Pengusaha Sepatu Soroti Tarif AS, Kenaikan Impor dan Keterbatasan Modal

admin.aiotrade 11 Des 2025 3 menit 16x dilihat
Pengusaha Sepatu Soroti Tarif AS, Kenaikan Impor dan Keterbatasan Modal

aiotrade.CO.ID - JAKARTA.

Perkembangan Industri Alas Kaki

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) dan Himpunan Pengusaha Alas Kaki Nusantara (Hipan) melakukan pemetaan terhadap peluang dan tantangan yang dihadapi industri alas kaki pada tahun 2026. Dalam laporan mereka, kondisi industri alas kaki pada tahun ini menunjukkan pergerakan yang cukup dinamis.

Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin), industri alas kaki mencatatkan peningkatan dalam berbagai aspek, termasuk investasi, ekspor, dan impor. Kemenperin melaporkan bahwa investasi yang masuk ke industri ini pada periode Januari hingga September 2025 mencapai Rp 19,23 triliun. Angka ini meningkat sebesar 73,24% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, yang hanya sebesar Rp 11,1 triliun. Nilai investasi tersebut juga telah melebihi capaian tahun 2024, yang tercatat sebesar Rp 15,2 triliun.

Selain itu, nilai ekspor produk alas kaki juga mengalami pertumbuhan sebesar 10,19% secara tahunan atau year on year (yoy), dari US$ 6,18 miliar menjadi US$ 6,81 miliar hingga kuartal III-2025. Namun, peningkatan ekspor ini diiringi dengan kenaikan impor. Nilai impor produk alas kaki meningkat sebesar 10,75% (yoy) dari US$ 1,58 miliar menjadi US$ 1,75 miliar hingga kuartal III-2025.

Faktor-faktor Pendorong Pertumbuhan

Ketua Umum Aprisindo, Eddy Widjanarko, menyatakan bahwa pertumbuhan investasi dan ekspor terdorong oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah efek perang dagang yang dimulai oleh Amerika Serikat (AS). Kondisi ini membuka peluang investasi melalui relokasi pabrik dari negara-negara seperti China dan Taiwan. Menurut Eddy, Indonesia memiliki daya tarik yang lebih besar dibandingkan negara-negara pesaing seperti Bangladesh dan Kamboja.

Eddy juga menyebut bahwa Indonesia dan India menjadi negara yang banyak dilirik sebagai tujuan relokasi pabrik. Ia menjelaskan bahwa industri alas kaki Indonesia sudah berkembang selama lebih dari 40 tahun, sehingga saat ini berada dalam posisi matang dan stabil.

Tantangan yang Dihadapi

Meskipun ada pertumbuhan, industri alas kaki pada tahun ini tetap menghadapi sejumlah tantangan. Direktur Eksekutif Aprisindo, Yoseph Billie Dosiwoda, menyoroti tarif resiprokal ke pasar AS sebesar 19% yang berlaku sejak 7 Agustus 2025. Tarif ini berdampak pada penurunan daya beli di AS, yang masih menjadi pasar utama dengan kontribusi sekitar 30% terhadap total ekspor produk alas kaki Indonesia.

Billie berharap pemerintah dapat melakukan negosiasi agar tarif resiprokal tersebut bisa diturunkan. Selain itu, ia menyoroti dua tantangan utama di pasar domestik, yaitu penurunan daya beli dan maraknya impor ilegal serta sepatu tiruan. Penurunan daya beli terlihat dari penurunan pesanan pada musim puncak seperti Ramadan dan Idul Fitri, serta tahun ajaran baru sekolah.

Eddy juga menyoroti peningkatan impor produk alas kaki dari China. Ia menegaskan pentingnya proteksi dari pemerintah karena industri lokal sulit bersaing dengan harga yang lebih murah dari produk impor.

Harapan untuk Tahun 2026

Ketua Umum Hipan, David Chalik, mendesak pemerintah untuk melindungi industri lokal dari gempuran produk impor. Ia menilai bahwa pengusaha kecil dan menengah sedang kesulitan bertahan karena harga produk impor yang sangat murah. David juga meminta pemerintah untuk mempermudah importasi komponen dan memberikan stimulus fiskal kepada IKM.

David menyarankan tiga catatan untuk meningkatkan prospek industri pada tahun 2026, yaitu dukungan pemerintah dalam bentuk kebijakan fiskal, pengendalian impor, dan kemudahan perizinan. Meski masih ada harapan, Hipan tetap bersikap wait and see terhadap prospek industri pada tahun depan.

Aprisindo menargetkan pertumbuhan industri sebesar 10%. Jika berbagai kendala dapat teratasi, Eddy meyakini pertumbuhan akan melampaui angka tersebut. Billie menyoroti pentingnya persiapan menyambut Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU CEPA) yang diharapkan berlaku pada kuartal I-2027. Perjanjian ini akan membuka peluang ekspor ke pasar Eropa, sehingga diperlukan iklim industri yang kondusif.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan