doktrin ini merupakan kombinasi antara kehati-hatian fiskal, kendali inflasi, dan ekspansi industri jangka panjang.

“Pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di kisaran 5,0 persen hingga 5,8 persen, menjadikan Indonesia sebagai salah satu ekonomi dengan kinerja terbaik di Asia,” tuturnya.

Menurutnya, “Doktrin Stabilitas Makro Prabowo” bukan sekadar slogan. Ini adalah arsitektur strategis yang mulai membentuk lintasan baru bagi ekonomi Indonesia.

“Memperkuat fundamental, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memposisikan Indonesia sebagai kekuatan industri baru di Asia,” ujarnya.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi PMA sepanjang Januari hingga September 2025 mencapai Rp644,6 triliun atau sebesar 44,9% dari total investasi pada periode tersebut.

Berikut lima besar subsektor PMA:

  • Industri Logam Dasar, Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya: US$10,8 miliar (26,8%)
  • Pertambangan: US$3,5 miliar (8,8%)
  • Jasa Lainnya: US$3,4 miliar (8,4%)
  • Industri Kimia dan Farmasi: US$2,6 miliar (6,5%)
  • Transportasi Gudang, dan Telekomunikasi: US$2,5 miliar (6,1%)

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan