Pasokan Tersendat, Industri Semen Butuh 14 Juta Ton Batubara Tahun 2026

Pasokan Tersendat, Industri Semen Butuh 14 Juta Ton Batubara Tahun 2026

aiotrade.CO.ID JAKARTA
Industri semen di dalam negeri, baik perusahaan yang dimiliki oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun swasta, membutuhkan batubara sebagai bahan bakar utama sepanjang tahun ini dengan jumlah maksimal 14 juta ton.

Kebutuhan batubara itu berkisar antara 12,5 hingga 14 juta ton per tahun. Ini mencakup seluruh perusahaan, ujar Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (ASPERSSI), Lilik Unggul Raharjo dalam acara Halal Bi Halal ASPERSSI di Jakarta, Selasa (14/4/2026).

Namun, saat ini industri semen menghadapi tantangan dalam mendapatkan pasokan batubara. Salah satu penyebabnya adalah ketidakpastian produksi dari para penambang karena masih menunggu pengesahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batubara tahun 2026.

Perusahaan BUMN sempat kesulitan mendapatkan batubara karena RKAB belum keluar. Mereka bisa membeli dari pasar, tetapi harga yang diberikan bukanlah harga Domestic Market Obligation (DMO), jelas Lilik.

Sementara itu, perusahaan swasta masih mampu melakukan produksi dengan mengambil pasokan batubara dari pasar, meskipun harganya lebih tinggi dibandingkan harga DMO.

Ini menjadi tantangan, ada aturan DMO, tetapi mereka membeli harga pasar yang lebih mahal. Yang justru bisa bertahan adalah perusahaan swasta karena mereka mampu membeli dari pasar, meskipun harganya lebih tinggi dari DMO, tambahnya.

Meski begitu, kenaikan harga batubara akan berdampak pada biaya produksi yang meningkat, sehingga otomatis akan memicu kenaikan harga semen.

Akhirnya, mau tidak mau harga semen harus naik, ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, industri semen nasional juga menghadapi tantangan struktural berupa kelebihan kapasitas. Utilisasi yang rendah membuat efisiensi menjadi isu penting yang harus segera diatasi. Menurut ASPERSSI, efisiensi menjadi hal krusial untuk meningkatkan daya saing industri.

Namun, di balik tekanan jangka pendek, industri mulai bergerak menuju strategi jangka panjang yang berfokus pada keberlanjutan. ASPERSI telah menyusun peta jalan dekarbonisasi dengan target emisi nol bersih pada tahun 2050.

Dalam roadmap ASPERSI, kita menargetkan net zero emission pada 2050 melalui beberapa langkah pathway, kata Lilik.

Beberapa langkah yang disiapkan antara lain:
Peningkatan penggunaan bahan bakar alternatif seperti biofuel dan energi terbarukan.
Penerapan teknologi pengurangan emisi karbon dioksida (CO?) dalam proses produksi.
* Pengembangan sistem manajemen lingkungan yang lebih efektif.

Selain itu, ASPERSSI juga berkomitmen untuk terus bekerja sama dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya dalam mendorong inovasi dan transformasi industri semen menuju keberlanjutan.

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan industri semen dapat tetap bertahan dan berkembang di tengah tantangan ekonomi dan lingkungan yang semakin kompleks.