Pasokan berlebih tekan harga energi

admin.aiotrade 09 Des 2025 2 menit 16x dilihat
Pasokan berlebih tekan harga energi

Pergerakan Harga Komoditas Energi di Tengah Dinamika Pasokan dan Cuaca

Harga komoditas energi terus mengalami perubahan yang beragam, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti sentimen pasokan global dan kondisi cuaca yang berbeda-beda. Pergerakan ini mencerminkan ketidakstabilan pasar yang terus berlangsung.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Menurut data dari Trading Economics pada Selasa (9/12/2025) pukul 19.05 WIB, harga minyak mentah WTI naik sebesar 0,46% menjadi US$ 59,15 per barel dalam satu hari. Sementara itu, harga gas alam mengalami penurunan sebesar 2,11% menjadi US$ 4,80 per MMBtu. Meskipun kenaikan WTI terjadi, tekanan fundamental dari potensi surplus pasokan global masih sangat kuat.

Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menjelaskan bahwa proyeksi surplus signifikan dari International Energy Agency (IEA) hingga 2026 serta revisi prospek surplus kuartal III oleh OPEC+ menjadi faktor utama yang memengaruhi harga. Di samping itu, pemulihan produksi ladang minyak West Qurna-2 Irak turut meningkatkan pasokan ke pasar global. Sementara itu, Arab Saudi menurunkan harga jual minyak ke Asia, yang menunjukkan lemahnya permintaan regional.

Di sisi lain, penurunan harga gas alam yang sempat mendekati 7% disebabkan oleh prediksi cuaca hangat yang mengurangi kebutuhan pemanasan di Amerika Serikat. Kondisi ini diperparah oleh produksi gas yang mencapai rekor tertinggi dan tingkat inventaris yang 5,1% lebih tinggi dari rata-rata musiman.

Perkembangan di Tahun 2026

Menjelang awal 2026, pergerakan energi akan dipengaruhi oleh tarik-menarik antara surplus pasokan dan faktor geopolitik. Sentimen bearish tetap muncul dari prospek kelebihan pasokan minyak global dan melimpahnya gas alam AS. Namun, risiko geopolitik seperti konflik Rusia–Ukraina dan potensi pemangkasan suku bunga The Fed memberikan ruang bagi sentimen positif.

Kebijakan OPEC+ yang menahan kenaikan produksi kuartal I-2026 juga akan menjadi faktor yang membatasi pasar. "Sentimen bullish didukung oleh risiko geopolitik dan potensi kenaikan permintaan energi pasca pemotongan suku bunga oleh The Fed," kata Sutopo.

Proyeksi Harga di Masa Depan

Untuk prospek ke depan, minyak WTI diperkirakan masih menghadapi tren melemah karena tekanan surplus pasokan yang besar. Sutopo menilai laporan EIA dan OPEC+ selanjutnya akan menjadi panduan penting bagi pasar. Sementara itu, prospek gas alam sangat ditentukan oleh tingkat keparahan musim dingin. Harga gas dinilai akan tetap rentan melemah, kecuali jika terjadi cuaca dingin ekstrem.

Sutopo memperkirakan harga WTI akan berada di rentang US$ 50–US$ 60 per barel hingga awal 2026, sementara harga gas alam bergerak di kisaran US$ 5,00–US$ 5,40 per MMBtu. Perkembangan ini menunjukkan bahwa pasar energi akan tetap sensitif terhadap berbagai faktor eksternal, termasuk politik, iklim, dan kebijakan ekonomi global.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan