
Tantangan Pembiayaan Festival Musik di Indonesia
Pengelola festival musik di Indonesia menyadari bahwa sektor ini masih sangat bergantung pada sponsor sebagai sumber pendanaan utama. Tahun ini, beberapa penyelenggara mengalami kesulitan dalam mencari sponsor karena banyak perusahaan memilih untuk menunggu dan melihat situasi terlebih dahulu.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
David Karto, Direktur Festival Synchronize Fest, menjelaskan bahwa di festival-festival internasional, sekitar 80 hingga 90 persen dari perputaran ekonomi berasal dari penonton, baik itu dari penjualan tiket, merchandise, maupun transaksi makanan dan minuman. Namun, kondisi ini berbeda dengan yang terjadi di Indonesia.
“Di Indonesia, sponsorship menjadi tulang punggung,” kata David kepada Tempo ketika ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Selasa, 9 Desember 2025.
Meskipun demikian, David menekankan bahwa pengelola tidak menolak sponsorship. Ia justru menilai bahwa pendapatan dari penonton merupakan aspek penting untuk mendukung keberlanjutan industri live event.
David menceritakan bahwa penyelenggaraan festival musik tahun ini cukup tertekan akibat menurunnya daya beli masyarakat. Sponsor pun tidak memberikan kepastian sampai akhir tahun. “Sampai Juli, semua proposal yang kami kirim kepada siapa pun dijawab ‘Kami pelajari dulu, terima kasih’, dan tidak ada follow-up,” ujarnya.
Ferry Dermawan, pendiri Plainsong Live, memiliki pandangan serupa. Ia berpendapat bahwa secara ideal, pembiayaan festival musik seharusnya independen dari sponsorship. Menurut Ferry, kehadiran sponsor belum tentu memberikan nilai tambah terhadap pengalaman yang ingin disajikan oleh penyelenggara acara.
Secara umum, Ferry menyatakan bahwa industri pertunjukan musik di Indonesia masih belum berkembang. Ia juga menyoroti kurangnya dukungan yang diberikan pemerintah untuk sektor ini. “Jadi cita-cita untuk menjadi independen itu memang masih panjang, karena masih sangat bergantung dengan banyak pihak,” katanya kepada Tempo pada Senin, 8 Desember 2025.
Dalam laporan Majalah Tempo edisi 14 Desember 2025 berjudul “Festival Musik 2026: Sesak Penonton, Senyap Sponsor”, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adinegara mengatakan bahwa animo generasi Z terhadap konser dan pertunjukan musik lintas genre masih kuat. Berdasarkan hitungan Celios, nilai ekonomi subsektor seni pertunjukan berpotensi mencapai Rp 540 miliar pada 2026 sebagai bagian dari ekspansi ekonomi sensasi yang diproyeksikan tumbuh pesat di berbagai kategori.
Namun, Bhima mengingatkan bahwa tantangan utama tahun depan adalah keterbatasan sponsor dari kalangan swasta. Hal itu berkorelasi dengan melemahnya industri yang selama ini menjadi penyandang dana utama. “Penjualan rokok menurun dan itu berpengaruh ke sponsorship,” ujarnya.
Oleh karena itu, Bhima menyarankan promotor untuk memperluas sumber pendanaan di luar pola lama. Ia menyebut sejumlah sektor, bisa menjadi mitra potensial, mulai dari peralatan olahraga, kosmetik, hingga energi terbarukan. Di luar korporasi, ia juga mencermati tren peningkatan dukungan lembaga swadaya masyarakat untuk membiayai konser bertema lingkungan, sosial, atau inklusivitas.
Caesar Akbar berkontribusi dalam penulisan artikel ini.