Peningkatan Kinerja Industri Pergadaian Tidak Hanya Akibat Menurunnya Daya Beli

admin.aiotrade 19 Okt 2025 3 menit 16x dilihat
Peningkatan Kinerja Industri Pergadaian Tidak Hanya Akibat Menurunnya Daya Beli

Perkembangan Industri Pergadaian di Indonesia

Industri pergadaian di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, meskipun tidak seluruhnya dipengaruhi oleh penurunan daya beli masyarakat. Berbagai pihak yang terlibat dalam industri ini menyatakan bahwa kinerja penyaluran pinjaman meningkat karena berbagai faktor, termasuk kesadaran masyarakat akan kebutuhan likuiditas dan solusi keuangan alternatif.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Agusman, menjelaskan bahwa bisnis pergadaian berlandaskan pada pinjaman beragunan. Ia menekankan bahwa sepanjang masyarakat memiliki aset dengan nilai ekonomis, mereka dapat memanfaatkan layanan gadai untuk memenuhi kebutuhan likuiditas mereka.

"Oleh karena itu, tidak semata-mata terkait dengan kondisi ekonomi tertentu. Industri pergadaian betul-betul mengawal likuiditas orang yang membutuhkan. Jadi, dalam keadaan perekonomian apapun, bisnis gadai sangat favorit sebetulnya karena bisa menyediakan likuiditas berbasis barang," ujar Agusman saat konferensi pers di Jakarta.

Sementara itu, perusahaan pergadaian swasta PT Budi Gadai Indonesia, yang berasal dari Sumatera Utara, menilai peningkatan transaksi tidak hanya disebabkan oleh melemahnya daya beli masyarakat. Direktur PT Budi Gadai Indonesia, Budiarto Sembiring, berpendapat bahwa masyarakat semakin sadar bahwa gadai adalah solusi keuangan yang praktis dan terpercaya.

"Sekarang, banyak yang menggunakan layanan gadai bukan hanya untuk kebutuhan mendesak, tetapi juga untuk mendukung usaha atau kebutuhan produktif lainnya," ujarnya.

Budiarto menjelaskan bahwa penyaluran pinjaman gadai di PT Budi Gadai Indonesia telah mencapai Rp 199 miliar per September 2025. Angka ini tumbuh sebesar 31% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Seluruh penyaluran pinjaman masih berasal dari produk gadai, sehingga porsinya mencapai 100% dari total pinjaman perusahaan.

PT Gadai ValueMax Indonesia juga menyampaikan pandangan serupa. Direktur Utama Gadai ValueMax Indonesia, Brian Wiraatmadja, berpendapat bahwa pertumbuhan kinerja pinjaman industri pergadaian lebih menunjukkan bahwa pergadaian telah menjadi solusi keuangan yang inklusif dan mudah diakses, terutama bagi pelaku UMKM dan pekerja sektor informal.

"Dengan demikian, peningkatan penyaluran pinjaman lebih merefleksikan peningkatan literasi keuangan dan kepercayaan masyarakat terhadap layanan gadai, bukan hanya tekanan ekonomi," ucap Brian.

Brian juga menyadari bahwa dalam situasi ekonomi tertentu, seperti tekanan inflasi atau likuiditas, pergadaian dapat menjadi penopang likuiditas rumah tangga. Oleh karena itu, perusahaan terus menyeimbangkan aspek bisnis dengan misi sosial, yakni membantu masyarakat memperoleh akses dana dengan cepat dan aman, serta mengikis stigma rasa malu terhadap jasa pergadaian.

PT Gadai ValueMax Indonesia mencatat pertumbuhan penyaluran pinjaman sebesar 500% per September 2025, jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sayangnya, nilai penyaluran pinjaman yang dibukukan tidak disebutkan.

Perkumpulan Perusahaan Gadai Indonesia (PPGI) juga menilai pertumbuhan kinerja industri pergadaian tidak hanya disebabkan oleh penurunan daya beli masyarakat. Sekretaris PPGI, Holilur Rohman, menyatakan bahwa kemudahan dalam memberikan kredit menjadi faktor utama yang dicari masyarakat.

Data dari OJK menunjukkan bahwa penyaluran pinjaman industri pergadaian mencapai Rp 108,30 triliun per Agustus 2025. Nilai ini mengalami pertumbuhan sebesar 28,67% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara rinci, OJK menjelaskan bahwa pembiayaan terbesar industri pergadaian disalurkan dalam bentuk produk gadai sebesar Rp 90,08 triliun. Angka ini mencakup 83,17% dari total pembiayaan yang disalurkan industri.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan