
Tantangan dan Peluang di Sektor Batubara Tahun 2026
Pemerintah Indonesia sedang mempertimbangkan opsi pengetatan Domestic Market Obligation (DMO) batubara pada tahun 2026. Kebijakan ini dinilai akan memberikan tekanan terhadap kinerja perusahaan tambang batubara, mengingat rencana pemangkasan produksi nasional dan tren harga global yang masih melemah.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Kemungkinan Peningkatan Porsi DMO
Dalam wacana tersebut, pemerintah berencana meningkatkan porsi DMO dari total produksi batubara menjadi lebih dari 25% pada 2026. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana kebijakan tersebut akan diterapkan dan apakah akan seimbang bagi semua perusahaan tambang. Harry Su, Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, menyatakan bahwa kenaikan porsi DMO bisa berdampak negatif terhadap profitabilitas emiten sektor batubara seperti:
- ADRO (PT Alamtri Resources Indonesia Tbk)
- ITMG (PT Indo Tambangraya Megah Tbk)
- PTBA (PT Bukit Asam Tbk)
- UNTR (PT United Tractors Tbk)
- AADI (PT Adaro Andalan Indonesia Tbk)
Perbedaan Dampak untuk Setiap Perusahaan
Harga jual DMO jauh lebih rendah dibandingkan harga ekspor. Oleh karena itu, dampaknya akan lebih terasa bagi ADRO, ITMG, dan AADI yang memiliki proporsi ekspor tinggi. Sementara PTBA relatif netral karena portofolio dominan dalam negeri dan dekat dengan PLTU mulut tambang. UNTR juga akan terdampak secara tidak langsung melalui segmen jasa tambang PAMA jika aktivitas produksi klien menurun.
Rencana Pemangkasan Produksi
Selain itu, wacana peningkatan DMO muncul seiring rencana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk memangkas produksi batubara pada tahun 2026. Hal ini disebabkan oleh lesunya harga batubara global akibat ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan. Menurut Harry, sentimen ini dapat berdampak negatif pada perusahaan yang sedang melakukan ekspansi produksi, seperti PTBA.
Prediksi Harga Batubara
Di sisi lain, penurunan pasokan bisa menjadi pelindung harga di tengah kenaikan produksi domestik China. Stok batubara di China mencapai 714 juta ton pada Oktober 2025, jauh di atas rata-rata lima tahun sebelumnya yaitu 428 juta ton. Hal ini menyebabkan impor batubara selama 10 bulan pertama 2025 turun 11% year-on-year.
Jacquelin Hamdani dan Edward Halim dari CGS International Securities memperkirakan bahwa harga batubara akan tetap tertekan dalam 6–12 bulan ke depan. Mereka menurunkan estimasi laba bersih full year 2026 untuk UNTR, ITMG, dan PTBA sebesar 13%, sementara AADI diperkirakan naik karena ASP yang lebih baik.
Pemulihan Harga Batubara
Sebaliknya, Erinda Krisnawan dan Kafi Ananta dari BRI Danareksa Sekuritas menyatakan bahwa harga batubara Indonesia telah rebound sejak akhir 2025. Produk CV menengah-rendah seperti ICI3 dan ICI4 naik 17% dan 20% sejak titik terendah Juni 2025. Sementara itu, CV menengah dan tinggi juga pulih antara 4% hingga 16%.
Namun, data terbaru menunjukkan bahwa stok batubara masih tinggi dan berpotensi membatasi keberlanjutan pemulihan harga hingga 2026. Pemulihan ini didorong oleh restocking persediaan di pelabuhan China, sesuai pola musiman.
Prospek Kinerja Sektor Batubara Tahun 2026
Harry menekankan bahwa kinerja emiten sektor batubara kemungkinan akan ada perbaikan QoQ seiring kenaikan harga menjelang musim dingin. Namun, masuk tahun 2026, kinerja sektor ini diperkirakan mixed. Harga batubara masih akan tertekan akibat kenaikan produksi domestik China dan India, meski beberapa perusahaan akan meningkatkan volume produksi untuk mengantisipasi hal tersebut.
Rekomendasi Investasi
Berdasarkan analisis tersebut, Harry merekomendasikan investor untuk memperhatikan beberapa emiten sektor batubara, termasuk:
- PTBA dengan target harga Rp 2.160 per saham
- UNTR dengan target harga Rp 30.700 per saham
- ADRO dengan target harga Rp 2.500 per saham
- AADI dengan target harga Rp 12.200 per saham
Erinda dan Kafi merekomendasikan:
- AADI dengan target harga Rp 9.850 per saham
- ADRO dengan target harga Rp 2.630 per saham
- ITMG dengan target harga Rp 27.300 per saham
- PTBA dan UNTR dengan target harga masing-masing Rp 3.100 dan Rp 32.000 per saham
Sementara itu, Jacquelin dan Edward merekomendasikan untuk reduce (mengurangi porsi saham) PTBA dan ITMG dengan target harga masing-masing Rp 1.700 dan Rp 20.800 per saham.