Kondisi Pasar dan Pengaruh terhadap Industri Nikel
Pasar nikel global yang lesu dan anjloknya harga memengaruhi utilitas smelter dalam negeri. Kondisi ini menyebabkan penyerapan bijih nikel domestik menjadi tidak optimal. Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) mengungkapkan bahwa pemangkasan produksi oleh sejumlah smelter telah menyebabkan stockpile nikel menumpuk.
Dewan Penasihat APNI Djoko Widajatno menjelaskan, permasalahan tersebut dapat dilihat dari kuota produksi bijih nikel yang disetujui pemerintah pada 2025 mencapai 364 juta ton, sementara serapan masih di kisaran 120 juta ton. "Namun, penyerapan oleh industri, khususnya smelter, lebih rendah dari kuota tersebut hingga pertengahan tahun ini," kata Djoko.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Djoko menyebutkan, setidaknya terdapat empat smelter yang menurunkan produksi sehingga penyerapan bijih nikel domestik hanya berkisar 120 juta ton hingga saat ini. Keempat smelter itu yakni, PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) yang mengurangi 15-20 lini produksi nikel sejak awal tahun 2024. Sepanjang tahun lalu, tercatat 28 smelter ditutup di berbagai wilayah, paling banyak dari PT GNI. Lalu, PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS) yang menghentikan beberapa lini baja nirkarat dan jalur cold rolling sejak Mei 2025. Selanjutnya, PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) di Konawe yang mengurangi kapasitas produksi, meski datanya tidak menyebutkan jumlah lini spesifik. Terakhir, PT Huadi Nickel Alloy Indonesia (HNAI) yang disebut telah mengurangi kapasitas agregat dan menghentikan operasional sementara sejak 15 Juli 2025.
“Sampai hari ini belum ada perubahan informasi mengenai peningkatan produksi dari keempat smelter tersebut,” tutur Djoko. Menurut Djoko, penyerapan aktual oleh smelter mungkin tidak cukup untuk menggunakan seluruh stockpile yang ada. Apalagi, belakangan beberapa perusahaan smelter juga mengimpor bijih nikel dari Filipina.

Tekanan Harga dan Pasar
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut bahwa penumpukan stok bijih nikel yang tak terserap oleh smelter tak lepas dari kondisi pasar global. Sekretaris Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Sesditjen Minerba) Kementerian ESDM Siti Sumilah Rita Susilowati mengamini penumpukan stockpile bijih nikel di beberapa lokasi tambang lantaran kondisi global dan beberapa smelter yang berhenti beroperasi. Adapun, berhentinya beberapa smelter itu terjadi akibat harga nikel yang sedang anjlok seiring melemahnya permintaan.
"Perlu kami sampaikan bahwa dinamika tersebut erat kaitannya dengan kondisi pasar global dan harga nikel yang saat ini cenderung melemah. Dalam situasi harga rendah, sebagian smelter dapat memilih melakukan penyesuaian atau penghentian operasi sementara sebagai keputusan bisnis," jelas Siti.
Menurut Siti, untuk isu stockpile, pada prinsipnya risiko terkait fluktuasi harga komoditas dan kondisi pasar menjadi tanggung jawab pelaku usaha. Namun demikian, pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM tetap melakukan langkah pengaturan produksi secara berkala. Siti menyebut, hal ini dilakukan agar keseimbangan supply–demand di dalam negeri tetap terjaga dan kegiatan pertambangan berjalan secara berkelanjutan.
Lebih lanjut, Siti juga menyoroti potensi menumpuknya stockpile bijih nikel terhadap penerimaan negara. Dia mengatakan, pihaknya saat ini masih memantau karena penerimaan sangat dipengaruhi oleh realisasi produksi, penyerapan oleh smelter, serta harga jual mineral.
"Pemerintah terus memastikan bahwa proses usaha tetap sesuai koridor regulasi dan optimal dari sisi penerimaan negara," imbuh Siti. Sementara itu, untuk peta jalan hilirisasi, pemerintah telah menegaskan bahwa hilirisasi mineral merupakan kebijakan jangka panjang.
Bukan Gangguan Serius
Sementara itu, Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) menilai penumpukan bijih nikel di pertambangan maupun fasilitas pemurnian bukan merupakan tanda adanya gangguan serius dalam industri. Ketua Umum FINI Arif Perdanakusumah mengatakan, kondisi penumpukan stockpile merupakan bagian normal dari operasional penambangan dan pengolahan.
“Itu bagian dari perencanaan tambang, proses pencampuran, keberlanjutan produksi, serta memastikan suplai tidak terputus dari tambang ke smelter atau refinery,” ujar Arif. Menurut Arif, laporan mengenai penumpukan bijih nikel imbas penghentian atau pengurangan produksi smelter hanya terjadi di lokasi tertentu dan bukan gambaran umum industri.
Terkait dampaknya terhadap hilirisasi, Arif menegaskan bahwa pasokan bijih nikel justru merupakan aspek paling krusial untuk menjaga keberlanjutan industri hilir, baik yang berbasis pirometalurgi maupun hidrometalurgi. “Kesulitan pasokan dan kelangkaan bijih nikel dapat sangat berdampak secara operasional dan memicu kenaikan biaya produksi,” katanya.
Di samping itu, Arif juga menepis anggapan bahwa kondisi stockpile saat ini berpotensi membuka kembali keran ekspor bijih nikel. Dia menegaskan bahwa larangan ekspor yang berlaku sejak Januari 2020 merupakan kebijakan strategis yang harus dipertahankan.
“Kebijakan larangan ekspor harus terus dilanjutkan. Keberhasilan program hilirisasi nikel sepenuhnya bergantung pada kestabilan regulasi,” tuturnya. Bagi pengusaha pemurnian, komitmen jangka panjang terhadap hilirisasi menjadi kunci untuk menjaga nilai tambah di dalam negeri serta memperkuat daya saing industri nikel nasional.
Sebelumnya, FINI memproyeksikan kondisi oversupply atau kelebihan pasokan nikel akan berlanjut hingga 2027. Hal ini seiring dengan pasar stainless steel yang diperkirakan baru akan pulih 2 tahun ke depan. Arif mengatakan, oversupply nikel ditandai dengan peningkatan kapasitas produksi hingga 5 kali lipat dalam 5 tahun terakhir. Dalam catatannya, kapasitas produksi nikel saat ini mencapai 2,5 juta ton. Adapun, penggunaannya didominasi untuk stainless steel 70% dan baterai 15%. Arif menyebut, oversupply nikel masih akan terjadi pada tahun depan lantaran kondisi perekonomian dunia yang membuat pasar masih lesu. Sementara itu, pada 2027, dia melihat oversupply mulai susut menyeimbangkan demand atau permintaan. Dari 2027, pihaknya memperkirakan mulai terjadi defisit antara kebutuhan dan produksi eksisting untuk penggunaan stainless steel.