
aiotrade,
BALIKPAPAN — Pembiayaan syariah di Kalimantan Timur mencatatkan pertumbuhan yang kuat sebesar 17,32% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal II/2025. Angka ini menunjukkan bahwa pembiayaan syariah telah memperoleh pangsa sebesar 8,62% terhadap total pembiayaan di provinsi tersebut.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Budi Widihartanto, menyatakan bahwa capaian ini menandai peningkatan signifikan dibandingkan periode sebelumnya yang tercatat sebesar 8,28%. Meskipun laju pertumbuhannya mengalami perlambatan, hal ini menunjukkan adanya tren peningkatan preferensi masyarakat terhadap pembiayaan syariah di Kaltim.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Stabilitas pembiayaan tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Financing (NPF) yang berada di level 0,89%, naik sedikit dari kuartal sebelumnya namun masih jauh di bawah ambang batas risiko 5%.
Dalam hal komposisi, pembiayaan modal kerja masih menjadi lokomotif utama dengan ekspansi tertinggi sebesar 44,09% (yoy), meskipun mengalami moderasi dibandingkan periode sebelumnya. Sementara itu, pembiayaan untuk keperluan investasi menunjukkan perlambatan cukup tajam menjadi 13,17% (yoy) dari posisi 20,35% (yoy) pada kuartal I/2025. Di sisi lain, sektor konsumsi justru menunjukkan sedikit akselerasi dengan pertumbuhan 13,18% (yoy).
Adapun ditinjau dari aspek risiko per segmen, rasio NPF pembiayaan modal kerja tercatat paling tinggi di angka 1,61%, diikuti konsumsi dengan 1,45%, dan investasi yang memiliki NPF terendah yakni 0,21%.
Secara geografis, Budi menyebutkan bahwa pertumbuhan pembiayaan syariah didorong oleh sebagian besar kabupaten/kota di Kaltim, meskipun dengan variasi yang cukup signifikan. Kabupaten Kutai Timur mencatatkan lonjakan tertinggi sebesar 66,72% (yoy), disusul Kabupaten Paser dengan 32,52% (yoy). Namun demikian, tidak semua wilayah mengalami ekspansi. Kabupaten Berau dan Penajam Paser Utara justru mengalami kontraksi masing-masing sebesar 26,35% (yoy) dan 2,75% (yoy).
Kendati demikian, kualitas pembiayaan syariah di seluruh kabupaten/kota tetap terjaga baik. Kabupaten Berau bahkan mencatatkan NPF terendah di angka 0,08%.
Dari segi distribusi, Kota Balikpapan tetap menguasai pangsa terbesar pembiayaan syariah dengan kontribusi 29,19%. Akan tetapi, pergeseran signifikan terjadi di posisi kedua, dimana Kabupaten Kutai Timur kini menyumbang 27,55% dan melampaui Kota Samarinda yang sebelumnya menempati urutan runner-up.
Adapun dia menuturkan kondisi ini menunjukkan minat atas pembiayaan syariah yang mulai merata di beberapa wilayah Kaltim lainnya selain dua kota besar (Balikpapan dan Samarinda).