Pasar Modal Kemarin: IHSG Turun, Investor Asing Lakukan Penjualan Net

admin.aiotrade 12 Nov 2025 3 menit 13x dilihat
Pasar Modal Kemarin: IHSG Turun, Investor Asing Lakukan Penjualan Net
Pasar Modal Kemarin: IHSG Turun, Investor Asing Lakukan Penjualan Net

Pergerakan Pasar Saham dan Kinerja Korporasi

Pergerakan pasar saham domestik pada hari Selasa, 11 November 2025, ditandai oleh pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada penutupan perdagangan, IHSG turun sebesar 0,29% menjadi 8.366,52 dari posisi sebelumnya di level 8.391,24. Nilai transaksi harian mencatatkan angka yang tinggi, yaitu sebesar Rp27,48 triliun, lebih besar dari rata-rata nilai transaksi harian sebesar Rp16,71 triliun.

Di sisi lain, investor asing tercatat melakukan tekanan jual dengan net sell sebesar Rp648,43 miliar pada hari tersebut. Secara akumulatif, penjualan bersih oleh investor asing telah mencapai total Rp38,56 triliun sejak awal tahun. Hal ini menunjukkan adanya ketidakpastian dalam investasi asing terhadap pasar modal Indonesia.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Di pasar valuta asing, nilai tukar Rupiah mengalami depresiasi berdasarkan kurs Bloomberg. Rupiah turun ke level Rp16.689 per USD dari sebelumnya Rp16.654 per USD. Perubahan ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan internal, termasuk kondisi perekonomian global dan kebijakan moneter nasional.

Perkembangan Kebijakan dan Proyek Infrastruktur

Beberapa kebijakan dan proyek infrastruktur dalam negeri dilaporkan mengalami perkembangan signifikan:

  • Penjualan Ritel: Indeks Penjualan Riil (IPR) untuk Oktober 2025, yang dilaporkan oleh Bank Indonesia (BI), tumbuh sebesar 4,3% secara tahunan (yoy) dan 0,6% secara bulanan (mom). Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya penjualan makanan-minuman serta barang rekreasi.

  • IKN: Enam kontrak pembangunan tahap II senilai lebih dari Rp1 triliun telah ditandatangani oleh Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN). Kontrak-kontrak ini mencakup proyek jalan kawasan legislatif dan lima paket manajemen konstruksi gedung pemerintahan.

  • Insentif Fiskal: Alokasi Dana Insentif Fiskal (DIF) sebesar Rp300 miliar telah ditetapkan oleh Menteri Keuangan (Menkeu) bagi daerah dengan kinerja terbaik dalam penurunan stunting. Ketentuan ini diatur melalui KMK No. 330/2025.

  • Utang Kereta Cepat: Tim restrukturisasi utang Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) telah dibentuk oleh pemerintah untuk mempersiapkan negosiasi dengan Tiongkok. Skema pembayaran, termasuk opsi penggunaan harta rampasan koruptor dan pelibatan APBN melalui PSO, masih dikaji pemerintah.

  • Proyek Peternakan: Proyek peternakan ayam senilai Rp20 triliun sedang dikaji oleh BPI Danantara guna mendukung Program MBG mulai Januari 2026. Proyek ini dikritik karena dinilai berisiko membebani Danantara dan peternak kecil.

Sorotan Kinerja Korporasi

Perkembangan dari beberapa emiten di pasar modal juga menjadi sorotan, terutama laporan kinerja kuartal III-2025:

  • GOTO: Isu terkait rencana merger dengan Grab ditepis oleh GOTO, di mana ditegaskan bahwa belum ada keputusan atau kesepakatan yang dicapai. Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) 17 Desember 2025 dipastikan tidak terkait aksi korporasi apa pun.

  • ITMG: Laba bersih per September 2025 dibukukan sebesar USD130,58 juta, yang dilaporkan turun 52,17% secara tahunan (yoy). Penurunan ini dipicu oleh harga jual batubara yang melemah meskipun volume penjualan meningkat.

  • CPRO: Kenaikan laba bersih sebesar 24,59% secara tahunan (yoy) dicatatkan, mencapai Rp426,73 miliar per September 2025. Kenaikan ini ditopang oleh pertumbuhan penjualan dan efisiensi beban keuangan.

  • LPKR: Laba bersih per kuartal III-2025 dicatat sebesar Rp368,19 miliar, turun tajam 98,03% secara tahunan (yoy). Penurunan drastis ini disebabkan oleh tidak berulangnya keuntungan besar dari transaksi penjualan entitas yang terjadi pada tahun sebelumnya.

  • SMMT: Laba bersih per September 2025 dicatatkan sebesar USD3,89 juta, naik 106,91% secara tahunan (yoy). Peningkatan ini didukung oleh lonjakan penjualan hingga 241,74% secara tahunan (yoy) di tengah meningkatnya aktivitas produksi.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan