
aiotrade, JAKARTA — Performa saham-saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam indeks LQ45 jauh tertinggal dibandingkan indeks utama, yaitu indeks harga saham gabungan (IHSG), serta indeks saham lapis kedua atau IDX SMC Liquid.
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks LQ45 masih berada di zona hijau, namun kenaikannya hanya sebesar 3,17% sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd) hingga perdagangan kemarin, Senin (15/12/2025). Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan IHSG yang menguat 22,17% ytd dan IDX SMC Liquid yang naik 15,75%.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, menyatakan bahwa indeks LQ45 yang terdiri dari 45 saham berkapitalisasi besar masih memiliki ruang untuk mengejar ketertinggalan menjelang akhir tahun.
"Pergerakan pasar beberapa minggu terakhir lebih didominasi oleh saham mid dan small caps. Namun, ketika likuiditas asing kembali masuk, rotasi ke big caps biasanya akan menguat," ujar Ekky kepada Bisnis beberapa waktu lalu.
Beberapa saham big caps seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI), PT Astra International Tbk. (ASII), PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM), serta emiten energi besar berpotensi mendapatkan aliran dana menjelang window dressing. Hal ini karena kapitalisasi besar menjadi prioritas utama bagi investor institusi.
Selain itu, pemangkasan suku bunga The Fed juga memberikan dampak signifikan terhadap arus dana asing ke Indonesia. Dengan biaya modal global yang lebih rendah, aset emerging markets seperti Indonesia menjadi lebih menarik.
"Dalam 1–2 bulan ke depan, saya melihat peluang aliran dana asing kembali meningkat, terutama jika rupiah stabil dan outlook penurunan suku bunga Bank Indonesia di semester I/2026 semakin kuat," tambah Ekky.
Menurutnya, saham-saham kelas kedua di IDX SMC Liquid kemungkinan tetap bergerak. Namun, kontribusi penggerak IHSG menjelang akhir tahun biasanya kembali didominasi oleh big caps.
Sementara itu, Associate Director Pilarmas Investindo Maximilianus Nicodemus mengatakan potensi saham-saham big caps untuk mengejar ketertinggalan pada akhir tahun tetap ada. Meskipun demikian, tren yang sudah terjadi dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa saham small dan mid caps lebih berpeluang mengalami kenaikan karena harganya yang lebih murah dan volatilitas yang lebih tinggi.
"Di sisi lain, saham-saham big caps berpotensi mengalami kenaikan, tapi sayangnya masih terbatas," ujar Nicodemus.
Berikut adalah beberapa faktor yang memengaruhi kinerja pasar saham di Indonesia:
- Pergerakan pasar: Beberapa minggu terakhir lebih didominasi oleh saham mid dan small caps. Namun, ketika likuiditas asing kembali masuk, rotasi ke big caps biasanya akan menguat.
- Pemangkasan suku bunga The Fed: Memengaruhi arus dana asing ke Indonesia. Biaya modal global yang lebih rendah membuat aset emerging markets seperti Indonesia lebih menarik.
- Window dressing: Saat menjelang akhir tahun, banyak investor institusi mencari saham big caps sebagai tujuan utama.
- Volatilitas saham: Saham small dan mid caps memiliki volatilitas yang lebih tinggi, sehingga lebih berpotensi mengalami kenaikan.
Dengan berbagai faktor tersebut, investor perlu memantau perkembangan pasar secara berkala dan melakukan analisis yang mendalam sebelum mengambil keputusan investasi.
Catatan Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. aiotrade tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.