
Proses Evakuasi Korban Banjir Bandang di Jorong Tobo
Proses evakuasi korban banjir bandang yang terjadi di Jorong Tobo, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mulai memasuki tahap akhir. Belasan tim Basarnas Padang masih melakukan pencarian terhadap tiga orang yang hilang akibat banjir bandang dan longsoran tanah yang melanda dusun Tobo pada sore hari tanggal 26 November lalu.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dengan menggunakan pakaian berwarna oranye dan perlengkapan keselamatan lengkap, para anggota tim SAR terus menelusuri setiap titik yang dicurigai sebagai lokasi warga Malalak yang tertimbun oleh tanah longsor. Mereka bekerja dengan semangat tinggi untuk menemukan korban yang masih hilang.
Anggota tim Basarnas Idri menjelaskan bahwa saat ini, tim SAR gabungan sangat membutuhkan bantuan alat berat seperti eskavator mini untuk melakukan evakuasi. Ia mengatakan, setelah dua belas hari mencari para korban, kondisi lumpur di lokasi banjir menjadi lebih keras. Akibatnya, tim SAR tidak lagi dapat mengandalkan alat manual seperti cangkul dan alkon yang biasa digunakan selama ini.
Kondisi tanah yang mengeras serta timbunan longsor yang memiliki ketinggian satu hingga dua meter membuat kebutuhan akan alat berat yang lebih besar semakin mendesak. Saat ini, tim SAR sedang menggunakan eskavator mini dengan ukuran 5 ton. Namun, Idri menyampaikan bahwa mereka sangat membutuhkan alat berat dengan ukuran 10 ton.
"Saat ini kami sangat memerlukan ukuran 10 ton, tapi kendala di Padang kami belum menemukan unit tersebut," ujar Idri di Malalak, Agam, Sumatera Barat, pada Minggu (7/12).
Selain untuk mencari korban hilang, eskavator mini ukuran 10 ton juga dibutuhkan tim SAR untuk membuka akses jalan di Malalak yang terputus akibat longsoran tanah. "Untuk membuka akses jalan, kami sangat membutuhkan alat berat yang besar," tambah dia.
Selama masa pencarian, Idri dan tim SAR Gabungan telah menemukan sebanyak 14 orang yang meninggal. Saat ini, tim sedang fokus mencari tiga orang lagi yang masih hilang.
Banjir bandang dan longsoran tanah itu melanda tiga Nagari—sebutan wilayah pemerintahan setingkat desa di Sumatera Barat—di Kecamatan Malalak. Wilayah tersebut sempat terisolir selama dua hari. Tidak ada bantuan yang dapat masuk ke Malalak saat itu.
Idri sedikit menceritakan pengalamannya selama dua hari terjebak di Malalak. Ia mengaku sulit memberikan kabar kepada tim lain di luar Malalak karena infrastruktur jaringan telekomunikasi rusak total, sehingga tidak ada jaringan yang tersedia di wilayah tersebut.