Pemerintah diminta hindari persaingan tidak sehat taksi listrik asing

admin.aiotrade 17 Des 2025 3 menit 13x dilihat
Pemerintah diminta hindari persaingan tidak sehat taksi listrik asing


aiotrade,
JAKARTA — Seorang pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio, menyoroti pentingnya tindakan segera dari pemerintah dalam menjaga keseimbangan ekosistem transportasi nasional yang kini menghadapi tantangan besar akibat masuknya perusahaan asing. Salah satu contohnya adalah Xanh SM atau Green SM, sebuah perusahaan taksi yang sepenuhnya menggunakan kendaraan listrik dan terus berkembang pesat.

Meskipun masyarakat kini memiliki lebih banyak pilihan transportasi, Agus menyatakan bahwa situasi ini tidak berjalan secara adil. Perusahaan lokal menghadapi tantangan yang berat karena dukungan finansial dan modal besar dari perusahaan asing seperti Green SM. Hal ini menciptakan lingkungan usaha yang tidak sehat dan merugikan operator lokal.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Menurut Agus, Green SM menggunakan mobil impor 100% CBU (Completely Built Up), sementara pemerintah sedang giat mempromosikan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan memberikan insentif fiskal untuk kendaraan listrik. Ini menunjukkan ketidakseimbangan yang sangat signifikan.

“Kondisi ini berdampak negatif karena operator lokal akan terdorong keluar pasar akibat subsidi dan kapital besar dari perusahaan asing,” ujar Agus dalam Diskusi Publik Instran: Diskursus Dinamika Keterbukaan Investasi Pengusahaan Angkutan Umum.

Agus tidak menyangkal bahwa kehadiran Green SM juga membawa manfaat positif. Misalnya, mereka mendorong adopsi kendaraan listrik (EV), pembangunan infrastruktur pengisian daya, serta menekan tarif transportasi sehingga konsumen mendapatkan keuntungan. Meski kompetisi yang tercipta kurang sehat, hal ini justru memaksa operator lama menjadi lebih inovatif.

Namun, keberadaan Green SM juga mengancam industri otomotif lokal. Pabrik-pabrik perakitan domestik seperti Toyota, Hyundai, Honda, hingga Wuling mengalami penurunan permintaan akibat maraknya perusahaan asing ini.

Agus melihat adanya indikasi kebocoran TKDN dan program EV Indonesia. Hal ini disebabkan oleh impor CBU yang besar-besaran dan ketergantungan pada produsen luar tanpa ada jaminan investasi manufaktur di dalam negeri. “Ini mirip dengan fenomena ‘disruption by capital dump’ yang pernah terjadi pada taksi online dahulu,” jelasnya.

Agus menyarankan pemerintah untuk mengambil lima langkah penyelematan:

  1. Membuat Roadmap TKDN untuk kendaraan taksi EV. Contohnya, pada 2025 TKDN minimal 20%, meningkat menjadi 30% pada 2026, dan 40% pada 2027.
  2. Mengawasi tarif promo untuk taksi agar tidak terjadi predatory pricing. Misalnya, diskon hingga 35% atau Rp150.000 yang ditawarkan oleh Green SM.
  3. Menetapkan syarat penggunaan kendaraan impor untuk armada taksi, seperti wajib CKD/IKD mulai tahun tertentu dan dikenai disincentive fiskal jika menggunakan CBU.
  4. Menerangkan secara transparan insentif yang diterima oleh Green SM/VinFast. Jika mereka mendapat fasilitas fiskal, ini menunjukkan ketidakadilan.
  5. Meningkatkan pengawasan dan penegakan hukum oleh KPPU terhadap kegiatan integrasi vertikal dari Green SM, yang bisa menyebabkan persaingan tidak sehat.

Sayangnya, saat ini KPPU dinilai tidak aktif. “Nyaris tak terdengar suaranya,” kata Agus.

Pada kesempatan yang sama, Yusa Cahaya Permana, Ketua Advokasi Inisiatif Strategis Transportasi (Instran), menyampaikan hasil kajiannya mengenai investasi asing di sektor transportasi, khususnya taksi online. Ia menjelaskan bahwa UU Cipta Kerja membuka peluang bagi investor asing, tetapi industri dalam negeri belum siap menghadapinya.

“Tiba-tiba ada disrupsi, asing masuk, dan industri lokal tidak dipersiapkan. Akibatnya jumlah pemain taksi pun turun karena dihajar oleh pemain digital,” ujarnya.

Yusa tidak menyangkal bahwa kehadiran perusahaan asing juga memberikan efek positif, seperti memaksa industri lokal bertransformasi melalui digitalisasi. Namun, ia menilai pemerintah lebih pro terhadap perusahaan asing daripada perusahaan lokal.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan