Pengalaman Pilu Sopir Odong-odong di Muara Angke, Kendaraan Jadi Hunian

admin.aiotrade 12 Nov 2025 3 menit 14x dilihat
Pengalaman Pilu Sopir Odong-odong di Muara Angke, Kendaraan Jadi Hunian

Profesi Sopir Odong-Odong di Muara Angke

Di kawasan Muara Angke, Jakarta Utara, profesi sopir odong-odong menjadi salah satu sumber penghidupan bagi banyak warga setempat. Odong-odong, yang biasanya digunakan untuk mengangkut barang, kini dimanfaatkan sebagai alat transportasi untuk membawa penumpang dari Terminal Muara Angke ke Pelabuhan Kali Adem atau Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Hal ini terjadi karena belum adanya transportasi umum seperti Jaklingko yang menghubungkan kedua lokasi tersebut.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Keberadaan odong-odong sangat dibutuhkan masyarakat sekitar. Setiap menitnya, puluhan kendaraan ini berlalu lalang, membawa penumpang yang ingin pergi ke tempat tujuan tertentu. Namun, meskipun tampak mudah, profesi ini memiliki tantangan dan duka yang tidak bisa diabaikan.

Duka Sopir Odong-Odong

Sopir odong-odong Mukhlis (49) mengaku bahwa menjalani pekerjaannya ini tidak selalu mudah. Ia menyewa odong-odong dari orang lain dengan harga Rp 100.000 per hari. Pendapatan harian Mukhlis berkisar antara Rp 150.000 hingga Rp 200.000, tetapi ia harus membeli bensin sendiri sebesar Rp 10.000 per hari. Dengan demikian, uang bersih yang ia dapatkan hanya sekitar Rp 50.000 hingga Rp 100.000 per hari.

Pendapatan ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang tinggal di Cilacap, Jawa Tengah. Meski pendapatannya tidak stabil, Mukhlis selalu berusaha mensyukuri apa pun yang ia dapatkan setiap hari.

Peningkatan Pendapatan Saat Rob

Ketika terjadi banjir rob, pendapatan Mukhlis bisa meningkat. Banyak warga yang tidak berani menggunakan kendaraan pribadi karena takut terkena banjir. Mereka lebih memilih menggunakan odong-odong untuk berlalu lalang dari rumah ke Terminal Muara Angke. Selain itu, wisatawan juga sering menggunakan odong-odong untuk menuju ke Pelabuhan Kali Adem.

"Pada saat banjir, pendapatan bisa mencapai Rp 200.000 hingga Rp 300.000 dalam sehari," ujar Mukhlis.

Ia bekerja dari pagi hingga malam hari, mulai dari subuh hingga pukul 20.00 WIB. Pagi hari biasanya menjadi waktu yang paling ramai karena ada anak sekolah, wisatawan, dan pedagang ikan yang membutuhkan transportasi.

Tinggal di Odong-Odong

Karena pendapatan yang tidak menentu, Mukhlis tidak berani mengontrak rumah. Ia memilih untuk tinggal di odong-odong yang menjadi sumber penghidupannya. Keputusan ini diambil karena ia tinggal sendirian di Jakarta, sedangkan istri dan tiga anaknya tinggal di kampung halaman.

"Kalau mengontrak rumah, biayanya sekitar Rp 400.000 per bulan. Tapi saya lebih memilih menabung uang untuk kebutuhan keluarga dan pulang ke kampung," kata Mukhlis.

Setiap malam, ia memarkirkan odong-odongnya di depan warung yang buka 24 jam agar aman. Meski tidur di atas kendaraan tidak nyaman, terutama ketika hujan, ia tetap melakukannya.

Korban Kejahatan

Selain kesulitan hidup, Mukhlis juga sering menjadi korban kejahatan. Barang berharganya seperti ponsel dan dompet pernah hilang saat ia tertidur. "Barang hilang karena kita tidur pulas, kebanyakan orang mabuk atau apa yang mengambil," jelasnya.

Sopir odong-odong lain, Paryono (42), juga memilih untuk tidur di kendaraannya. Ia sudah 10 tahun tidak mengontrak rumah dan hanya tidur di odong-odongnya. Ia memarkirkan kendaraannya di terminal dan dermaga agar lebih aman.

Tidak Bisa Dipertahankan

Meski menjadi andalan warga, keberadaan odong-odong di Muara Angke dinilai tidak bisa dipertahankan. Kendaraan ini tidak memiliki izin untuk menjadi transportasi umum. Menurut Kasudinhub Jakarta Utara Hendrico Tampubolon, odong-odong sebenarnya digunakan untuk angkutan barang, bukan penumpang.

"Kendaraan ini tidak memenuhi standar keselamatan sebagai angkutan penumpang. Kita lebih mementingkan keselamatan daripada kebutuhan transportasi," jelasnya.

Ancaman Keselamatan

Pengamat Transportasi Deddy Herlambang menilai, odong-odong tidak boleh digunakan untuk mengangkut penumpang karena mengancam keselamatan. Kecelakaan yang terjadi bisa berdampak fatal, karena penumpang akan keluar dari bak kendaraan jika terjadi tabrakan.

Namun, dalam kondisi darurat seperti rob, odong-odong bisa digunakan untuk membantu warga yang terdampak. Namun, operasinya hanya diperbolehkan di jalan kampung dengan jarak pendek.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan