
Tren Pasar Barang Mewah dan Eksotis di Tengah Perubahan Kondisi Ekonomi
Pasar barang mewah atau segmen eksotis kini menghadapi berbagai tantangan. Dalam beberapa tahun terakhir, minat kolektor semakin menurun, sementara kondisi makroekonomi yang tidak stabil juga memengaruhi permintaan pasar. Meski demikian, sejumlah indikator menunjukkan bahwa pasar ini masih memiliki potensi untuk berkembang, meskipun dengan pergeseran tren yang signifikan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Perkembangan Pasar Global
Berdasarkan riset Bain & Company bersama Altagamma pada November 2025, pasar barang mewah dan eksotis global tetap stabil meskipun menghadapi gejolak makroekonomi. Pengeluaran konsumen di seluruh dunia diperkirakan mencapai €1,44 triliun pada tahun 2025, setara dengan Rp 28.112 triliun. Angka ini secara umum stagnan dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, ada pergeseran dalam preferensi konsumen. Banyak dari mereka lebih memilih membeli pengalaman mewah daripada barang-barang mewah tradisional seperti mobil, tas kulit, atau seni rupa. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan penurunan permintaan terhadap karya seni rupa dan barang berbahan kulit.
Tren di Pasar Lokal
Di Indonesia, pengelola Balai Lelang Sidharta Auctioneer Amir Sidharta menyampaikan bahwa penjualan karya seni rupa dalam lelang belum banyak meningkat sepanjang tahun 2025. Namun, ia mengamati bahwa pertunjukan dan pasar seni rupa di Indonesia terus berkembang, terlihat dari banyaknya pameran dan fair seni seperti Art Jog, Art Jakarta, Art Moments, dan Art Subs di Surabaya.
Amir juga menyebutkan bahwa lelang Sotheby’s dan Christie’s mencatat rekor baru pada bulan November dan Desember 2025. Hal ini diharapkan dapat memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap pasar seni rupa di Indonesia.
Kolektor dan Investasi
Menurut Amir, peminat barang investasi eksotis seperti seni rupa dan lukisan kini tidak sebesar rumah mewah maupun perhiasan. Namun, ia yakin bahwa seni rupa masih memiliki potensi sebagai investasi alternatif karena nilai ekuitasnya yang tinggi, serta potensi keuntungan yang besar dan risiko yang relatif terukur.
Direktur Ruci Art Bima Rio Pasaribu mengungkapkan bahwa penjualan di dua pameran seni terakhir turun sekitar 40%. Ia juga menyebutkan bahwa pertumbuhan jumlah kolektor baru tidak secepat pada tahun 2023–2024. Menurut Rio, hal ini sejalan dengan fakta bahwa seni rupa eksotis kini tidak lagi menjadi tujuan utama untuk berinvestasi.
Dengan perkembangan era digital dan hadirnya AI, banyak kolektor muda merasa bahwa seniman akan menghadapi tantangan baru dalam menciptakan karya seni yang benar-benar unik dan berbeda dari apa yang bisa dihasilkan oleh AI.
Permintaan Tas Mewah
Kolektor tas mewah Rita Efendy menyampaikan bahwa permintaan pasar tas mewah di Indonesia kini tidak setinggi beberapa tahun lalu. Konsumen lebih berhati-hati dan selektif dalam menilai nilai tas mewah.
Model tas klasik dan timeless, serta desain simpel tanpa logo yang terlalu menonjol (quiet luxury), kini lebih diminati. Selain itu, ada banyak tren yang sedang diminati, seperti gaya bucket bag, carryall, atau shoulder bag tertentu.
Harga tas kulit mewah cenderung tetap tinggi karena bahan materialnya dan prestise merek. Namun, ke depannya, tas luxury masih menarik, terutama bagi kolektor items. Orang akan lebih rasional dalam membeli, fokus pada kualitas, langka, dan nilai jual kembali.
Prospek Pasar Seni Rupa
CEO Pi-eX Christine Bourron dalam riset Knight Frank Luxury Investment Index Madrid Special Autumn 2025 menyatakan bahwa pasar seni rupa memang terus melemah. Dalam Pi-eX Auction Market Index (AMI), pendapatan lelang publik di Christie’s, Sotheby’s, dan Phillips turun tajam dari puncaknya pada Februari 2023 sebesar US$ 14 miliar menjadi hanya US$ 8 miliar pada akhir Agustus 2025.
Meskipun total pasar lelang publik menyusut sejak 2023, masih ada sejumlah lelang yang mencetak rekor. Contohnya, karya lukisan Gustav Klimt berjudul Portrait of Elisabeth Lederer yang berhasil terjual di Sotheby’s New York pada 18 November 2025 senilai US$ 236,4 juta. Ini menjadikannya lukisan kedua termahal secara keseluruhan, serta yang termahal untuk kategori seni modern dalam sejarah lelang.