
Skema Penggunaan Kembali dan Pengembalian Bisa Mengurangi Polusi Plastik dalam 15 Tahun
Sebuah laporan baru menunjukkan bahwa sistem penggunaan kembali dan pengembalian bisa menjadi solusi efektif untuk mengurangi polusi plastik secara signifikan dalam waktu 15 tahun. Laporan ini mencatat bahwa jika tindakan yang tepat diambil, jumlah polusi plastik global bisa berkurang hingga 97% pada tahun 2040.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Laporan tersebut menyebutkan bahwa setiap tahun, sekitar 66 juta ton polusi dari kemasan plastik memasuki lingkungan global. Namun, dengan adanya skema penggunaan kembali dan pengembalian, hampir seluruhnya dari jumlah ini bisa dihilangkan. Dalam analisis terluas tentang sistem plastik global, Pew Charitable Trusts bekerja sama dengan akademisi dari Imperial College London dan Universitas Oxford.
Menurut penulis laporan, plastik yang dulunya dianggap sebagai inovasi modern kini menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat, ekonomi dunia, dan masa depan planet ini. Jika tidak ada tindakan yang diambil, polusi plastik akan meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 15 tahun ke depan, mencapai 280 juta metrik ton per tahun. Angka ini setara dengan satu truk sampah penuh yang dibuang setiap detik.
Pertumbuhan Produksi Lebih Cepat daripada Penanganan Sampah Plastik
Produksi plastik, yang terbuat dari bahan bakar fosil, diperkirakan akan meningkat sebesar 52% dari 450 juta ton tahun ini menjadi 680 juta ton pada tahun 2040. Pertumbuhan produksi ini dua kali lebih cepat dibandingkan sistem pengelolaan sampah di seluruh dunia.
Sektor pengemasan, seperti film lunak, tas, botol, dan kotak makanan, merupakan salah satu penyebab utama peningkatan produksi plastik. Pada tahun 2025, kemasan menyumbang 33% dari total sampah plastik global, menyebabkan 66 juta ton polusi masuk ke lingkungan setiap tahun.
Namun, polusi kemasan dapat diminimalkan melalui sistem penggunaan kembali dan pengembalian. Dengan kombinasi larangan penggunaan polimer tertentu dan penggantian plastik dengan bahan lain, polusi plastik bisa dikurangi hingga 97% dalam 15 tahun ke depan.
Dua Alat Utama untuk Mengurangi Polusi
Menurut Winnie Lau, direktur proyek pencegahan polusi plastik di Pew Foundation, ada dua alat utama untuk mengurangi polusi dari kemasan plastik hingga 97% pada tahun 2040. Yang pertama adalah sistem penggunaan kembali dan pengembalian, yang akan menghilangkan dua pertiga polusi. Yang kedua adalah pengurangan produksi plastik untuk kemasan dan penggunaan bahan alternatif seperti kardus, kaca, logam, serta pelarangan polimer tertentu.
Risiko Kesehatan Akibat Polusi Plastik
Selain merusak lingkungan, kontak manusia dengan plastik juga menyebabkan masalah kesehatan serius. Produk plastik mengandung lebih dari 16.000 bahan kimia yang sengaja ditambahkan serta berbagai kontaminan yang tidak sengaja ditambahkan. Studi telah mengaitkan banyak bahan kimia ini dengan gangguan hormon, penurunan kesuburan, berat badan lahir rendah, perubahan kognitif dan perkembangan lainnya pada anak-anak, diabetes, serta peningkatan faktor risiko kardiovaskular dan kanker.
Emisi gas rumah kaca dari sistem plastik global diperkirakan akan meningkat dari 2,7 GtCO2e (gigaton CO2 ekuivalen) pada tahun 2025 menjadi 4,2 GtCO2e pada tahun 2040, meningkat sebesar 58%. Jika produksi plastik diibaratkan sebuah negara, emisinya akan setara dengan negara penghasil emisi terbesar ketiga pada tahun 2040, setelah Tiongkok dan AS.
Solusi yang Masih Mungkin Dilakukan
Namun, transformasi masih mungkin terjadi. Jika intervensi dalam pengelolaan sampah, pemangkasan produksi, serta sistem penggunaan kembali dan pengembalian dilakukan, polusi plastik bisa dikurangi hingga 83%, emisi gas rumah kaca hingga 38%, dan dampak kesehatan hingga 54%. Hal ini akan menghemat pengeluaran pemerintah global sebesar US$ 19 miliar (Rp 316,95 triliun) setiap tahun untuk pengumpulan dan pembuangan plastik pada tahun 2040.
"Harapan tetap ada," kata Tom Dillon dari Pew Charitable Trusts. "Komunitas global dapat membangun kembali sistem plastik dan menyelesaikan masalah polusi plastik dalam satu generasi, tetapi para pengambil keputusan perlu memprioritaskan manusia dan planet ini."