Pasaran Saham RI Dianggap Kuat Hadapi Kebijakan Trump

admin.aiotrade 06 Okt 2025 3 menit 15x dilihat
Pasaran Saham RI Dianggap Kuat Hadapi Kebijakan Trump


aiotrade.app
JAKARTA – Kondisi shutdown pemerintah Amerika Serikat (AS) yang berlangsung selama lima hari terakhir, akibat gagalnya Senat menyetujui RUU belanja tahunan pada Selasa (30/9/2025), kini mulai memicu ketidakpastian di pasar global. Hal ini juga mengundang kekhawatiran akan dampaknya terhadap pasar saham Indonesia.

Menurut EKky Topan, Investment Analyst dari Infovesta Utama, dampak langsung dari shutdown AS terhadap pasar saham Indonesia dinilai netral. Menurutnya, situasi seperti ini bukan hal baru dalam dinamika politik dan anggaran AS. Pelaku pasar global sudah sejak lama memperhitungkan skenario ini.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Selain itu, EKky menyatakan bahwa pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini tidak menunjukkan reaksi signifikan yang terkait langsung dengan shutdown AS. Fokus investor lebih tertuju pada faktor-faktor domestik. IHSG hari ini ditutup menguat 0,27% dan mencapai level all time high baru yaitu 8.139.

Meski demikian, EKky menegaskan bahwa meskipun shutdown AS mungkin memberikan sedikit tekanan pada sentimen global, faktor utamanya bukanlah shutdown itu sendiri, melainkan bagaimana ketidakpastian ini memperpanjang antisipasi investor terhadap arah suku bunga The Fed yang masih belum pasti. Dalam konteks Indonesia, sentimen domestik tetap menjadi penggerak utama.

Dalam sepekan terakhir, pasar saham Indonesia mencatat net sell asing sebesar Rp3,10 triliun, berbeda dengan pekan sebelumnya yang mencatat net buy asing sebesar Rp5,09 triliun. Ekky menilai bahwa minimnya aliran dana asing ke pasar saham Indonesia saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor internal, seperti pelemahan nilai tukar rupiah yang cukup dalam sejak akhir kuartal III, serta ketidakpastian arah kebijakan fiskal pasca-reshuffle kabinet.

Investor asing cenderung berhati-hati dalam menambah eksposur, menunggu kejelasan arah kebijakan fiskal pemerintah baru serta implementasi dari stimulus likuiditas dan belanja negara.

Di sisi lain, Imam Gunadi, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT), menyampaikan bahwa pasar saham Indonesia dalam pekan ini akan dihadapkan dengan sentimen global berupa kekhawatiran government shutdown di AS yang berpotensi merugikan ekonomi. Menurutnya, di tengah situasi fiskal AS yang tegang, pasar memproyeksikan probabilitas 96,2% The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps).

Di tengah situasi tersebut, pelaku pasar akan menyoroti beberapa agenda penting dari The Federal Reserve, termasuk pidato dari dua pejabatnya, Raphael Bostic dan Michelle Bowman, serta rilis FOMC Minutes pada 8 Oktober.

Selain itu, investor juga menanti data Initial Jobless Claims (9 Oktober) untuk mencari petunjuk mengenai arah suku bunga, terutama sinyal pelonggaran kebijakan moneter di tengah tren pelemahan ekonomi.

Sedangkan sentimen dari dalam negeri, pekan ini ada banyak rilis data kunci, mulai dari posisi cadangan devisa Bank Indonesia yang diumumkan 7 Oktober yang mengukur ketahanan eksternal, data penjualan ritel pada 9 Oktober, hingga data penjualan motor dan mobil pada 9–10 Oktober.

Rangkaian data ini sangat penting karena akan memberikan gambaran kekuatan konsumsi rumah tangga dan daya beli masyarakat kelas menengah, yang merupakan katalis utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di akhir tahun.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan