Palu, Kota yang Menggembirakan: Antara Trotoar Indah dan Kerinduan akan Pohon

admin.aiotrade 26 Okt 2025 3 menit 30x dilihat
Palu, Kota yang Menggembirakan: Antara Trotoar Indah dan Kerinduan akan Pohon
Palu, Kota yang Menggembirakan: Antara Trotoar Indah dan Kerinduan akan Pohon

Kehidupan di Kota Palu yang Berubah

Kota Palu, yang terletak tepat di bawah garis khatulistiwa, memiliki iklim yang sangat panas. Namun, panasnya kota ini bukan hanya soal cuaca. Di era 1980-an ke bawah, Palu dikenal dengan julukan "kota debu" karena udara yang kering dan minimnya vegetasi di lembah yang dikelilingi oleh pegunungan. Tapi seiring waktu berlalu, kota ini mulai menunjukkan wajah baru.

Pasca bencana gempa, tsunami, dan likuefaksi pada tahun 2018, Palu bangkit dengan semangat baru. Pembangunan fisik bisa dilihat di mana-mana. Jalan-jalan utama yang dulu sempit dan berdebu kini terlihat lebih rapi dan indah dengan lampu hias yang menyala cantik di malam hari. Di beberapa sudut kota, mural dan taman kecil menjadi saksi bagaimana Palu mencoba menata kembali citranya.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Namun, di balik wajah modern yang mulai terbentuk itu, ada satu hal yang dirindukan banyak warganya: pepohonan. Jalan-jalan yang kini mulus dengan trotoar kokoh justru terasa gersang. Tempat-tempat yang dulu menjadi titik tumbuh pohon kini telah disemen dan diubah menjadi jalur pejalan kaki yang padat beton.

“Sekarang kalau siang, panasnya luar biasa. Dulu setidaknya ada bayangan pohon,” kata Pramesti, seorang warga yang tinggal di sekitar Jalan Juanda, sambil menunjuk deretan trotoar baru yang tampak bersih namun tanpa hijau daun. Ia mengakui kota memang terlihat lebih rapi, tapi juga terasa lebih kering dan menyengat.

Kondisi ini menjadi paradoks bagi kota yang sedang berbenah. Di satu sisi, pemerintah daerah berupaya menampilkan wajah modern dengan infrastruktur yang tertata. Di sisi lain, keseimbangan ekologis di ruang publik justru berkurang. “Kami ingin hutan kota dan taman RTH terus dikembangkan, tapi jangan lupa pohon di jalan-jalan utama,” ujar Pramesti.

Pemerintah Kota Palu sebenarnya sudah menggagas pembangunan taman dan ruang terbuka hijau di beberapa titik, termasuk di kawasan Talise dan Palu Timur. Namun realisasinya belum menjangkau seluruh kawasan padat. Di tengah urbanisasi yang pesat, ruang untuk menanam pohon sering kali tergusur oleh kepentingan proyek pelebaran jalan atau pembangunan trotoar.

Sementara itu, cuaca Palu yang ekstrem memperparah kondisi tersebut. Dengan suhu yang bisa mencapai 36 derajat Celsius di siang hari, keberadaan pepohonan bukan sekadar elemen estetika, melainkan kebutuhan ekologis. Pohon-pohon mampu menurunkan suhu permukaan hingga beberapa derajat, memberi oksigen, dan menahan debu yang kerap beterbangan di musim kemarau.

Beberapa komunitas warga mencoba mengambil inisiatif sendiri. Mereka menanam pohon di depan rumah, di tepi gang kecil, atau di halaman sekolah. Gerakan kecil ini menjadi bentuk protes senyap terhadap tata kota yang terlalu “keras” pada alam. “Kami hanya ingin Palu tetap hijau,” ujar seorang anggota komunitas hijau lokal, Sahabat Alam Palu.

Kini, Palu berdiri di antara dua pilihan: terus menata diri sebagai kota modern dengan beton dan lampu hias, atau kembali memeluk identitas lamanya sebagai kota yang bersahabat dengan alam. Di bawah matahari yang membakar, warga menatap masa depan kota mereka dengan satu harapan sederhana — agar pohon-pohon kembali tumbuh di tepi jalan, memberi teduh bagi siapa pun yang melintas.

Karena di Palu, keindahan bukan hanya soal cahaya di malam hari, tapi juga tentang bayangan rindang di siang yang terik.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan