Pengakuan Orangtua Korban yang Anaknya Diduga Jadi Korban Pelecehan Kepala Sekolah di Tasikmalaya

admin.aiotrade 17 Des 2025 3 menit 29x dilihat
Pengakuan Orangtua Korban yang Anaknya Diduga Jadi Korban Pelecehan Kepala Sekolah di Tasikmalaya
Pengakuan Orangtua Korban yang Anaknya Diduga Jadi Korban Pelecehan Kepala Sekolah di Tasikmalaya

Kasus Pencabulan oleh Kepala Sekolah di Hotel Pangandaran

Seorang kepala sekolah dasar negeri (SDN) di Kabupaten Tasikmalaya, berinisial UR (55), yang berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) aktif, diamankan warga setelah diduga melakukan tindak pencabulan terhadap lima remaja putri sekaligus di sebuah kamar hotel di kawasan Pantai Pangandaran. Peristiwa ini terjadi pada Kamis, 11 Desember 2025.

Pelaku diketahui sudah menginap selama dua hari di Pangandaran bersama kelima korban yang semuanya berasal dari Kota Tasikmalaya. Para remaja putri ini rata-rata masih berusia 14 tahun dan berstatus di bawah umur. Kejadian ini menimbulkan kegundahan besar di kalangan masyarakat, terutama orang tua korban.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Salah satu orang tua korban dari Indihiang, Kota Tasikmalaya, berinisial N (45), mengaku mengetahui kejadian yang menimpa putrinya setelah dihubungi oleh Polres Pangandaran. Setibanya di kantor polisi Pangandaran, N mendapat cerita bahwa putrinya berhasil kabur dari hotel dan meminta bantuan warga.

"Anak saya bilang kenal pelaku dari media sosial. Sedangkan empat remaja putri lainnya adalah teman-temannya," ungkap N saat dihubungi. Saat ini, pelaku dan para korban masih berada di Polres Pangandaran untuk dimintai keterangan.

N mengungkapkan bahwa putrinya, salah satu korban, mengalami patah tangan dan mengaku sempat ditampar lima kali oleh pelaku ketika berusaha melarikan diri dari kamar penginapan. "Anak saya tangannya patah saat mau kabur dan mengaku ditampar lima kali. Status anak saya dan keempat temannya sama-sama sudah putus sekolah dan berusia 14 tahun," jelas N.

Kasus yang menggemparkan warga Pangandaran ini kini dalam penanganan intensif petugas Polres Pangandaran dan akan dijerat menggunakan Undang-Undang Perlindungan Anak terkait dugaan tindak pidana pencabulan.

Ketua Forum Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Provinsi Jawa Barat, Ato Rinanto, membenarkan dan menyatakan keprihatinannya atas laporan kejadian tersebut. "Ya betul, kami menerima laporan bahwa pelaku adalah seorang kepala sekolah SD negeri di Kabupaten Tasikmalaya, sementara kelima korban remaja putri di bawah umur merupakan warga Kota Tasikmalaya. Peristiwa ini terjadi di salah satu kamar hotel di Pantai Pangandaran," ujar Ato pada Jumat, 12 Desember 2025.

Ato menjelaskan, kasus ini terungkap setelah salah satu korban berhasil berteriak dan melarikan diri dari kamar hotel untuk meminta pertolongan kepada warga sekitar penginapan pada Kamis pagi. Warga Pangandaran yang mendengar teriakan tersebut segera menggerebek kamar pelaku dan mendapati empat remaja putri lainnya masih berada di dalam.

Pelaku yang menjabat Kepala Sekolah dan berstatus PNS itu sempat menjadi sasaran amukan massa yang geram dengan perbuatannya. Aparat kepolisian kemudian mengamankan pelaku ke Polres Pangandaran untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

"Mengingat lokasi kejadian di Pangandaran, sementara pelaku dan korban berasal dari Kota Tasikmalaya, kami akan segera melakukan pendampingan dan berkoordinasi dengan Polres Pangandaran untuk penanganan kasus ini," tambah Ato.

KPAID Jabar juga akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan dan mengantisipasi kemungkinan adanya korban lain dari pelaku yang selama ini memimpin SD Negeri tersebut. Pihaknya berharap korban lain yang mungkin ada segera melapor dan siap memberikan pendampingan. Ato menambahkan bahwa penanganan korban, yang berdomisili di Kota Tasikmalaya, akan dikoordinasikan dengan KPAID Kota Tasikmalaya.


Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan