Peluang Saham Konglomerasi Masuk Indeks MSCI
Beberapa emiten konglomerasi seperti BREN, RAJA hingga BRPT dinilai memiliki peluang besar untuk masuk dalam daftar indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada periode rebalancing November 2025. Hal ini didasarkan pada performa harga yang menguat tajam, disertai peningkatan kapitalisasi pasar dan bobot dalam indeks.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama, menjelaskan bahwa saham-saham yang berpotensi masuk dalam MSCI cenderung menunjukkan kenaikan signifikan baik dari sisi market cap maupun market weighting. Menurutnya, emiten-emiten yang berhak masuk ke MSCI Index di November nanti adalah yang mengalami kenaikan signifikan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Nafan menuturkan bahwa saham-saham berbasis konglomerasi mendominasi daftar kandidat potensial karena mencatatkan reli harga yang konsisten dalam jangka menengah. Beberapa di antaranya yakni PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK), PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA), dan PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU).
Selain itu, Nafan turut menyoroti potensi PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) yang tengah menunjukkan tren kenaikan harga saham atau uptrend sejak kuartal ketiga tahun ini. Ia menyatakan bahwa penguatan harga saham di kelompok emiten tersebut mencerminkan peningkatan kepercayaan investor terhadap penerapan tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG).
“Kenaikan harga saham ini merefleksikan seberapa kuat komitmen emiten-emiten konglomerasi dalam menerapkan good corporate governance. Hal tersebut tentunya menjadi daya tarik bagi investor global,” ujarnya.
Lebih lanjut, Nafan menjelaskan bahwa keberadaan saham dalam indeks MSCI memiliki arti penting karena menjadi acuan utama bagi manajer investasi global dalam membentuk portofolio. Dari sisi teknikal, dia menambahkan bahwa sebagian besar saham-saham yang disebutkan telah mencapai target harga yang ditetapkan sebelumnya.
“Rata-rata secara teknikal sudah berhasil mencapai target price dengan baik,” katanya.
Di lantai Bursa hingga penutupan perdagangan Jumat (10/10), saham BRPT melonjak 365,22% year to date (YtD), sedangkan BREN menguat 6,20%. Sementara itu, saham EMTK melesat 189,63% YtD, RAJA naik 108,64% YtD, dan RATU meningkat 107,81% dalam enam bulan terakhir.

Di sisi lain, sejumlah analis menilai bahwa rebalancing MSCI periode November 2025 tidak hanya akan berdampak pada saham individu, tetapi juga berpotensi memengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara keseluruhan.
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi, mengatakan bahwa pihaknya melihat rebalancing MSCI pada November 2025 berpotensi menjadi salah satu pendorong utama penguatan IHSG. Ia menilai bahwa tren dan potensi masuknya konstituen konglomerasi menjadi pendorong penguatan IHSG dibandingkan dengan emiten bobot besar, seperti keuangan.
Audi menjelaskan, mengacu pada rebalancing Agustus 2025, biasanya muncul spekulasi atau front running oleh investor menjelang periode cut-off. Ia mencontohkan, penguatan pada konstituen baru saat itu, yakni DSSA dan CUAN, yang masing-masing menguat sekitar 87% dalam tiga bulan terakhir.
Selain itu, arus masuk (inflow) modal asing ke dalam dua saham tersebut juga signifikan, masing-masing sebesar Rp270 miliar untuk DSSA dan Rp1,64 triliun untuk CUAN.
“Pada rebalancing November 2025, kami melihat berdasarkan data terakhir (7/10/2025), yang memenuhi kriteria MSCI seperti free float dengan market cap lebih dari US$1,8 juta, free float lebih dari 15%, dan likuiditas transaksi harian, maka belum ada yang memenuhi untuk [kriteria] indeks global,” jelasnya.
Meski demikian, Audi mencatat terdapat peluang masuknya saham-saham seperti SSIA dan BRMS dalam kategori small cap atau saham dengan kapitalisasi kecil, seiring meningkatnya likuiditas transaksi harian dan free float market cap.
Adapun analis Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi dan Brandon Boedhiman, juga memperkirakan arah serupa, dengan menyoroti kemungkinan masuknya sejumlah saham baru dalam daftar MSCI Indonesia.
Samuel Sekuritas memperkirakan BREN dan BRMS berpotensi masuk ke dalam MSCI Indonesia Big Cap, seiring langkah BREN menambah free float untuk memenuhi kriteria indeks global. Sementara itu, untuk BRMS, Samuel Sekuritas menilai reli saham hingga menembus level Rp800 per saham berpotensi mendorong kenaikan statusnya dari MSCI Small Cap Index ke MSCI Global Standard Index.
Di sisi lain, PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) berisiko dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index lantaran free-float adjusted market cap (FFMC) turun di bawah US$1,2 miliar.