
Peran Teknologi AI dalam Mencegah Penipuan Digital
Di tengah meningkatnya risiko manipulasi identitas di ruang siber, teknologi autentikasi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) semakin menjadi perhatian utama. Vida, penyedia solusi identitas digital dan pencegahan penipuan, menilai bahwa inovasi ini sangat penting untuk memperkuat kepercayaan digital.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Founder & Group CEO Vida, Niki Luhur, menjelaskan bahwa ancaman penipuan saat ini tidak hanya memanfaatkan celah teknologi, tetapi juga memanipulasi perilaku dan kepercayaan pengguna. Modus penipuan seperti phishing dan pengambilalihan akun (account takeover) bisa menyebabkan kerugian finansial yang besar.
“Teknologi deepfake kini sudah mencapai titik di mana sulit membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. Karena itu, peran lembaga seperti VIDA sebagai Certificate Authority penting untuk menjaga integritas identitas digital,” ujar Niki dalam keterangan tertulis, Sabtu (8/11/2025).
Solusi Autentikasi Biometrik dari Vida
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Vida mengembangkan FaceToken dan PhoneToken, dua solusi autentikasi biometrik yang memadukan machine learning dan enkripsi tingkat tinggi. Teknologi ini memungkinkan verifikasi identitas tanpa kata sandi melalui deteksi wajah (liveness detection) dan perangkat yang sudah terdaftar. Dengan demikian, transaksi digital tetap cepat dan aman. Implementasinya di sektor keuangan disebut mampu menurunkan transaksi tidak sah hingga 90 persen.
Selain itu, Vida juga mengembangkan kerangka keamanan berbasis AI (AI-native security framework) yang menggabungkan kemampuan computer vision, fraud detection engine, serta analisis perangkat. Langkah ini ditujukan untuk mendeteksi pola serangan yang lebih kompleks seperti injection attack dan virtual camera spoofing.
“Penipuan sering memanfaatkan reverse engineering tools dan virtual camera injection untuk menipu sistem biometrik. Karena itu, kami harus memahami bagaimana serangan terjadi mulai dari perangkat hingga jaringan,” kata Niki.
Ancaman Baru dalam Ekosistem Kejahatan Digital
Niki juga menyoroti fenomena baru di ekosistem kejahatan digital, yaitu "scan-as-a-service", di mana jaringan penipu menyediakan akses massal ke akun digital. Salah satu temuan adalah adanya "device farm" di Latvia yang melayani sekitar 15.000 pelaku penipuan dan mengakses 48 juta akun digital.
Menurut Niki, pola operasi tersebut menunjukkan kejahatan siber kini berjalan terorganisir layaknya perusahaan, lengkap dengan infrastruktur dan berbagi data. Untuk itu, ia menekankan perlunya kolaborasi antara perbankan, fintech, asosiasi industri, dan penyedia layanan keamanan.
“Sektor industri harus bekerja sama dengan skala yang sama besar untuk memperkuat ketahanan ekosistem digital nasional,” ucapnya.
Tren Penipuan Berbasis Deepfake
Berdasarkan "Vida Fraud Intelligence Report 2025", kasus penipuan berbasis deepfake di Asia Pasifik tercatat melonjak 1.550 persen. Di Indonesia, 97 persen pelaku bisnis menjadi target social engineering.
Sepanjang 2022–2024, kerugian perbankan akibat penipuan digital diperkirakan lebih dari Rp 2,5 triliun, terutama akibat penggunaan autentikasi konvensional seperti SMS OTP dan kata sandi.
Dengan meningkatnya ancaman digital, Vida terus berupaya mengembangkan solusi yang lebih canggih dan efektif untuk melindungi identitas digital masyarakat. Kolaborasi antara berbagai pihak menjadi kunci dalam membangun ekosistem digital yang lebih aman dan andal.