Proyek Investasi Aluminium di Kabupaten Lingga Tertunda Akibat Konflik Lahan
Proyek investasi besar-besaran yang dicanangkan oleh PT Tianshan Alumina Indonesia di Kabupaten Lingga, dengan nilai mencapai puluhan triliun rupiah, masih belum bisa dilanjutkan secara penuh. Hambatan utama yang dihadapi adalah konflik lahan yang bersinggungan dengan kawasan latihan militer Marinir TNI Angkatan Laut. Hal ini menjadi isu serius sejak tahun 2024, menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Lingga, Yusdiandri.
“Kendala utama investasi Tianshan di Lingga adalah masalah lahan yang beririsan dengan lokasi latihan perang Marinir Angkatan Laut. Itu yang masih kami upayakan penyelesaiannya,” katanya dalam sebuah podcast yang diunggah di Inidie Channel pada Minggu (5/10/2025).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Surat resmi dari Kementerian Pertahanan (Kemenhan) tertanggal 30 Oktober 2024 meminta agar area seluas ± 400 hektare yang tumpang tindih dengan kawasan latihan Marinir diganti dengan lokasi baru. Dengan adanya permintaan tersebut, Pemkab Lingga melakukan koordinasi lintas instansi, termasuk pertemuan di Kemenhan, untuk mencari solusi agar proyek tetap bisa berlanjut.
Pada salah satu pertemuan terakhir yang berlangsung pada 29 September 2025, hadir Direktur Jenderal Strategi Pertahanan. Yusdiandri menjelaskan bahwa dalam pertemuan tersebut, pihaknya menyampaikan pentingnya aspek investasi Tianshan bagi daerah maupun nasional.

Pemerintah Daerah Kabupaten Lingga sempat menawarkan dua lokasi pengganti, yaitu Pulau Sebangka dan Pulau Pekajang, namun kedua lokasi tersebut ditolak karena tidak berada dalam satu daratan dengan kawasan latihan.
“Kita sempat menawarkan dua lokasi di Sebangka dan Pekajang, tetapi karena tidak satu daratan dengan area latihan, maka otomatis tertolak,” ujarnya.
Setelah penolakan tersebut, Pemkab Lingga menyiapkan dua lokasi alternatif baru dengan luas sekitar 379 hektare, yang dianggap lebih realistis dan berdekatan. Dirjen Strategi Pertahanan dari Kemenhan akan turun meninjau langsung sebelum memutuskan lokasi final.
Pemerintah Daerah berharap agar proses penggantian lahan segera selesai agar investasi senilai Rp70 triliun itu tidak terus tertahan.
“Kami berharap dukungan semua pihak. Pemkab, Bupati, dan Wakil Bupati berupaya keras agar Tianshan bisa segera hadir di Lingga. Kita ingin ekonomi masyarakat bangkit,” ujar Yusdiandri.
Menurutnya, keberhasilan penyelesaian konflik lahan ini bukan hanya urusan daerah, tapi juga bagian dari strategi nasional memperkuat industri hilir aluminium yang akan memberikan dampak signifikan bagi ekonomi lokal dan nasional. Dengan selesainya konflik lahan, proyek ini diharapkan dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi daerah.