Pemutusan Kerja Pemerintah AS Picu Kekhawatiran Investor, Emas Jadi Tujuan

admin.aiotrade 04 Okt 2025 3 menit 14x dilihat
Pemutusan Kerja Pemerintah AS Picu Kekhawatiran Investor, Emas Jadi Tujuan

Penghentian Operasional Pemerintah AS dan Dampaknya terhadap Pasar Modal

Penghentian sebagian operasional pemerintah Amerika Serikat (AS) pada awal bulan Oktober 2025, akibat ketidaksepahaman antara Presiden Donald Trump dan Kongres mengenai pendanaan federal, telah memicu berbagai reaksi di pasar modal. Meskipun dampaknya tidak langsung signifikan, beberapa analis menilai bahwa situasi ini bisa menjadi faktor penambah yang memengaruhi sentimen pasar.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Direktur Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada, menyatakan bahwa penghentian operasional pemerintahan AS memberi sinyal negatif kepada pelaku pasar. Kondisi ini dinilai memperlihatkan ketidakstabilan ekonomi AS, sehingga mendorong investor untuk mencari aset yang lebih aman seperti emas dan dolar AS.

Lonjakan permintaan terhadap emas bahkan menyebabkan harga emas sempat mencapai rekor tertinggi setelah penghentian operasional tersebut. Namun, harga kembali terkoreksi setelah adanya pernyataan dari pejabat Federal Reserve (The Fed).

“Persepsi ini membuat pelaku pasar cenderung mengamankan posisi mereka. Oleh karena itu, pergerakan harga emas biasanya naik karena orang mencari aset safe haven,” ujar Reza.

Analis Senior Reliance Sekuritas Indonesia, Arifin, menambahkan bahwa pergeseran aset investasi ini juga memberikan tekanan pada sektor perbankan yang mengalami outflow. Sebaliknya, saham-saham berbasis emas justru mendapat aliran dana masuk dari investor.

Ia menegaskan bahwa jika penghentian operasional pemerintah AS berlangsung lama, dampaknya akan meluas ke sektor riil dan kerja sama perdagangan internasional.

“Jika shutdown berlangsung lama, maka dampaknya akan terasa di sektor riil dan kerja sama perdagangan,” katanya dalam acara Market Update Reliance Sekuritas Indonesia.

Lebih lanjut, Arifin menilai bahwa kondisi ini juga berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed. Jika shutdown meningkatkan tingkat pengangguran, risiko resesi di AS dapat meningkat, sehingga mendorong bank sentral untuk mengambil langkah pemangkasan suku bunga yang lebih agresif.

“Shutdown ini bisa memengaruhi tingkat pengangguran, sehingga kebijakan suku bunga The Fed bisa lebih cepat dari ekspektasi pasar. Bahkan bisa memotong hingga 75 bps, dari sebelumnya kita harapkan 50 bps,” tambahnya.

Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta. Menurutnya, dampak shutdown terhadap pasar modal Indonesia cenderung terbatas selama bersifat sementara. Ia menilai komitmen The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter akan meredam potensi guncangan di pasar keuangan domestik.

“Sebenarnya shutdown ini hanya berlaku sementara. Jadi otomatis saya pikir hal tersebut tidak terlalu berdampak negatif daripada kondisi pasar modal tanah air khususnya, maupun juga kondisi perekonomian Indonesia pada umumnya,” ujarnya.

Nafan merekomendasikan sektor-sektor yang berpotensi tetap bertahan di tengah kondisi ini, seperti indeks siklikal dan non-siklikal, properti, industri, dan teknologi. Reza Priyambada pun sepakat bahwa penghentian sebagian operasional pemerintah AS bukanlah faktor dominan yang menggerakkan pasar modal Indonesia.

“Kalau dibilang sentimen utama sih enggak juga. Namun, lebih kepada sentimen tambahan yang dapat mempengaruhi sentimen lain, misal pergerakan dolar AS, maupun berubah atau tidaknya arah suku bunga The Fed,” tegasnya.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan