
Demonstrasi Mahasiswa Papua: Kekerasan Militer Mengancam Keamanan Warga Sipil
Mahasiswa dan aktivis masyarakat sipil di Tanah Papua terus menggelar aksi demonstrasi untuk menyuarakan kekecewaan mereka terhadap tindakan aparat keamanan yang dinilai tidak manusiawi. Dalam acara "Papua Darurat Militer dan Kemanusiaan" yang digelar di Lingkaran Abepura, Kota Jayapura, Senin (27/4/2026), banyak pernyataan keras disampaikan oleh para peserta.
Jarinus Murib, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Papua, menjadi salah satu pembicara utama dalam aksi tersebut. Ia menyoroti kasus penembakan yang menewaskan seorang anak berusia 5 tahun di Distrik Kembru, Kabupaten Puncak. Menurutnya, pelaku penembakan harus segera ditangkap dan diadili sesuai hukum yang berlaku.
"Aparat militer melakukan operasi harus diusut dan diadili sesuai dengan hukum berlaku di negara ini," tegas Jarinus. Ia juga mengkritik pihak berwenang yang dinilai memutarbalikkan fakta terkait operasi militer yang dilakukan.
"Jangan membalikkan fakta di media itu tidak boleh. Kami tahu di negara Indonesia ini salah itu dibenarkan dan benar itu disalahkan," ujarnya. Jarinus menegaskan bahwa kehadiran militer di Tanah Papua hanya memperparah konflik, sehingga warga sipil tidak bisa hidup aman dan damai.
Menurutnya, musuh utama dari TNI dan Polri adalah Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB). Namun, ia menegaskan bahwa TPNPB bukanlah warga sipil, melainkan kelompok bersenjata yang bertentangan dengan pemerintah.
"Kehadiran TNI warga sipil bisa hidup damai. Kalau ada TNI rakyat tidak bisa beraktivitas bebas. Kalian lawan dengan TPNPB itu boleh tetapi jangan membunuh warga sipil tidak tahu apa-apa," tegas Jarinus.
Harapan Rakyat Papua untuk Hidup Damai
Prio Wakerkwa, mahasiswa dari Universitas Cendrawasih (Uncen), juga turut menyampaikan pernyataannya. Ia menegaskan bahwa rakyat Papua ingin hidup damai di tanah airnya sendiri, bukan mengalami pembunuhan yang terjadi di mana-mana.
"Kami hidup di tanah ini. Tuhan kasih tanah ini bukan di Jakarta. Kami akan mati di Papua tetapi ingin hidup damai bukan dapat bunuh seperti binatang," ujarnya.
Prio menegaskan bahwa meskipun tidak memiliki kekuatan besar untuk melawan negara, ia percaya bahwa kekuatan Tuhan akan membalas semua kejahatan yang terjadi di Tanah Papua.
Ia mendesak Panglima TNI untuk segera menarik pasukan dari Kabupaten Puncak, Puncak Jaya, Tolikara, dan seluruh wilayah Tanah Papua. Ia juga menyampaikan bahwa dirinya adalah utusan dari pengungsi yang turun di Puncak Jaya.
"Saya tidak bisa melawan negara yang besar saya tidak punya kekuatan saya hanya punya Tuhan akan membalas segala kejahatan dilakukan oleh aparat di negara ini," ujarnya.
Tantangan Masa Depan Tanah Papua
Aksi demonstrasi ini menunjukkan bahwa masalah di Tanah Papua tidak hanya terbatas pada konflik bersenjata, tetapi juga melibatkan isu kemanusiaan dan hak asasi manusia. Banyak warga sipil yang menjadi korban dari tindakan aparat keamanan yang dinilai tidak proporsional.
Dalam beberapa bulan terakhir, situasi di wilayah ini semakin memprihatinkan, dengan laporan-laporan tentang penembakan, penganiayaan, dan pengungsian massal. Para aktivis dan mahasiswa berharap agar pemerintah dan aparat keamanan lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat setempat.
Meski begitu, tantangan untuk menciptakan perdamaian dan keamanan di Tanah Papua masih sangat besar. Diperlukan komitmen dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, militer, dan masyarakat sipil, untuk mencari solusi yang adil dan berkelanjutan.