
Dampak Ekonomi dari Revitalisasi Sekolah di Sekitar Warga
Warga sekitar sekolah yang sedang direvitalisasi sering kali terlibat langsung dalam proses pembangunan. Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga turut berkontribusi dalam berbagai aspek pekerjaan. Ada yang bekerja sebagai tenaga konstruksi, sementara sebagian lainnya menjalankan usaha yang lebih bergeliat akibat adanya proyek tersebut.
Dampak ekonomi terhadap warga sekitar bisa dilihat dari kisah Bais. Ia adalah salah satu warga yang tinggal di sekitar Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Trituna, Kabupaten Subang. Bais turut serta dalam pekerjaan konstruksi saat SLBN tersebut direvitalisasi.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut Bais, keberadaan proyek ini memberikan dampak positif terhadap perekonomian warga. Sejak awal pengerjaan, sekitar 40 warga dari lingkungan sekitar terlibat sebagai tenaga kerja. Meskipun jumlahnya kini berkurang seiring dengan berkurangnya volume pekerjaan, ia tetap bersyukur karena banyak keluarga yang sebelumnya menganggur kini memperoleh penghasilan.
Ia menilai bahwa program ini berhasil memberdayakan masyarakat karena warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut berkontribusi langsung dalam pembangunan. “Kami merasa dilibatkan dan hasilnya bisa dirasakan bersama,” ujarnya di SLBN Trituna, Senin 13 November 2025.
Kepala Sekolah: Kebijakan Berbasis Kepekaan Sosial
Kepala SLBN Trituna, Lela Latifah, mengatakan bahwa sekitar 60% pekerja proyek berasal dari warga sekitar. Menurut dia, kebijakan ini bukan semata demi efisiensi, tetapi juga wujud kepedulian terhadap lingkungan sosial di sekitar sekolah. “Kami ingin pembangunan ini tak hanya berdampak fisik, tapi juga menjadi bagian dari kebangkitan ekonomi warga,” katanya.
Bercerita tentang kondisi sekolah sebelum diperbaiki, Lela mengatakan bahwa ruangan-ruangan cenderung kumuh. Kini, ruangan sekolah telah berubah menjadi bangunan baru yang lengkap dengan ruang pembelajaran khusus dan fasilitas vokasi bagi murid-murid berkebutuhan khusus.
Peningkatan Aktivitas Ekonomi di Sekitar Sekolah
Kepala SMP Negeri 1, Purbalingga, Eni Rundiati, mengatakan bahwa revitalisasi sekolah telah membuat suasana perekonomian di sekitar sekolah bergeliat. Sebelum revitalisasi, warung-warung kecil di depan sekolah sepi. Kini, suasananya kembali ramai. “Ibu-ibu menjual nasi bungkus untuk para tukang. Pekerja bangunan yang dulunya menganggur, kini punya penghasilan,” tuturnya.
Di SMPN 1 Purbalingga, revitalisasi sekolah dianggarkan sebesar Rp 1,4 miliar. “Kami menyusun anggaran biaya secara rinci dan terbuka agar dana benar-benar digunakan sesuai kebutuhan dan memberi manfaat bagi banyak pihak,” tuturnya.
Efek Multiplier dalam Revitalisasi Sekolah
Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memproyeksikan ada multiplier effect dalam revitalisasi sekolah senilai Rp 27,7 triliun. Multiplier effect ini tercipta di sektor konstruksi yang meliputi tenaga kerja, bahan bangunan, alat berat, dan lainnya.
Berdasarkan perhitungan Kemendikdasmen, setiap Rp 1 yang digelontorkan ke sektor konstruksi, bisa menghasilkan Rp 1,8 nilai tambah ekonomi. Artinya, dari Rp 15,4 triliun yang terserap, sekitar Rp 27,7 triliun nilai ekonomi tercipta. Tak kurang dari 480.000 tenaga kerja terserap, dan hampir 100.000 UMKM ikut bergerak, mulai dari pemasok bahan bangunan, warung makan, hingga percetakan.
Dampak Jangka Panjang pada Perekonomian Nasional
Mendikdasmen, Abdul Mu’ti, mengatakan bahwa revitalisasi sekolah menciptakan dampak berganda konservatif pada sektor konstruksi, mulai dari tenaga kerja, bahan bangunan, hingga penyediaan alat berat.
Revitalisasi sekolah juga akan mendatangkan kesempatan kerja untuk kurang lebih 300.000 masyarakat dan sekitar 90 UMKM, baik sebagai pekerja bangunan, insinyur, pengawas proyek, pemasok material lokal, penyedia konsumsi, dan berbagai peran lainnya dalam proses revitalisasi.
Ia menambahkan bahwa jangkauan geografis program revitalisasi sangat luas, memberikan manfaat ekonomi langsung kepada sekitar 9.183 desa atau 4.818 kecamatan di seluruh Indonesia. Revitalisasi juga dikatakannya bisa berdampak kepada peningkatan pendapatan daerah melalui pajak serta konsumsi lokal.