
aiotrade, JAKARTA — Harga emas mengalami pergerakan yang tidak menentu setelah mencatatkan kenaikan selama tiga hari berturut-turut. Hal ini terjadi karena para pelaku pasar sedang menantikan rilis data ekonomi setelah pemerintah AS kembali beroperasi pasca penutupan (shutdown) terpanjang dalam sejarah.
Berdasarkan data Bloomberg, harga emas di pasar spot turun 0,5% menjadi US$4.104,45 per troy ons pada pukul 13.43 waktu Singapura, Rabu (12/11/2025). Pergerakan ini menunjukkan bahwa investor mulai mempertimbangkan kembali posisi mereka setelah reli yang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Selain itu, data ketenagakerjaan swasta di AS menunjukkan tanda-tanda pelemahan di pasar tenaga kerja Negeri Paman Sam. Hal ini meningkatkan kemungkinan pemangkasan suku bunga lebih lanjut oleh Bank Sentral AS (The Fed). Meskipun demikian, pasar tetap waspada karena shutdown AS yang telah berlangsung lebih dari 40 hari tampaknya akan segera berakhir.
Tanda-tandanya sudah terlihat setelah Senat AS menyetujui paket pengeluaran sementara yang didukung oleh delapan senator Demokrat moderat. Dengan demikian, pembukaan kembali pemerintahan di AS kini bergantung pada DPR AS yang dikuasai Partai Republik. Mereka berencana kembali ke Washington hari ini untuk mempertimbangkan proposal tersebut.
Gerak harga emas belakangan ini juga turun dari rekor tertingginya yang dicapai bulan lalu ketika tembus US$4.380 per troy ons. Penurunan ini disebabkan oleh investor yang mengambil untung setelah reli tajam yang dianggap terlalu cepat dan berlebihan.
Namun, kenaikan harga emas yang sudah lebih dari 55% sepanjang tahun ini masih berada di jalur untuk mencatat kinerja tahunan terbaik sejak 1979. Hal ini didorong oleh sejumlah faktor termasuk peningkatan pembelian oleh bank sentral.
Hebe Chan, Analis Vantage Markets di Melbourne, menyatakan bahwa kenaikan harga emas baru-baru ini di atas US$4.100 mencerminkan keresahan yang lebih dalam di balik optimisme umum terhadap pembukaan kembali pemerintahan AS. "Dampak berkepanjangan dari penutupan pemerintahan terpanjang dalam sejarah AS kemungkinan meninggalkan jejak yang kuat, menjaga permintaan aset lindung nilai seperti emas tetap tinggi meskipun suasana pasar global cenderung positif," ujarnya.
Charu Chanana, Kepala Strategi Investasi di Saxo Markets di Singapura, menambahkan bahwa emas kemungkinan akan mengalami konsolidasi lebih lanjut sebelum kembali menguat pada tahun 2026. "Kita mungkin akan melihat pergeseran aliran dana di pasar saham AS, dari aset yang sudah jenuh beli seperti emas dan saham-saham terkait AI, menuju sektor-sektor yang sebelumnya kurang diminati," tambahnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. aiotrade tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.