Pasar Oka: Jantung Ekonomi yang Terabaikan Pemerintah Flores Timur

admin.aiotrade 24 Okt 2025 3 menit 16x dilihat
Pasar Oka: Jantung Ekonomi yang Terabaikan Pemerintah Flores Timur

Kritik terhadap Fokus Pemerintah Kabupaten Flores Timur

Pemerintah Kabupaten Flores Timur dianggap tidak fokus dalam menjalankan perannya sebagai pengelola sumber daya ekonomi masyarakat. Salah satu contohnya adalah Pasar Oka, yang seharusnya menjadi pusat kegiatan perekonomian masyarakat. Namun, pasar ini justru dibiarkan terbengkalai dan tidak terurus selama bertahun-tahun. Banyak fasilitas seperti ruko dan lapak-lapak permanen tidak digunakan dan mulai ditumbuhi rumput ilalang.

Padahal, Pasar Oka merupakan titik penting dalam perputaran uang di wilayah tersebut. Sayangnya, pemerintah lebih memilih mengalokasikan dana untuk sektor pariwisata, meskipun dampaknya belum terlihat secara signifikan.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Dana Besar untuk Festival Pariwisata, Tapi Pendapatan Rendah

Salah satu contoh dari alokasi dana besar untuk sektor pariwisata adalah "Festival Bale Nagi" yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Flores Timur. Acara ini mendapat dana sebesar Rp425.000.000 dari Dana Alokasi Umum (DAU). Namun, laporan realisasi semester pertama tahun 2025 menunjukkan bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata masih rendah, hanya mencapai sekitar Rp26.000.000. Hal ini memicu evaluasi dari DPRD setempat.

Sementara itu, pendapatan dari Pasar Oka jauh lebih tinggi. Data menunjukkan bahwa retribusi Pasar Oka pada 23 Oktober 2025 mencapai Rp34.710.500. Angka ini lebih besar dibandingkan pendapatan dari sektor pariwisata, namun kondisi pasar tersebut justru semakin memprihatinkan.

Kondisi Pasar Oka yang Memperihatinkan

Pasar Oka yang seharusnya menjadi pusat aktivitas perdagangan kini terlihat sangat rusak. Minimnya Tempat Pembuangan Sampah (TPS) menyebabkan sampah berserakan di mana-mana. Ruko dua lantai yang dibiarkan tak terurus menjadi momok buruk saat melintas di depan pasar. Bahkan tiga lapak permanen di belakang pasar sudah mulai ditumbuhi rerumputan.

Awak media PR NTT, pada Kamis kemarin 23 Oktober 2025, mengkonfirmasi Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Perdagin), Siprianus Sina Ritan. Ia mengungkapkan bahwa pihaknya telah merencanakan renovasi ruko di Pasar Oka. Namun, karena keterbatasan anggaran, renovasi ruko rusak belum bisa dilakukan.

Tahun ini, APBD perubahan telah dialokasikan untuk perbaikan saluran drainase saja. Data kerusakan ruko yang ada di pasar itu sudah teridentifikasi. Sementara itu, lapak atau los bagian belakang yang masih layak tetapi sekarang kosong dan tidak ditempati oleh pedagang.

Menurut Kepala Dinas Perdagin, "Los kosong disebabkan karena kurangnya jumlah pedagang yang berminat menjual dagangannya di Pasar Oka. Semua pedagang menginginkan tempat jualan mereka di bagian depan sehingga terkesan pasarnya luas tetapi banyak tempat yang kosong, tidak ada aktivitas jual beli."

Alokasi Dana yang Tidak Sebanding dengan Potensi Pasar

Alokasi dana untuk Pasar Oka di Desa Lamawalang tahun 2025 hanya sebesar Rp150.000.000. Dana tersebut hanya digunakan untuk pembuatan drainase pasar. Padahal, pendapatan dari retribusi Pasar Oka jauh lebih besar dibandingkan pendapatan dari sektor pariwisata yang sering menggelar even-even namun dampak dan pendapatannya jarang dipublikasi dan diketahui masyarakat.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah perlu lebih memprioritaskan pengelolaan pasar sebagai sumber pendapatan utama masyarakat, bukan hanya fokus pada sektor pariwisata yang dampaknya belum terlihat secara nyata.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan