Pandangan: Membangun Ekosistem Pemberdayaan Ekonomi

admin.aiotrade 10 Des 2025 4 menit 13x dilihat
Pandangan: Membangun Ekosistem Pemberdayaan Ekonomi


aiotrade,
JAKARTA - Indonesia saat ini sedang berada pada persimpangan penting dalam upaya mengentaskan kemiskinan. Angka kemiskinan ekstrem menunjukkan adanya perbaikan yang signifikan.

Per Maret 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa persentase angka kemiskinan ekstrem sebesar 0,85% dari total penduduk, yang setara dengan 2,38 juta jiwa. Angka ini menunjukkan penurunan sebanyak 1,18 juta orang dibandingkan posisi Maret 2024. Capaian ini merupakan langkah penting dalam memperkuat perekonomian nasional. Namun, jumlah tersebut masih tergolong besar dan tidak bisa dianggap sebagai "selesai".

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Kita sadari bahwa ada sektor yang secara nyata menjadi mesin sosial-ekonomi untuk menahan dan mengangkat jutaan jiwa dari garis kemiskinan, yaitu UMKM. Jumlahnya mencapai puluhan juta unit usaha dan menyumbang lebih dari separuh perekonomian nasional. UMKM bukan sekadar data statistik. Mereka adalah lapangan kerja, sumber pendapatan rumah tangga, dan jaringan ekonomi lokal yang nyata dan berdampak. Karena itu, aspek pemberdayaan ekonomi berkelanjutan melalui ekosistem yang tangguh harus terus diperkuat, khususnya bagi pelaku UMKM.

Di sisi lain, selama ini sering tanpa kita sadari, pemberdayaan masyarakat utamanya di bidang ekonomi dilakukan belum secara holistik. Kita punya banyak program yang niatnya sangat baik, namun masing-masing berjalan di jalurnya sendiri. Akibatnya, sering kali stimulus tersebut hanya memberikan “pertolongan” sesaat dengan pendekatan karitatif (charity).

Perlu skema yang solid untuk memastikan pemberdayaan ekonomi masyarakat benar-benar dijalankan secara holistik dengan sumber daya yang optimal, serta hasil yang berkelanjutan. Tujuannya, masyarakat dan pelaku UMKM yang diberdayakan bisa mandiri, ‘lepas’ dari ketergantungan stimulus yang bersifat karitatif pada masa depan.

Untuk itu, cara berpikir terkait pemberdayaan ekonomi perlu diubah secara fundamental. Salah satunya melalui program terintegrasi guna membangun ekosistem yang lebih kuat. Membaca kondisi tersebut, Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) mendorong Program Perintis Berdaya. Ini bukan sekadar program baru yang menambah daftar panjang bantuan.

Perintis Berdaya diinisiasi Kemenko PM sejak awal 2025 berdasarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2025 tentang Optimalisasi Pelaksanaan Pengentasan Kemiskinan dan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem. Dalam konteks pemberdayaan, Kemenko PM menjadikan amanat Peraturan Presiden No.146/2024 sebagai landasan untuk mengejawantahkan target pencapaian Asta Cita dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025—2029.

Tujuan utama Perintis Berdaya adalah memberdayakan masyarakat untuk mereduksi kemiskinan ekstrem di Indonesia, dengan target 0% kemiskinan ekstrem pada 2026. Perintis Berdaya hadir sebagai sebuah platform untuk menghubungkan semua titik pemberdayaan yang selama ini terpisah. Ini menjadi upaya konkret dan langkah strategis untuk membangun ekosistem pemberdayaan ekonomi masyarakat yang lebih resilien.

LANGKAH KONKRET

Lalu, seperti apa bentuk pemberdayaan terintegrasi yang menjadi solusi dari Perintis Berdaya? Program ini ditopang dengan kinerja lima pilar utama. Pertama, Berdaya Bersama. Pilar ini berfokus pada sinkronisasi model pendampingan, modul pelatihan berbasis kebutuhan, serta inkubasi dan mentoring di sektor usaha strategis.

Dengan metode modern, memadukan teori dan praktik lewat konsep seperti bootcamp, hingga melibatkan mentor ahli dan praktisi agar terjadi dialog dua arah yang memperkaya pemahaman pelaku usaha. Melalui Berdaya Bersama diharapkan terbangun ekosistem pendampingan dan pelatihan yang inklusif dan terstandar bagi pelaku UMKM, koperasi, ekonomi kreatif dan PMI.

Pilar kedua, Berdaya Berusaha. Pilar ini fokus membangun ekosistem yang lengkap. Mulai dari akses terhadap bahan baku yang terjangkau, adopsi teknologi dalam proses produksi, akses pembiayaan yang sehat, strategi pemasaran omni-channel, hingga tata niaga untuk menembus pasar global. Tak lupa juga kemudahan terhadap akses percepatan fasilitasi Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) dan legalitas usaha.

Berdaya Berusaha hadir sebagai ekosistem yang mendorong usaha lokal naik kelas sehingga meningkatkan produktivitas usaha masyarakat.

Pilar ketiga, Berdaya Finansial. Pilar ini dirancang memberikan terobosan bagi pelaku usaha untuk mendapatkan pembiayaan, solusi akses terhadap modal usaha. Kerja sama dengan lembaga keuangan pengucur modal usaha perlu dibangun. Penilaian kelayakan kredit bagi wirausaha tidak lagi hanya berdasarkan aset, tapi juga potensi usaha, kesehatan keuangan, dan legalitasnya secara holistik. Untuk itu wirausaha didukung oleh pendampingan intensif dan Sistem Informasi Data Terpadu (SIDT).

Dampak yang diharapkan adalah risiko kredit macet berkurang, akses pembiayaan lebih luas, UMKM naik kelas, tenaga kerja terserap optimal, hingga pertumbuhan ekonomi nasional yang tangguh dan berkelanjutan.

Pilar keempat, Berdaya Global. Pilar ini untuk mempersiapkan talenta Indonesia agar siap bersaing di pasar kerja internasional, melalui pelatihan menyeluruh dan standarisasi tata kelola pekerja migran. Peran Balai Latihan Kerja (BLK) akan diperkuat, materi orientasi pra-penempatan lebih relevan, serta mendorong sistem yang adil, transparan, dan menjunjung tinggi perlindungan hak pekerja.

Pilar kelima, Berdaya Talenta. Dalam aspek ini kebutuhan sumber daya manusia harus disinkronisasi melalui penyesuaian kurikulum dan standar kompetensi yang selaras arah industri. Kami mendorong penyediaan layanan manajemen SDM untuk pencarian talenta yang tepat.

Keberhasilan Perintis Berdaya dalam memperkuat pemberdayaan bukan pekerjaan pemerintah semata. Ini gotong royong Pentahelix yang melibatkan multi stake-holders. Dengan komitmen bersama dan implementasi serius, Perintis Berdaya bisa menjadi jembatan dari potensi UMKM menuju reduksi kemiskinan yang nyata.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan