Pembicaraan AS-Iran di Pakistan Gagal, Selat Hormuz Jadi Target Utama

Pembicaraan AS-Iran di Pakistan Gagal, Selat Hormuz Jadi Target Utama
Pembicaraan AS-Iran di Pakistan Gagal, Selat Hormuz Jadi Target Utama

Kegagalan Negosiasi Damai AS-Iran di Pakistan

Negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang digelar di Pakistan akhirnya berakhir tanpa kesepakatan. Proses negosiasi yang berlangsung selama 21 jam ini tidak berhasil mencapai titik temu, terutama karena perbedaan pendapat mengenai kendali atas Selat Hormuz dan program nuklir Iran.

Isu Utama yang Menghambat Kesepakatan

Salah satu isu utama dalam negosiasi ini adalah perebutan kendali atas Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi urat nadi pengiriman minyak global. Iran menolak untuk melepas pengaruhnya di wilayah tersebut, sementara AS dinilai memaksakan syarat sepihak dalam proses diplomasi ini. Hal ini memicu kekhawatiran akan meningkatnya risiko ketegangan baru di kawasan Timur Tengah.

Selain itu, Iran juga menolak untuk menghentikan program nuklirnya, termasuk pengayaan uranium. Delegasi AS yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance menghadapi tantangan besar dalam meredam sikap keras Iran.

Penilaian dari Mantan Menlu Iran

Mantan Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, menilai bahwa AS terlalu memaksakan kehendak sepihak dalam perundingan ini. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat harus belajar bahwa tidak mungkin mendikte syarat kepada Iran. Pernyataan ini disampaikan melalui akun X miliknya, dengan tegas menyatakan:

Amerika Serikat harus belajar: Anda tidak bisa mendikte syarat kepada Iran. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Belum.

Zarif, yang juga tokoh kunci dalam perundingan nuklir 2015, menekankan bahwa negosiasi hanya akan berhasil jika kedua pihak saling menghargai. Ia memperingatkan bahwa pola mendikte hanya akan memperpanjang konflik.

Tidak ada negosiasi, setidaknya dengan Iran, yang akan berhasil jika didasarkan pada syarat kami/Anda, tegasnya pada Minggu (12/4/2026).

Pentingnya Selat Hormuz

Laporan dari Axios menyebutkan bahwa tuntutan Iran untuk mengendalikan Selat Hormuz adalah salah satu poin paling krusial yang ditolak mentah-mentah oleh AS. Siapa pun yang menguasai jalur ini secara praktis memegang kunci atas distribusi energi dunia.

Riwayat Konflik dan Status Saat Ini

Beberapa peristiwa penting telah membentuk latar belakang konflik antara AS dan Iran:

  • 28 Februari: Ketegangan memuncak setelah serangan AS-Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
  • 7 April: Gencatan senjata disepakati melalui mediasi Pakistan.
  • 11 April: Perundingan 21 jam di Pakistan gagal mencapai kesepakatan final.

Hingga saat ini, kondisi di lapangan masih berada dalam status gencatan senjata yang rapuh. Jika kontak diplomatik tidak segera dilanjutkan, risiko pecahnya kembali konflik terbuka di kawasan tersebut diprediksi akan semakin meningkat.