Penerapan RDF Plant di Jakarta: Karakter Sampah Berbeda dengan Eropa

admin.aiotrade 12 Nov 2025 2 menit 15x dilihat
Penerapan RDF Plant di Jakarta: Karakter Sampah Berbeda dengan Eropa

Persiapan Uji Operasional RDF Plant di Rorotan

Pengoperasian uji coba Refuse Derived Fuel (RDF) Plant di Rorotan diharapkan dapat kembali berjalan dalam dua minggu ke depan. Hal ini disampaikan oleh Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike, setelah sebelumnya muncul protes dari masyarakat sekitar. Pernyataan ini disampaikannya saat rapat kerja dengan Dinas Lingkungan Hidup (LH) pada Selasa (11/11).

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

"Semua pasti berharap hal ini tidak terjadi dan RDF Plant bisa berjalan dengan baik. Tapi, dikarenakan hal ini sesuatu yang baru di Jakarta, tentunya perlu penyesuaian kembali," ujar Yuke.

Perbedaan Karakteristik Sampah Jakarta

Menurut Yuke, masalah penerapan RDF Plant di Jakarta muncul karena karakteristik sampah yang dihasilkan masyarakat Jakarta berbeda dibanding negara-negara Eropa yang lebih dulu menerapkannya. "Sampah kita itu kebanyakan sampah basah. Meski sudah dipilah, tapi sampah kita memang karakternya masih sampah-sampah yang basah."

Kondisi ini menyebabkan munculnya masalah dengan bau tidak sedap selama pengangkutan sampah. "Sehingga muncul persoalan dengan bau yang tidak sedap apabila dalam pengangkutannya masih (menggunakan truk) terbuka ataupun ada kebocoran lindi, yang berujung polemik di masyarakat," jelasnya.

Keterlambatan Pengoperasian dan Dampak Keuangan

Yuke juga menilai bahwa keterlambatan pengoperasian RDF Plant Rorotan merupakan langkah terbaik saat ini. Meskipun demikian, ia mengakui bahwa keterlambatan tersebut berdampak pada keuangan Pemprov DKI karena harus membuang sampah ke TPS Bantargebang, Bekasi.

"Saya kira lebih baik terlambat, tapi segala persoalan bisa terselesaikan. Harus diakui, jika RDF Plant sukses, tentu hal ini akan menjadi percontohan," jelasnya.

Target Masa Depan RDF Plant

Jika semua berjalan sesuai rencana, pada 2026 mendatang, RDF Plant akan mampu melakukan pengolahan sampah dalam jumlah optimal dalam sehari. "Sehingga bisa mengurangi sampah yang kita kirim ke Bantargebang. Dinas terkait dan juga KSO-nya harus mempercepat semua masalah yang ada, sehingga bisa lebih cepat untuk berjalan dengan optimal," tegasnya.

Penundaan Sementara oleh Gubernur DKI

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memerintahkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta untuk menghentikan sementara proses uji operasional RDF Plant Rorotan di Jakarta Utara. Ia menilai fasilitas tersebut belum memiliki kendaraan pengangkut sampah yang layak dan aman bagi lingkungan.

“Saya sudah meminta kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup untuk sementara commissioning-nya dihentikan terlebih dahulu, dipersiapkan sampai dengan adanya truk yang compact yang bisa membawa sampah ke Rorotan,” ujar Pramono.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan