Pembuat tembakan agen Secret Service di acara mewah, Trump: "Ia penuh kebencian"

Pembuat tembakan agen Secret Service di acara mewah, Trump: "Ia penuh kebencian"
Pembuat tembakan agen Secret Service di acara mewah, Trump: "Ia penuh kebencian"

Insiden Penembakan di Acara White House Correspondents' Dinner

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dievakuasi secara darurat dari acara makan malam Asosiasi Koresponden Gedung Putih (White House Correspondents' Dinner) yang digelar di Washington Hilton. Insiden ini terjadi setelah seorang pria bersenjata mencoba menembus pengamanan acara tersebut. Pelaku, Cole Tomas Allen, dikenal memiliki manifesto anti-Kristen dan menyimpan banyak kebencian terhadap sistem pemerintahan.

Peristiwa Penembakan dan Evakuasi

Insiden penembakan terjadi pada Sabtu malam (25/4/2026) saat pelaku melepaskan tembakan ke arah agen United States Secret Service di pos pemeriksaan keamanan. Beruntung, agen tersebut selamat karena rompi pelindungnya menghalangi peluru. Trump, Ibu Negara Melania Trump, Wakil Presiden, serta pejabat kabinet langsung dievakuasi dari lokasi.

Sekitar 2.600 tamu yang hadir dalam acara tersebut dilaporkan panik saat suara tembakan terdengar. Sejumlah pejabat bahkan dipaksa tiarap oleh petugas keamanan. Juru bicara Secret Service, Anthony Guglielmi, menyatakan bahwa pihaknya masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait insiden tersebut.

Pelaku dan Manifesto Anti-Kristen

Pelaku, Cole Tomas Allen, diidentifikasi sebagai warga Torrance, California, yang ditangkap di lokasi kejadian. Menurut informasi yang diperoleh, manifesto yang dibawa oleh pelaku berisi isi yang anti-Kristen dan menunjukkan rasa benci terhadap sistem pemerintahan. Dalam tulisan tersebut, pelaku menyebut dirinya sebagai Pembunuh Federal yang Ramah.

Manifesto juga mengkritik keamanan di lokasi acara, dengan pelaku mengklaim dapat masuk dengan membawa banyak senjata tanpa dicurigai. Pelaku diketahui melakukan perjalanan panjang menggunakan kereta dari Los Angeles ke Chicago sebelum akhirnya tiba di Washington D.C.

Penyelidikan dan Dakwaan

Menurut pejabat penegak hukum, target utama pelaku diduga adalah Presiden Trump dan pejabat tinggi pemerintah lainnya. Pelaku kini menghadapi dakwaan percobaan pembunuhan di pengadilan federal. Melansir Reuters, Senin (27/4/2026), Trump menyebut pelaku sebagai individu yang mengalami gangguan mental. Ia juga mengungkap bahwa keluarga pelaku sebelumnya telah menyampaikan kekhawatiran kepada aparat penegak hukum.

Tindakan Keamanan dan Kepanikan

Setelah suara tembakan terdengar, suasana di dalam ruangan yang dihadiri sekitar 2.600 tamu berubah menjadi panik. Para peserta acara langsung berteriak dan berlindung, sementara petugas keamanan segera mengamankan lokasi. Sejumlah pejabat kabinet, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr dan Menteri Dalam Negeri Doug Burgum, terlihat dipaksa tiarap oleh petugas keamanan untuk menghindari risiko tembakan lanjutan.

Petugas keamanan bersenjata lengkap kemudian memasuki area panggung dan mengevakuasi Trump beserta istrinya. Beberapa petugas juga mengambil posisi siaga dengan senjata terarah ke arah ballroom.

Kekerasan Politik dan Reaksi Internasional

Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya kekerasan politik di Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa kasus sebelumnya, seperti pembunuhan aktivis konservatif Charlie Kirk dan legislator Minnesota Melissa Hortman, memperkuat kekhawatiran publik terhadap eskalasi konflik politik. Survei Reuters/Ipsos menunjukkan bahwa retorika politik yang semakin keras dinilai menjadi pemicu meningkatnya kekerasan.

Di seluruh dunia, para pemimpin mengutuk serangan itu dan menyatakan lega bahwa Trump dan semua yang hadir selamat. Pemimpin NATO Mark Rutte menyebutnya sebagai serangan "terhadap masyarakat kita yang bebas dan terbuka". Para pemimpin menekankan bahwa kekerasan tidak memiliki tempat dalam demokrasi.

Kunjungan Raja Charles dari Inggris ke AS yang dijadwalkan dimulai pada hari Senin akan tetap berlangsung, kata Trump dan para pejabat Inggris. Kedutaan Besar Inggris mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa diskusi sedang berlangsung mengenai apakah insiden tersebut dapat mempengaruhi perencanaan kunjungan tersebut.