Paus Leo XIV Tidak Ingin Berdebat dengan Trump Soal Iran

Paus Leo XIV Tidak Ingin Berdebat dengan Trump Soal Iran
Paus Leo XIV Tidak Ingin Berdebat dengan Trump Soal Iran

Paus Leo XIV Tegaskan Pesan Perdamaian Tanpa Mengarah ke Trump

Paus Leo XIV menegaskan bahwa pesan perdamaian yang disampaikannya tidak ditujukan kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, melainkan sebagai bagian dari ajaran Injil yang ingin mendorong dialog dan harmoni di seluruh dunia. Hal ini disampaikan oleh Paus saat berada dalam pesawat kepausan yang terbang dari Kamerun ke Angola, sebagai bagian dari kunjungan 11 hari ke Afrika.

Ada narasi tertentu yang tidak sepenuhnya akurat, tetapi hal itu disebabkan oleh situasi politik yang tercipta ketika, pada hari pertama perjalanan, Presiden Amerika Serikat memberikan beberapa komentar tentang saya. Sebagian besar tulisan sejak saat itu lebih berupa komentar atas komentar, mencoba menafsirkan apa yang telah dikatakan, kata Paus Leo XIV, Sabtu (18/4/2026).

Sebelumnya, Donald Trump meluncurkan kritik terhadap Paus Leo XIV melalui media sosialnya pada Minggu (12/4/2026). Ia mengkritik khotbah Paus tentang perdamaian ketika perang AS-Iran masih berkecamuk. Trump menuduh Paus Leo bersikap lunak terhadap kejahatan, akrab dengan kaum kiri, dan mengatakan bahwa Paus Amerika pertama itu berutang atas terpilihnya ia menjadi Paus. Sebelumnya, perang AS-Israel dengan Iran dimulai sejak serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026).

Paus Leo secara konsisten menyerukan perdamaian dan dialog, serta mengecam penggunaan pembenaran agama untuk perang. Secara khusus, ia menyebut ancaman Trump untuk memusnahkan peradaban Iran merupakan pernyataan yang benar-benar tidak dapat diterima. Vatikan menekankan bahwa ketika Paus Leo berkhotbah tentang perdamaian, ia merujuk pada semua perang yang melanda planet ini, bukan hanya konflik Iran. Gereja Ortodoks Rusia, misalnya, yang membenarkan invasi Moskow ke Ukraina sebagai perang suci.

Pernyataan Paus Leo XIV yang Terlebih Dahulu Disampaikan

Berbicara kepada wartawan pada Sabtu, Paus Leo XIV secara khusus merujuk pada pernyataannya pada awal pekan ini di sebuah pertemuan perdamaian di Bamenda, Kamerun. Kota tersebut adalah pusat konflik separatis yang telah berkecamuk di wilayah barat selama hampir sepuluh tahun.

Paus Leo mengatakan bahwa pernyataannya yang mengecam segelintir tiran yang menghancurkan Bumi dengan perang dan eksploitasi ditulis dua pekan lalu, jauh sebelum kritik terhadap Trump dimulai.

Namun kenyataannya, hal itu dipandang seolah-olah saya mencoba berdebat melawan presiden, yang sama sekali bukan kepentingan saya, katanya.

Ke depannya, ia mengatakan tetap akan terus menyampaikan pesan-pesan Injil. Saya datang ke Afrika terutama sebagai seorang pastor, sebagai kepala Gereja Katolik untuk bersama, merayakan bersama, mendorong, dan mendampingi semua umat Katolik di seluruh Afrika, lanjutnya.

Ia menyinggung bacaan Kitab Suci yang akan dibahas dalam misa, yang berisi ajaran tentang bagaimana menjadi orang Kristen yang baik, hidup rukun, serta menjalin persaudaraan. Ia juga menekankan pentingnya mendorong keadilan dan perdamaian di dunia.

Respons Wakil Presiden JD Vance

Dalam unggahan media sosial pada Sabtu, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan ia berterima kasih atas komentar Paus. "Saya berterima kasih kepada Paus Leo karena telah mengatakan ini. Meskipun narasi media terus-menerus memicu konflik, dan ya, perselisihan nyata telah terjadi dan akan terjadi, kenyataannya seringkali jauh lebih rumit," kata wakil presiden dalam unggahan tersebut.

"Paus Leo memberitakan Injil, sebagaimana seharusnya, dan itu pasti berarti dia akan menyampaikan pendapatnya tentang isu-isu moral saat ini. Presiden, dan seluruh pemerintahan, berupaya menerapkan prinsip-prinsip moral tersebut di dunia yang kacau ini," tambah Vance.

"Dia akan selalu ada dalam doa kami, dan saya berharap kami juga akan ada dalam doanya," lanjutnya.

Ketika ditanya tentang mengenai komentar Trump, Paus Leo mengatakan bahwa ia tidak takut pada pemerintahan Trump, maupun berbicara lantang tentang pesan Injil.

Itulah yang saya yakini. Saya dipanggil untuk melakukan apa yang gereja dipanggil untuk lakukan, kata Paus Leo, dilansir dari ABC News, Minggu (19/4/2026).

Kunjungan ke Angola

Paus Leo tiba di Angola pada Sabtu sore, pemberhentian ketiga dalam tur empat negaranya. Pesan perdamaian akan sangat relevan bagi negara Afrika bagian selatan yang dilanda perang saudara selama 27 tahun yang berakhir pada tahun 2002 tetapi telah meninggalkan luka yang dalam.

Paus Leo akan bertemu dengan Presiden Angola Joao Lourenco dan menyampaikan pidato pertamanya di hadapan para pejabat pemerintah. Ia berharap dapat membawa kegembiraan dan semangat kepada rakyat Angola yang telah lama menderita.