
Di Balik Artis Dunia.CO.ID - JAKARTA.
PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID) akan membagikan dividen tunai sebesar Rp 397,5 miliar dari laba bersih tahun buku 2025. Angka ini setara dengan Rp 53 per saham.
Direktur PT Panca Budi Idaman Tbk, Lukman Hakim, menjelaskan bahwa keputusan tersebut telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perusahaan.
Menyetujui penggunaan laba bersih Perseroan untuk tahun buku 2025 yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 400,58 miliar, ujar Lukman di Jakarta, Jumat (8/5/2026).
Dari total laba bersih tersebut, sebesar Rp 397,5 miliar ditetapkan sebagai dividen tunai. Sementara Rp 3 miliar dialokasikan sebagai cadangan untuk memenuhi ketentuan Undang-Undang Perseroan Terbatas dan sisanya dibukukan sebagai saldo laba ditahan.
Selama tahun 2025, PBID membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 400,58 miliar. Raihan tersebut turun 17,40% dibandingkan laba bersih tahun 2024 sebesar Rp 484,97 miliar.
Sementara itu, penjualan PBID pada tahun 2025 turun tipis 0,95% secara tahunan dari Rp 5,24 triliun menjadi Rp 5,19 triliun. Penjualan perusahaan masih ditopang oleh segmen kemasan plastik senilai Rp 3,44 triliun, disusul penjualan biji plastik sebesar Rp 1,41 triliun dan segmen lain-lain sebesar Rp 332,67 miliar.
Dari sisi pemasaran, pasar domestik masih menjadi kontributor utama pendapatan perseroan. Penjualan lokal kepada pihak ketiga tercatat sebesar Rp 4,58 triliun dan kepada pihak berelasi senilai Rp 461,07 miliar. Sementara penjualan ekspor berkontribusi Rp 147,47 miliar.
Direktur Utama PT Panca Budi Idaman Tbk, Vicky Taslim, menjelaskan bahwa penurunan kinerja pada tahun lalu dipengaruhi oleh tren penurunan harga biji plastik sepanjang tahun 2025.
Sepanjang tahun 2025 harga biji plastik itu cenderung terkoreksi. Jadi memang penjualannya turun, tapi profit tetap kami jaga, jelasnya.
Meski demikian, PBID tetap optimistis terhadap prospek bisnis tahun ini. Perseroan menargetkan peningkatan pendapatan usaha sebesar 10% pada tahun 2026.
Menurut Vicky, kondisi ekonomi Indonesia diharapkan dapat memberikan sentimen positif terhadap pertumbuhan industri consumer goods sehingga berdampak pada peningkatan kebutuhan consumer packaging.
Selain membidik pertumbuhan penjualan, PBID juga menargetkan net profit margin di kisaran 8%10% dan debt to equity ratio (DER) sebesar 15%20% pada tahun ini.
Strategi Perusahaan untuk Meningkatkan Kinerja
PBID memiliki beberapa strategi untuk meningkatkan kinerja perusahaan di masa mendatang. Salah satu fokus utama adalah memperkuat posisi di pasar domestik. Dengan mengandalkan segmen kemasan plastik yang masih menjadi tulang punggung penjualan, perusahaan berupaya mempertahankan pangsa pasar yang telah terbentuk.
Selain itu, PBID juga berencana untuk meningkatkan efisiensi operasional guna menjaga profitabilitas. Dengan adanya tekanan harga biji plastik yang terus berlangsung, perusahaan harus lebih waspada dalam mengelola biaya produksi.
Perusahaan juga berkomitmen untuk mematuhi regulasi yang berlaku, termasuk dalam hal alokasi cadangan laba. Hal ini dilakukan agar perusahaan tetap stabil dan siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
Tantangan dan Peluang di Tahun Ini
Tahun 2026 membawa tantangan baru bagi PBID, terutama dalam menghadapi dinamika pasar dan fluktuasi harga bahan baku. Namun, peluang juga terbuka lebar, terutama jika kondisi ekonomi nasional terus membaik.
Dengan target pertumbuhan pendapatan sebesar 10%, PBID berharap bisa mencapai angka yang diinginkan melalui inovasi produk dan penguasaan pasar. Selain itu, perusahaan juga akan fokus pada pengembangan portofolio bisnis yang lebih beragam.
Kepemimpinan dan Visi Jangka Panjang
Kepemimpinan PBID, baik dari Direktur maupun Direktur Utama, menunjukkan komitmen kuat untuk menjaga stabilitas perusahaan. Visi jangka panjang mereka adalah menjadi salah satu perusahaan terkemuka di industri kemasan dan plastik.
Dengan visi yang jelas dan strategi yang matang, PBID berharap dapat terus berkembang dan memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham serta masyarakat luas.