
Tantangan Industri Rotan di Kabupaten Cirebon
Perajin rotan di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, kembali menyoroti pentingnya pembangunan pusat logistik rotan sebagai upaya memperkuat rantai pasok dan memperluas pasar produk kerajinan. Desakan ini muncul di tengah situasi industri yang sedang menghadapi kelesuan pascapandemi serta persaingan ketat dengan sentra-sentra lain.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Darma, salah satu perajin rotan di Kawasan Tegalwangi, menyampaikan bahwa selama ini para perajin sering menghadapi kesulitan dalam mencari bahan baku saat permintaan meningkat, terutama ketika ada pesanan ekspor atau pameran nasional. "Tanpa gudang penyangga bahan baku, pasokan rotan mentah sering tersendat dan berdampak pada keterlambatan produksi," ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa dukungan pemerintah selama ini lebih banyak dalam bentuk bantuan alat atau program pendampingan, bukan pada aspek yang paling dibutuhkan, yaitu pemasaran dan ketersediaan bahan baku. Menurut Darma, perajin kecil kini mulai kesulitan menjangkau pasar yang lebih luas karena tidak memiliki wadah promosi yang berkelanjutan.
"Selama ini bantuan yang datang sering kali tidak sesuai kebutuhan. Padahal yang kami butuhkan adalah perluasan pasar dan jaminan bahan baku. Kami berharap pemerintah hadir lewat fasilitas pameran atau membuka peluang di e-katalog LKPP," ujar Darma.
Menurutnya, pendaftaran produk rotan ke dalam sistem e-katalog nasional yang dikelola Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) dapat membuka pintu baru bagi perajin lokal agar produknya digunakan di proyek-proyek pemerintah. "Kalau produk rotan bisa masuk e-katalog, itu akan membantu sekali. Pemerintah daerah bisa jadi pembeli pertama yang memberi contoh," katanya.
Langkah Strategis Pemerintah Daerah
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Cirebon era kepemimpinan Penjabat (Pj) Bupati Cirebon, Wahyu Mijaya, menyatakan bahwa pemerintah daerah memang tengah merencanakan pembangunan pusat logistik rotan. Fasilitas ini diharapkan menjadi solusi permanen untuk menjaga stabilitas pasokan bahan baku sekaligus menopang daya saing industri kerajinan.
"Nantinya, ketika permintaan meningkat, pasokan tetap bisa terpenuhi. Pusat logistik ini menjadi salah satu langkah strategis agar industri rotan tetap bertahan," ujar Wahyu waktu itu.
Ia menambahkan bahwa rotan merupakan salah satu identitas ekonomi Kabupaten Cirebon yang telah bertahan selama puluhan tahun dan dikenal hingga pasar ekspor. Karena itu, pemerintah daerah berupaya mendorong penguatan sektor ini lewat kerja sama lintas instansi.
"Industri rotan ini sudah menjadi warisan dan kebanggaan Cirebon. Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat untuk memprioritaskan pelatihan dan pameran bagi pengrajin rotan lokal," katanya.
Pemerintah daerah juga mengaku telah menjajaki kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mengintegrasikan sentra potensi daerah seperti rotan, batik, dan kuliner dalam satu kawasan promosi terpadu. Langkah ini diharapkan dapat menarik investor dan meningkatkan nilai ekonomi produk lokal.
Perubahan Struktur Ekspor
Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperdagin) Kabupaten Cirebon, nilai ekspor daerah tersebut pada triwulan I/2024 mencapai US$73,06 juta. Namun, posisi rotan sebagai komoditas unggulan kini mulai tergeser oleh benang, yang dalam dua tahun terakhir menunjukkan peningkatan ekspor signifikan.
Perubahan komposisi ekspor itu mencerminkan pergeseran struktur industri di Cirebon. Di satu sisi, sektor tekstil dan turunannya tumbuh pesat; di sisi lain, industri rotan tradisional harus berjuang agar tidak tertinggal. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya dukungan pemerintah dan inovasi dari kalangan pengrajin untuk mempertahankan eksistensi industri rotan di wilayah ini.