
Mengubah Stigma Negatif tentang Lembasa
Lembaga pemasyarakatan (lapas) seringkali dianggap sebagai tempat yang penuh dengan masalah. Mulai dari peredaran narkoba, penggunaan handphone ilegal, hingga kelebihan kapasitas tahanan, stigma ini terus menghiasi pikiran masyarakat. Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Purwokerto, Aliandra Harahap, mengakui bahwa tantangan terbesar yang dihadapi adalah bagaimana mengubah persepsi negatif tersebut.
Kunjungan Aliandra ke kantor Tribun Banyumas beberapa waktu lalu menunjukkan komitmennya untuk menciptakan perubahan. Dalam pertemuan tersebut, ia datang bersama tim muda yang bersemangat dan siap memberikan inovasi dalam menjalankan tugasnya.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Aliandra mengungkapkan bahwa mindset publik terhadap penjara sudah sangat miring. "Selalu mindset-nya masalah handphone, masalah narkoba yang ada di dalam," ujarnya. Meski mengakui adanya tantangan, seperti kelebihan kapasitas yang mencapai 300 persen dan jumlah pegawai yang minim, ia juga menegaskan bahwa banyak isu yang beredar tidak sesuai dengan fakta. Contohnya, anggapan bahwa transaksi narkoba terjadi di dalam lapas.
Peran Media dalam Membentuk Narasi
Aliandra memandang media sebagai mitra penting dalam upaya mengubah narasi tentang lapas. Ia berharap media dapat lebih sering mengekspos program pembinaan dan kegiatan kerja yang dilakukan di dalam lapas. Tujuannya adalah agar para warga binaan merasa diperhatikan dan diakui. Menurutnya, sebagian besar penghuni lapas bukanlah penjahat murni, melainkan korban dari situasi yang mereka alami.
"Kami meyakini mereka bukanlah orang jahat tetapi terpaksa, kalaupun satu per tiganya mungkin dia mereka betul-betul jahat sama kami lihat ini juga lingkungan yang bentuk-bentuk mereka seperti itu," katanya.
Aliandra juga menekankan bahwa lingkungan adalah faktor krusial dalam membentuk seseorang, baik itu warga binaan maupun petugas. Ia percaya bahwa dengan memberikan ruang bagi sisi positif dan humanis dari para warga binaan, akan bisa membangun harapan baru.
Filosofi Hidup yang Menggelitik
Di tengah obrolan serius tentang tantangan di dalam penjara, Aliandra sempat mencairkan suasana dengan filosofi hidupnya yang menggelitik. Ia menyentuh soal godaan yang dihadapi petugas. "Karena yang mahal tuh bukan beban hidup tapi gaya hidup sebenarnya," selorohnya.
Dengan semangat keterbukaan dan dukungan dari tim mudanya, Aliandra berharap Lapas Purwokerto tidak hanya dilihat dari sisi gelapnya. Ia bertaruh pada kekuatan pembinaan dan narasi media yang positif untuk menumbuhkan harapan baru bagi mereka yang tengah menjalani hukuman.
Tantangan yang Dihadapi
Beberapa tantangan utama yang dihadapi oleh Lapas Purwokerto antara lain:
- Kelebihan kapasitas tahanan yang mencapai 300 persen.
- Minimnya jumlah pegawai yang tersedia.
- Isu-isu negatif yang beredar di masyarakat, seperti peredaran narkoba dan penggunaan handphone ilegal.
Meskipun demikian, Aliandra tetap optimis. Ia percaya bahwa dengan pendekatan yang tepat dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk media, akan bisa membantu mengubah stigma negatif tersebut.
Kesimpulan
Aliandra Harahap, Kepala Lapas Purwokerto, telah menunjukkan komitmennya untuk mengubah persepsi masyarakat terhadap lembaga pemasyarakatan. Dengan semangat keterbukaan dan dukungan dari tim muda, ia berharap bisa menciptakan lingkungan yang lebih positif dan manusiawi bagi para warga binaan. Dengan kolaborasi yang kuat, harapan baru bisa dibangun untuk masa depan yang lebih cerah.