
Pengakuan Relawan MBG di Takalar, Upah Dipotong Hingga Rp30 Ribu Per Hari
Relawan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, mengungkapkan pengalaman yang mengejutkan terkait upah mereka. Diketahui, para relawan tidak mendapatkan gaji sesuai dengan kesepakatan awal, bahkan beberapa kali dipotong hingga sebesar Rp30 ribu per hari.
Program MBG merupakan salah satu inisiatif pemerintah yang bertujuan memastikan setiap anak di Indonesia mendapatkan asupan gizi yang cukup. Program ini juga menjadi salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto. Namun, dalam pelaksanaannya, banyak relawan merasa kecewa karena tidak menerima upah yang telah dijanjikan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut Daeng Lebang, salah satu relawan, awalnya para relawan dijanjikan upah bervariasi. Koordinator dapur diberi upah sebesar Rp150 ribu per hari, sementara relawan biasa seperti juru masak dan petugas pengantar menerima upah sebesar Rp130 ribu per hari. Namun, dalam praktiknya, jumlah yang diterima jauh lebih rendah dari kesepakatan awal.
“Gaji awal untuk Koordinator Dapur adalah Rp150 ribu per hari, tapi yang kami terima hanya Rp130 ribu. Bahkan, kini upah itu akan dipotong lagi menjadi Rp120 ribu. Untuk relawan biasa, awalnya kami menerima Rp120 ribu per hari, tetapi kini akan dipotong lagi menjadi Rp100 ribu. Padahal janji awalnya adalah Rp130 ribu per hari,” ujar Daeng Lebang.
Selain pemotongan upah, relawan juga mengeluh karena tidak pernah mendapatkan upah lembur meskipun bekerja dari siang hingga malam. Mereka bertugas mengolah makanan MBG untuk ibu hamil, bayi, dan siswa sekolah. Hal ini membuat puluhan relawan marah dan mengamuk di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Peristiwa tersebut terjadi di Dapur SPPG Jalan Mappajalling Daeng Kawang, Kelurahan Sombalabella, Kecamatan Pattallassang, sekitar pukul 09.00 WITA, Jumat (24/10/2025). Para relawan datang ke lokasi untuk mencari F-R, Kepala Dapur SPPG Sombalabella, yang dituding sebagai penyebab keterlambatan dan pemotongan upah mereka.
“Kami datang untuk mencari Kepala Dapur karena gaji kami selalu terlambat dan telah dua kali dilakukan pemotongan. Ini ulah Kepala Dapur karena dia yang menangani semua gaji kami,” kata Daeng Lebang.
SPPG Sombalabella mulai beroperasi pada Senin (8/9/2025) dengan melibatkan 47 relawan yang memiliki tugas beragam dalam penyediaan dan distribusi makanan bergizi. Namun, kondisi yang terjadi saat ini menunjukkan adanya ketidakpuasan di antara relawan.
BGN Janji Evaluasi
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Takalar, Maulana, mengaku telah menerima laporan dari para relawan dan akan segera menindaklanjuti persoalan tersebut.
“Kejadian ini tentunya sangat kami sesalkan dan kami akan menindaklanjuti laporan para relawan serta memastikan hak para relawan terpenuhi,” kata Maulana saat dikonfirmasi Kompas.com melalui sambungan telepon.