
Zona Kerentanan Menengah di Kecamatan Rongga, Bandung Barat
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menetapkan wilayah Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, sebagai zona kerentanan menengah terhadap gerakan tanah. Penetapan ini dilakukan setelah adanya peristiwa longsor yang terjadi di Desa Cinengah pada 26 Oktober 2025, yang menewaskan satu orang dan merusak sejumlah bangunan.
Pelaksana Harian Kepala Badan Geologi, Priatin Hadi Wijaya menjelaskan bahwa bencana di Kampung Pasirbuleud, Desa Cinengah, merupakan jenis gerakan tanah rotasional. “Gerakan tanah di lokasi tersebut dipicu oleh curah hujan tinggi yang menyebabkan akumulasi air pada bidang kontak antara tanah pelapukan dan batulempung. Akibatnya, daya ikat tanah berkurang dan material bergerak menuruni lereng,” ujar Priatin dalam laporan tertulisnya, Kamis 6 November 2025.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Secara morfologi, lokasi bencana berada di perbukitan berlereng curam dengan kemiringan 17 hingga 24 derajat. Namun, pada area longsor, kemiringan mencapai 33 derajat akibat pemotongan lereng untuk pembangunan pondok pesantren.
Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, batuan di lokasi terdiri atas tanah pelapukan setebal 1–2 meter berwarna kemerahan yang di bawahnya terdapat lapisan batulempung berwarna coklat muda sebagai bidang gelincir. “Faktor utama penyebab longsor di antaranya pemotongan lereng yang terlalu curam, kondisi geologi yang labil, dan sistem drainase permukaan yang buruk. Selain itu, curah hujan tinggi dengan durasi lama menjadi pemicu utama terjadinya gerakan tanah,” kata Priatin.
Ia menambahkan, area terdampak memiliki elevasi 944–974 meter di atas permukaan laut dan berada dalam zona potensi menengah untuk kejadian gerakan tanah.
Dalam laporan tersebut, Badan Geologi juga menyebutkan dampak bencana meliputi satu korban meninggal dunia, satu bangunan hancur, empat bangunan rusak, serta satu bangunan lain terancam. Sejumlah lahan pertanian di sekitar lereng juga turut terdampak akibat material longsoran.
Sebagai langkah mitigasi, Badan Geologi merekomendasikan agar bangunan yang rusak tidak digunakan kembali dan masyarakat terdampak direlokasi sementara ke lokasi yang lebih aman. “Pemotongan lereng tidak boleh dilakukan sembarangan tanpa perkuatan teknis, dan masyarakat di sekitar lokasi longsor perlu mewaspadai potensi longsoran susulan,” tutur Priatin.
Ia juga menegaskan pentingnya sosialisasi kepada warga agar memahami gejala-gejala awal gerakan tanah. “Kesadaran masyarakat menjadi faktor penting dalam upaya mitigasi bencana geologi, terutama di wilayah dengan potensi gerakan tanah menengah seperti Kecamatan Rongga,” ujarnya.
Bantuan Darurat untuk Warga Terdampak
Sementara itu, pemerintah Kecamatan Rongga meminta bantuan pangan kepada Pemerintah Kabupaten Bandung Barat setelah bencana alam terus melanda wilayah itu akibat cuaca buruk belakangan ini. Bencana membuat warga Cipongkor terpaksa mengungsi demi keselamatan jiwanya.
"Sementara pihak kecamatan meminta bantuan logistik ke dinas terkait, seperti BPBD, Dinsos, dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian," kata Camat Rongga Ilman Suherlan saat dihubungi, Kamis 6 November 2025. Dari informasi yang diperoleh Ilman, petugas tim verifikasi dari Dinas Ketahanan Pangan akan mendatangi lokasi bencana di Rongga, Jumat 7 November 2025. Pemerintah Kecamatan Rongga juga menyurati Bupati Jeje Ritchie Ismail perihal usulan permohonan penyaluran Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) Amanah pada Selasa 4 November 2025.
Ilman meminta bantuan beras bagi warga Rongga yang terdampak bencana. Jumlah warga yang terdampak longsor dan pergeseran tanah tersebar di sejumlah desa, yakni Sukamanah, Cinengah, Bojong, Cibitung, Sukaresmi. Rincian jumlah warga terdampak, yaitu Sukamanah 64 keluarga, Cinengah 15 keluarga, Bojong 3 keluarga, Cibitung 1 keluarga, Sukaresmi 2 keluarga.
Peristiwa bencana alam terakhir terjadi di wilayah Kampung Neundeut, Desa Sukamanah. Sebanyak 51 rumah di kampung tersebut terancam pergerakan tanah. Puluhan warga pun mengungsi akibat kejadian itu.
Ilman mengungkapkan, pemerintah kecamatan telah menempuh langkah antisipasi menghadapi pergerakan tanah itu. "Mengimbau agar warga masyarakat terdampak mengungsi ke tempat aman, mereka ngungsi ke rumah sanak familinya tidak jauh dari lokasi yaitu ke RW 10 kampung Hegarmanah dan yang lain di Kampung Dangdeur RW 09," ucapnya.