Peran ASEAN dalam Menghadapi Dampak Perang Iran
Para pemimpin Asia Tenggara yang tergabung dalam Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) telah berkumpul dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) yang diadakan di Cebu, Filipina. Pertemuan ini berlangsung pada Jumat (08/05/2026), dengan fokus utama pada koordinasi mendesak untuk menghadapi dampak perang Iran. Kepedulian ini muncul karena guncangan energi yang memengaruhi perekonomian negara-negara ASEAN yang bergantung pada impor minyak.
Koordinasi untuk Mengurangi Tekanan Energi
Dalam pertemuan tersebut, para pemimpin ASEAN membahas pentingnya koordinasi antar negara anggota. Tujuan utamanya adalah mengurangi tekanan dari krisis energi yang sedang melanda kawasan. Selain itu, mereka juga menyerukan strategi untuk menjamin ketahanan energi dan pangan serta mencegah krisis di masa depan. Hal ini sangat penting mengingat kawasan ini rentan terhadap blokade Selat Hormuz yang telah berlangsung selama lebih dari dua bulan.
Ketua ASEAN sekaligus Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr., menyampaikan bahwa dampak dari perang Iran telah menciptakan efek domino berupa gangguan ekonomi. Ia menekankan perlunya pandangan ke depan, koordinasi, tindakan konkret, serta kerja sama kolektif.
Krisis baru-baru ini merupakan pengingat yang jelas tentang betapa rentannya perekonomian kita terhadap perubahan mendadak dalam tatanan internasional dan, akibatnya, ekonomi global. Gangguan yang terjadi selama beberapa minggu ini akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki, ujar Ferdinand.
Kerangka Kerja Berbagi Bahan Bakar Regional
Untuk mengurangi tekanan akibat perang Iran, para anggota ASEAN telah menyetujui kerangka kerja berbagi bahan bakar regional. Namun, hingga saat ini belum ada penjelasan rinci mengenai bagaimana program tersebut akan berfungsi. Rincian penting seperti negara mana yang akan diprioritaskan selama krisis masih perlu diselesaikan.
Ferdinand menyambut baik hasil tersebut, tetapi mengakui bahwa pengaturan praktis masih perlu diklarifikasi. Ia mengajukan beberapa pertanyaan, seperti bagaimana pembagiannya, siapa yang mendapat apa, dan bagaimana cara membayarnya. Kami belum pernah melakukannya sebelumnya, tambahnya.
Pengembangan Jaringan Listrik Regional
Selain upaya berbagi bahan bakar regional, para anggota ASEAN juga sepakat untuk mengembangkan jaringan listrik regional dan cadangan bahan bakar. Tujuannya adalah untuk mengurangi ketergantungan mereka pada aktivitas impor energi dari Timur Tengah.
Saat ini, ASEAN mengimpor lebih dari setengah minyak mentah dan 17% gas alamnya dari kawasan tersebut. Pada akhir bulan Maret lalu, Filipina menjadi negara pertama di dunia yang menyatakan keadaan darurat nasional akibat menipisnya cadangan energi.
Tantangan Integrasi ASEAN
Meskipun perekonomian masing-masing negara anggota berkembang pesat, proses integrasi di kawasan berjalan cukup lambat. Hal ini disebabkan oleh perbedaan yang sangat besar di antara 11 negara anggota. Selain itu, ASEAN juga tidak memiliki otoritas pusat yang dapat memastikan setiap negara bisa mematuhi kesepakatan dan inisiatif bersama.
Harapan untuk Penyelesaian Konflik
Mengenai kondisi perang Iran yang masih terus berlangsung, para pemimpin ASEAN diperkirakan akan menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Mereka juga mendesak dibukanya kembali Selat Hormuz. Sebelum konflik pecah, jalur ini biasa dilintasi sekitar 130 kapal setiap harinya dan mengangkut seperlima pasokan minyak serta gas dunia.