Pengakuan Trump Pasca Penembakan: "Jika Tahu Bahaya Jabatan, Saya Tak Jadi Calon"

Pengakuan Trump Pasca Penembakan: "Jika Tahu Bahaya Jabatan, Saya Tak Jadi Calon"
Pengakuan Trump Pasca Penembakan: "Jika Tahu Bahaya Jabatan, Saya Tak Jadi Calon"

Presiden Amerika Serikat Mengungkapkan Bahaya Profesi sebagai Kepala Negara

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan setelah menjadi target upaya pembunuhan dalam acara makan malam tahunan Asosiasi Koresponden Gedung Putih (WHCA) di Hotel Hilton Washington pada Sabtu (25/6/2026). Dalam konferensi pers darurat yang digelar di Ruang Briefing James S. Brady, Gedung Putih, Trump secara blak-blakan menyebut bahwa menjadi Presiden Amerika Serikat adalah profesi paling berbahaya di dunia.

Trump yang masih mengenakan tuksedo berbicara di hadapan para wartawan dan didampingi oleh Wakil Presiden JD Vance serta pejabat penegak hukum. Dalam pernyataannya itu, ia melontarkan candaan pahit mengenai keputusan politiknya, menjawab salah satu pertanyaan dari wartawan. Ia menyatakan bahwa jika sejak awal ada yang memperingatkannya mengenai statistik kematian dan ancaman terhadap nyawa seorang presiden, ia mungkin akan berpikir dua kali untuk maju dalam pemilihan.

"Tidak ada yang memberi tahu saya bahwa ini adalah profesi yang sangat berbahaya. Jika Marco (Rubio) memberi tahu saya, mungkin saya tidak akan mencalonkan diri. Mungkin saya akan bilang, 'Saya lewat dulu'," ujar Trump sambil berseloroh.

Perbandingan Tingkat Bahaya Profesi

Trump pun membandingkan tingkat bahaya menjadi presiden dengan profesi ekstrem lainnya. Ia merinci bahwa berdasarkan data yang ia peroleh, persentase kematian presiden saat bertugas mencapai 5,8 persen. Sementara sekitar 8 persen presiden pernah ditembak, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan profesi berisiko seperti pembalap mobil atau penunggang banteng (bull riding).

Meski mengakui besarnya risiko tersebut, Trump menegaskan bahwa dirinya telah menerima kenyataan itu sebagai bagian dari tugas negara. "Ini berbahaya, saya tidak bisa membayangkan ada profesi yang lebih berbahaya. Tapi saya mencintai negara ini dan sangat bangga dengan pekerjaan yang telah kami lakukan," tambahnya.

"Kalian lihat apa yang terjadi, kita memiliki negara yang hebat. Saya rasa kita memiliki negara yang paling sukses dan paling 'panas' di mana pun di dunia. Ini terjadi hanya dalam kurun waktu satu tahun, dan kita akan melakukan hal-hal besar. Namun, dengan itu datang pula risiko," tambahnya.

Trauma dan Kondisi Sang Istri

Dalam konferensi pers dadakan yang digelar pasca-insiden tersebut, Trump secara emosional juga menyoroti bahwa serangan di Hotel Hilton Washington ini merupakan upaya pembunuhan ketiga kalinya yang ia hadapi sejak tahun 2024. Ia mengingatkan publik pada insiden berdarah di Butler, Pennsylvania, serta upaya serupa di West Palm Beach, Florida.

Trump mengungkapkan bahwa rentetan kejadian ini memberikan dampak traumatis, terutama bagi Ibu Negara, Melania Trump, yang turut dievakuasi bersamanya dari panggung perjamuan. "Itu adalah pengalaman yang cukup traumatis baginya. Banyak hal terjadi di sana dengan sangat cepat," aku Trump.

Trump juga mengaku, bahwa istrinya sering memperingatkan tentang risiko pekerjaannya. "Dia sudah berkali-kali mengatakan kepada saya, 'Anda berada di pekerjaan yang berbahaya,' tetapi itu juga berlaku untuknya. Maksud saya, itu juga berbahaya baginya," tambah Trump.

Detik-Detik Penembakan

Insiden yang mendasari pernyataan Trump tersebut pecah pada Sabtu malam (25/4/2026) sekitar pukul 20:30 waktu setempat. Saat para tamu undangan sedang menikmati hidangan pembuka berupa salad burrata, suara rentetan tembakan, sekitar lima hingga delapan kali, terdengar dari arah lobi tepat di luar ruang dansa utama. Kekacauan seketika melanda ruangan yang penuh dengan pejabat senior dan jurnalis papan atas.

Agen Secret Service segera menerjang panggung untuk melindungi Presiden dan Ibu Negara Melania Trump. Trump sempat tersandung saat dilarikan keluar panggung menuju ruangan aman (secure suite) di dalam hotel. Di tengah kepanikan, teriakan "bersembunyi" menggema, memaksa para tamu untuk berlindung di bawah meja-meja bundar.

Tersangka penembakan diidentifikasi sebagai Cole Tomas Allen (31), seorang warga asal Torrance, California, yang berprofesi sebagai guru dan pengembang gim video. Allen diketahui merupakan tamu terdaftar di hotel tersebut dan berhasil menerobos barikade keamanan dengan membawa senapan, pistol, serta beberapa bilah pisau sebelum akhirnya dilumpuhkan oleh petugas.

Trump memberikan pujian tinggi bagi Secret Service, terutama bagi seorang agen yang tertembak di bagian dada namun selamat berkat rompi anti peluru. "Sangat mengesankan. Rompi itu melakukan tugasnya," kata Trump setelah berkomunikasi langsung dengan agen tersebut.

Momen Bersejarah Trump dan Insan Pers

Kehadiran Donald Trump dalam jamuan makan malam tahunan di Washington ini sebenarnya menjadi momen yang sangat dinantikan. Dikutip dari AP News, ini adalah kali pertama ia hadir sebagai presiden dalam acara yang diselenggarakan oleh para jurnalis yang meliput pemerintahanannya. Sebelumnya, Trump tercatat absen selama masa jabatan pertamanya maupun tahun pertama periode keduanya, meski ia pernah hadir sebagai tamu pada tahun 2011 dan 2015.

Acara ini sering kali memicu perdebatan mengenai batasan profesionalisme antara jurnalis dan narasumber, terutama mengingat hubungan pemerintahan Trump yang kerap diwarnai perselisihan dengan media. Sebelum insiden pecah, Trump memasuki ruangan dengan iringan lagu "Hail to the Chief" dan sempat menyapa jurnalis-jurnalis terkemuka di podium dengan riang.

Namun, di balik kemeriahan tersebut, ketegangan tetap terasa. Masa jabatan kedua Trump terus dibayangi konflik pengadilan dan pembatasan akses pers di institusi pemerintahan seperti Pentagon. Namun secara mengejutkan, insiden yang mengancam nyawanya ini justru memicu pesan persatuan dari sang Presiden.

Meskipun hubungannya dengan media penuh gejolak, Trump menyebut bahwa tragedi ini secara aneh telah menyatukan semua orang di dalam ruangan, mulai dari Republikan, Demokrat, hingga insan pers. "Kejadian ini benar-benar menyatukan kita. Saya melihat ruangan yang benar-benar bersatu," ungkap Trump dalam konferensi pers usai kejadian.

Trump juga menyerukan kepada seluruh warga Amerika untuk berkomitmen menyelesaikan perbedaan politik secara damai dan menjauhi kekerasan. Insiden di Washington Hilton ini tercatat sebagai ancaman keamanan ketiga yang dihadapi Trump sejak tahun 2024, menyusul upaya pembunuhan di Butler dan West Palm Beach. Akibat peristiwa mencekam ini, jamuan makan malam WHCA resmi dibatalkan dan dijadwalkan ulang dalam 30 hari ke depan dengan sistem keamanan yang jauh lebih canggih. Termasuk perlindungan terhadap serangan drone dan penggunaan kaca anti peluru.