Pengamat: Lonjakan Permintaan Emas Jadi Peluang Produksi BUMN Tambang Naik

Pengamat: Lonjakan Permintaan Emas Jadi Peluang Produksi BUMN Tambang Naik


Di tengah meningkatnya permintaan emas global, perusahaan tambang nasional di Indonesia memiliki kesempatan besar untuk memperkuat kapasitas produksi dan pengolahan logam mulia dalam negeri. Tren ini dinilai menjadi momentum strategis untuk menangkap peluang kenaikan harga emas sekaligus mengurangi defisit perdagangan emas yang terjadi selama beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan data dari World Gold Council, total permintaan emas global pada kuartal I 2026 mencapai 1.231 ton, dengan peningkatan sebesar 2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selain itu, nilai permintaan kuartalan melonjak 74% menjadi rekor US$193 miliar, terutama didorong oleh lonjakan harga emas. Permintaan emas batangan dan koin juga meningkat signifikan, mencapai 474 ton atau naik 42%, menjadi level tertinggi kedua sepanjang sejarah. Kenaikan ini terutama dipengaruhi oleh investor Asia yang agresif membeli produk investasi emas.

Herry Gunawan, pengamat BUMN sekaligus Direktur NEXT Indonesia Center, menyatakan bahwa peningkatan permintaan emas global memberikan peluang besar bagi perusahaan tambang pelat merah untuk meningkatkan kinerja usaha. "Di saat permintaan terhadap emas tinggi, tentu ini menjadi sentimen positif bagi BUMN tambang emas. Kondisi seperti ini akan mendorong kenaikan harga. Oleh karena itu, peningkatan produksi sangat penting," ujarnya.

Menurut Herry, peningkatan produksi emas nasional memiliki dua manfaat utama. Pertama, membuka peluang kenaikan profit di tengah tren harga emas yang terus menguat. Kedua, membantu mengurangi defisit neraca perdagangan emas Indonesia. Sejak 2021, Indonesia tercatat sebagai net importer emas, karena impor lebih besar dibanding ekspor guna memenuhi kebutuhan pasar domestik.

Untuk memperkuat kapasitas industri emas nasional, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), anak usaha holding pertambangan MIND ID, sedang membangun pabrik manufaktur emas logam mulia di Gresik, Jawa Timur. Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi hingga 30 ton per tahun. Kehadiran fasilitas baru ini akan melengkapi kapasitas produksi emas Antam di Pulogadung, Jakarta, yang saat ini mencapai 40 ton per tahun.

Pasokan emas batangan untuk mendukung rantai produksi berasal dari tambang emas Antam di Jawa Barat sekitar 1 ton per tahun, serta Precious Metal Refinery (PMR) PT Freeport Indonesia yang mampu mengolah lumpur anoda menjadi emas batangan sekitar 50 hingga 60 ton per tahun.

Melalui rantai pasok terintegrasi tersebut, pemerintah bersama Grup MIND ID berupaya memperkuat ekosistem bullion nasional guna memenuhi permintaan emas logam mulia domestik yang diperkirakan mencapai sekitar 70 ton per tahun dan terus meningkat. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan Indonesia dapat lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan emas dan memperkuat posisi ekonomi nasional di tengah fluktuasi pasar global.