
Saham dari PT Bumi Resources Tbk (BUMI), yang merupakan emiten afiliasi Grup Salim dan Bakrie, mengalami kenaikan signifikan pada perdagangan saham hari Rabu (10/12). Harga saham BUMI melonjak sebesar 22,79% ke level Rp 334. Dalam periode tahun berjalan (year to date), harga saham perusahaan ini telah naik hingga 183,05%, sementara dalam tiga bulan terakhir, kenaikan mencapai 206,42%.
Kenaikan harga saham BUMI didorong oleh aktivitas korporasi yang semakin gencar dilakukan perusahaan. Selain itu, saham BUMI disebut-sebut sedang mempertimbangkan peluang untuk masuk ke dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada periode Februari 2026.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut pengamat pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor, Hendra Wardana, isu masuknya saham BUMI ke MSCI kini menjadi perhatian serius di pasar. Menurutnya, narasi tersebut bukan lagi sekadar rumor, tetapi didukung oleh kapitalisasi pasar dan free float yang menjadi acuan utama dalam penilaian MSCI.
“Dengan struktur kepemilikan publik yang semakin baik serta likuiditas yang meningkat, pasar mulai mengantisipasi kemungkinan BUMI naik kelas ke panggung global,” ujar Hendra saat dihubungi.
Berdasarkan perhitungan free float sebesar 28,28%, Hendra menyatakan bahwa harga saham BUMI perlu berada di kisaran Rp 305 agar memenuhi kriteria MSCI. Namun jika menggunakan free float terbaru versi IDX/KSEI sebesar 33,818%, batas kelayakan untuk MSCI turun menjadi sekitar Rp 275 per saham.
Menurut Hendra, dari perspektif ekonomi pasar, skenario masuknya BUMI ke MSCI semakin realistis. Ia menekankan bahwa harga yang dibutuhkan untuk memenuhi persyaratan tidak lagi terlalu jauh dari level perdagangan saat ini.
Merujuk pada pergerakan pasar terbaru, Rabu (10/12), investor asing tercatat melakukan net buy sebesar Rp 520 miliar, dengan total volume transaksi mendekati 1,8 miliar lembar saham. Menurut Hendra, BUMI kini bukan hanya sebagai saham trading, tetapi juga calon investasi yang tengah diuji kelayakannya oleh pasar global. Ia juga menyebut arus dana asing masuk secara konsisten disertai lonjakan likuiditas.
“Meski demikian, perlu digarisbawahi bahwa masuk MSCI adalah proses yang menuntut konsistensi, baik dari sisi harga, kapitalisasi pasar, maupun likuiditas,” ujar Hendra.
Lebih lanjut, Hendra menyatakan bahwa volatilitas jangka pendek saham BUMI tetap terbuka, terutama setelah lonjakan berbasis ekspektasi. Namun, jika BUMI mampu bertahan di atas ambang harga kelayakan dan menjaga likuiditas hingga periode evaluasi MSCI, maka peluang konfirmasi inklusi akan semakin besar.
Dalam skenario tersebut, Hendra menyebut tidak menutup kemungkinan saham BUMI diperdagangkan di kisaran Rp 500 per saham. Menurutnya, aliran dana pasif dari ETF maupun reksa dana indeks global bisa deras setelah BUMI resmi masuk ke dalam indeks MSCI.
“Dana jenis ini cenderung masuk secara bertahap namun berkelanjutan, sehingga dapat menciptakan permintaan struktural yang menopang harga di level yang lebih tinggi,” ungkap Hendra.
Geliat Aksi Bumi Resources (BUMI)
Di tengah lonjakan harga, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga tengah proses untuk mengakuisisi tambang emas tahap produksi Jubilee Metals Limited (JML) di Australia. Selain itu, perusahaan kini juga menggenggam 45% saham PT Laman Mining, perusahaan tambang bauksit di Kalimantan Barat.
Pada tahun ini, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi primadona di kalangan investor pasar modal setelah merampungkan akuisisi 100% saham Wolfram Limited (WFL), perusahaan tambang emas raksasa berbasis Australia. Perusahaan juga telah menerbitkan obligasi dengan mencari dana hingga Rp 5 triliun untuk ekspansi besar-besaran ini.
BUMI yang bergerak di sektor pertambangan ini bahkan juga mengungkapkan rencana untuk melakukan aksi akuisisi baru di sektor mineral. Emiten yang terafiliasi dengan konglomerat dari Grup Salim dan Grup Bakrie ini akan membuka peluang ekspansi pada bidang potensial lainnya.
Direktur Bumi Resources, Christopher Fong, menyampaikan perusahaan kini tengah memprioritaskan ekspansi di sektor logam, mineral, dan industri hilir. Ia menyebut akuisisi baru itu dalam rentang 6–12 bulan ke depan. Ia mengaku langkah ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi untuk mengurangi ketergantungan pada bisnis batu bara termal.
“Sambil tetap mengoperasikan dan mempertahankan kinerja operasi batu bara termal kami,” ucap Christopher dalam paparan publik, Senin (1/12).