Kegiatan Sosial PAN di Palu: Bantu Rakyat, Bukan Sekadar Slogan
Di bawah terik matahari Minggu sore (26/10), halaman sebuah lapangan di jantung Kota Palu berubah menjadi ruang solidaritas. Sekretaris Jenderal DPP Partai Amanat Nasional (PAN), Eko Hendro Purnomo, berdiri di tengah kerumunan warga—ojol, pelaku UMKM, hingga pekerja padat karya—menyodorkan paket-paket pangan sembari tersenyum.
Di sampingnya, ketua DPW PAN Sulteng Syarifuddin Sudding, Ketua Harian DPW PAN Sulteng, dan Ketua DPD PAN Kabupaten Tolitoli, Moh. Besar Bantilan, tampak ikut menyalurkan bantuan, sesekali menepuk bahu penerima dengan hangat. Di belakang panggung sederhana itu, spanduk bertuliskan “PAN Bantu Rakyat” terpasang mencolok, menjadi simbol dari gerakan partai berlambang matahari terbit itu.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Eko Hendro Purnomo, atau yang lebih dikenal publik sebagai Eko Patrio, mengaku bahwa kegiatan sosial ini merupakan bagian dari instruksi langsung Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan. “Kami mendapat amanat untuk turun langsung ke masyarakat. Bukan hanya bicara politik, tapi betul-betul hadir dan bantu rakyat,” katanya kepada wartawan.
Ia menambahkan, rangkaian kegiatan serupa telah digelar di berbagai provinsi. “Kemarin kami di Sulawesi Barat, dan hari ini kami hadir di Sulawesi Tengah dengan semangat yang sama—membantu rakyat,” ujar Eko dengan nada penuh keyakinan.
Politisi yang juga dikenal sebagai komedian itu menjelaskan bahwa PAN ingin mengembalikan makna politik sebagai alat pengabdian. “Jargon ‘PAN Bantu Rakyat’ bukan sekadar slogan. Ini adalah cara kami bekerja. Setiap langkah partai, sekecil apapun, harus berdampak bagi masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua DPD PAN Kabupaten Tolitoli, Moh. Besar Bantilan, menilai langkah yang dilakukan DPW PAN Sulawesi Tengah patut diapresiasi. Ia menyebut bahwa kegiatan ini menjadi inspirasi bagi struktur PAN di kabupaten untuk melakukan hal serupa.
“Kami di Tolitoli akan menyesuaikan dengan langkah nyata seperti ini. Prinsipnya, membantu rakyat tidak boleh berhenti di slogan. Ini harus jadi gerakan bersama dari pusat sampai daerah,” ujar Besar Bantilan.

Besar menambahkan, semangat turun langsung ke masyarakat ini akan menjadi ruh baru bagi PAN di daerah. “Masyarakat hari ini tidak butuh janji, tapi bukti. Dan PAN ingin hadir dengan bukti,” tandasnya.
Kegiatan di Palu itu juga dirangkaikan dengan konsolidasi organisasi PAN se-Sulawesi Tengah yang dihadiri oleh para ketua DPD, kader muda, serta anggota legislatif. Moh. Besar Bantilan datang bersama tiga anggota DPRD Tolitoli yang merupakan kader partai berlambang matahari biru tersebut.
Dalam sesi konsolidasi, Eko Hendro Purnomo menekankan pentingnya menjaga semangat kebersamaan antarstruktur partai. “Soliditas adalah kunci. Kalau kita bersatu, rakyat akan percaya bahwa PAN bukan hanya hadir saat pemilu, tapi setiap saat,” katanya di hadapan kader.
Suasana pertemuan berlangsung hangat. Di sela acara, sejumlah pelaku UMKM tampak mengucapkan terima kasih kepada panitia. “Bantuan ini kecil, tapi sangat berarti. Setidaknya kami merasa diperhatikan,” ujar Siti Aminah, penjual kue kering dari Palu Barat.
Momen penyerahan bantuan itu juga menjadi ajang silaturahmi antara pengurus pusat dan daerah. Di tengah dinamika politik nasional yang terus bergerak, PAN tampak ingin menunjukkan wajah lain dari politik: yang sederhana, menyapa, dan melayani.
“Kalau partai politik tidak lagi dekat dengan rakyat, maka kehilangan rohnya,” tutup Eko Patrio sebelum meninggalkan lokasi acara, disambut tepuk tangan warga yang mengiringi langkahnya.
Dengan langkah semacam ini, PAN berusaha menegaskan bahwa politik, pada akhirnya, adalah soal kepedulian. Di Palu sore itu, jargon “Bantu Rakyat” tidak hanya terdengar di atas panggung—tetapi hidup dalam senyum orang-orang yang menerimanya.