Penawaran Umum Perdana Saham (IPO) Superbank yang Menghebohkan Pasar

Superbank, atau PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA), menjadi sorotan utama di pasar modal Indonesia setelah penawaran umum perdana saham (IPO) yang dilakukannya mencatat rekor tinggi. Dalam IPO ini, jumlah pesanan yang masuk jauh melebihi kuota yang tersedia, sehingga membuat banyak investor ritel mengalami nasib serupa: meski telah menyiapkan dana jutaan rupiah, hanya sedikit saham yang bisa mereka peroleh.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Superbank akan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (17/12) pagi. Saat proses penjatahan efek selesai, SUPA tercatat memiliki kelebihan permintaan hingga 318,69 kali. Angka ini menunjukkan antusiasme luar biasa dari para pemodal, dengan lebih dari satu juta pesanan yang masuk.
Harga pelaksanaan IPO Superbank ditetapkan sebesar Rp 635 per lembar saham. Total saham yang dilepas sebanyak 4,40 miliar lembar, atau setara 13% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Setiap saham memiliki nilai nominal Rp 100, dan potensi dana segar yang dikumpulkan mencapai Rp 2,79 triliun.
Pengalaman Investor Ritel yang Terlibat dalam IPO Superbank
Salah satu investor yang ikut dalam euforia IPO Superbank adalah Damara (32), seorang investor asal Jakarta yang biasa membeli saham melalui IPO. Ia memesan sebanyak 170 lot saham, dengan total biaya Rp 10,79 juta. Namun, saat penjatahan rampung, ia hanya mendapatkan 3 lot saham atau sekitar 1,76%.
Putri (24) juga mengikuti IPO ini. Ia membeli 3 lot saham dan berhasil mendapatkannya sepenuhnya. Ia mengaku tidak memborong banyak karena khawatir hanya akan mendapat 1 lot seperti pengalaman sebelumnya. Untuk meningkatkan peluang, Putri membeli saham lewat sekuritas milik kakaknya dan akhirnya mendapatkan 3 lot saham.
Ary (30) yang biasanya tidak terlalu tertarik membeli saham melalui IPO, ikut-ikutan karena euforia Superbank. Ia membeli 2 lot saham senilai Rp 127.000. Meski tidak berharap mendapat jatah, Ary justru mendapatkan 2 lot saham.
Dini (25) juga ikut serta dalam IPO ini. Ia menggelontorkan dana sebesar Rp 5.715.000 untuk memesan 90 lot saham. Sayangnya, seperti investor lainnya, ia hanya mendapatkan 3 lot saham saat penjatahan.
Aturan Penjatahan IPO Superbank
Dalam IPO kali ini, Superbank menggunakan dua model penjatahan, yaitu penjatahan pasti dan penjatahan terpusat. Penjatahan pasti diberikan kepada partisipan admin, yaitu Penjamin Emisi Efek yang kemudian menyesuaikan pesanan pemodal. Sementara itu, alokasi penjatahan terpusat diberikan kepada investor ritel.
Aturan penjatahan terpusat untuk investor ritel adalah dengan batasan pesanan maksimal Rp 100 juta. Sedangkan untuk investor non-ritel, batasannya lebih dari Rp 100 juta dengan perbandingan 1:2. Jika terjadi kelebihan pemesanan, jumlah saham yang dialokasikan untuk penjatahan pasti akan disesuaikan sesuai jumlah saham yang tersedia.
Valuasi IPO Superbank
Dengan harga penawaran Rp 635 per saham, Sucor Sekuritas menilai Superbank memiliki Price to Book Value (PBV) sekitar 2,64 kali. Angka ini menjadi salah satu bank digital dengan valuasi paling rendah dibandingkan kompetitor.
CEO Sucor Sekuritas Bernadus Wijaya menyebut tingginya minat investor pada IPO Superbank sebagai sinyal positif bagi pasar modal Indonesia. Menurut dia, tingginya permintaan mencerminkan kepercayaan pasar terhadap fundamental dan prospek Superbank.
Bernadus berharap kelebihan permintaan ini dapat berdampak positif pada likuiditas perdagangan saham setelah pencatatan. Selain itu, ia berharap IPO ini menjadi pendorong pengembangan sektor perbankan digital di Indonesia.
“Respons seperti ini menandakan bahwa appetite investor terhadap IPO sektor perbankan digital masih sangat kuat,” ujar Bernadus dalam keterangannya.
Menurutnya, Superbank berada pada level valuasi yang sangat kompetitif. Ia mengklaim bahwa SUPA adalah salah satu bank digital dengan valuasi termurah di pasar. Jika dibandingkan dengan ARTO, BBHI, atau Aladin yang memiliki PBV lebih tinggi, maka secara valuasi Superbank berada pada level yang sangat menarik bagi investor.
Bernadus menilai rendahnya valuasi Superbank membuka ruang besar untuk rerating, terutama jika bank mampu mengeksekusi strategi pertumbuhan dan memaksimalkan ekosistem digitalnya. Ia menjelaskan bahwa bank digital umumnya diperdagangkan dengan valuasi premium karena prospek pertumbuhannya tinggi, namun Superbank saat ini justru berada pada level konservatif.