
Perubahan Pola Konsumsi di Kalangan Kelas Menengah Perkotaan
Menghabiskan waktu untuk menonton film di bioskop, berkaraoke, atau berpilates. Bagi Ria, seorang pegawai perusahaan keuangan di Jakarta Selatan, aktivitas-aktivitas ini bukan lagi sekadar hiburan sederhana, melainkan menjadi "bensin" yang membantunya bertahan menghadapi tekanan kerja. Lajang berusia 29 tahun itu menghabiskan antara Rp 3 juta hingga Rp 5 juta per bulan hanya untuk kegiatan rekreasi, belum termasuk biaya makan di restoran dan kopi.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Semua ada jadwalnya,” kata Ria pada Kamis, 11 Desember 2025. Di tahun yang sama, ia sudah berlibur ke Lombok, Bali, Belitung, bahkan hingga Hong Kong dan Singapura. Ia juga sempat menonton konser Maroon 5 dengan tiket jutaan rupiah. “Saya pantau promo tiket pesawat atau hotel supaya dapat harga murah,” ujarnya, menggambarkan bagaimana aktivitas yang dulunya dianggap tersier ini kini diatur dan dianggarkan dengan cermat, seolah menjadi kebutuhan primer baru.
Ria hanyalah salah satu wajah dari jutaan kelas menengah perkotaan yang mengubah prioritas belanja. Di tengah ritme kota yang kian melelahkan dan ketidakpastian ekonomi, rekreasi dan hiburan telah bertransformasi menjadi ruang bernapas dan eskapisme.
Digitalisasi dan Eskapisme Pascakrisis
Pergeseran pola konsumsi ini bukan sekadar keputusan personal, melainkan gejala kolektif yang makin menguat sejak 2024. Data dari Center of Economic and Law Studies (Celios) menunjukkan tren tersebut secara gamblang. Pada 2020, porsi konsumsi rumah tangga untuk hiburan dan rekreasi berada di angka 29,77 persen. Empat tahun kemudian, angka itu melonjak menjadi 32,38 persen. Sebaliknya, porsi kebutuhan pokok turun dari 70,23 persen menjadi 67,62 persen.
Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira Adhinegara, menyebut perubahan ini mulai terasa pasca-pandemi Covid-19. “Gairah masyarakat untuk kembali bepergian, menghadiri festival, konser, meningkat cukup pesat,” tuturnya. Bhima menambahkan, selain faktor revenge spending, tekanan hidup dan ketidakpastian ekonomi-politik juga mendorong masyarakat mencari pelarian. “Konsumsi hiburan jadi jalan keluar atau eskapisme,” ujarnya.
Pengaruh Generasi Milenial dan Gen Z
Mandiri Institute menangkap gejala serupa. Mandiri Spending Index mencatat, konsumsi berbasis pengalaman menembus level 206, jauh melampaui belanja barang yang hanya 114, menandakan pergeseran preferensi yang signifikan. Kelompok milenial dan Gen Z, yang merupakan 53,81 persen dari total populasi, menjadi pelaku dominan dalam pola konsumsi ini.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengamini adanya tren tersebut. Ia menjelaskan, pergeseran konsumsi ke "belanja pengalaman" ini mulai menguat pada 2024, didorong oleh dua faktor utama: “Salah satu pemicunya adalah digitalisasi dan penggunaan media sosial yang makin masif,” kata Josua pada Rabu, 10 Desember 2025. Media sosial menciptakan status sosial baru di mana pengalaman yang dibagikan dinilai lebih berharga daripada kepemilikan materi.
Kajian global dari firma konsultan seperti McKinsey dan Deloitte memperkuat pandangan ini. Survei Deloitte terhadap Gen Z dan milenial global pada 2024-2025 menemukan kedua generasi tersebut lebih mengutamakan kesejahteraan, tujuan hidup, fleksibilitas, serta pengalaman sosial yang bermakna, ketimbang status materi.
Dampak pada Sektor Tradisional
Perubahan preferensi ini juga berdampak pada sektor tradisional. “Penurunan tingkat penjualan properti dan otomotif tahun ini mengindikasikan pergeseran pola konsumsi itu, selain faktor penurunan daya beli,” tutur Josua. Meskipun tren ini paling terasa pada kelas menengah-atas perkotaan, potensi pasar yang besar ini telah menempatkan Experience Economy—atau ekonomi sensasi/rekreasional—sebagai motor pertumbuhan baru yang vital bagi perekonomian nasional.