Penurunan Transaksi Kripto di September, Apa Penyebabnya?

admin.aiotrade 10 Okt 2025 3 menit 17x dilihat
Penurunan Transaksi Kripto di September, Apa Penyebabnya?

aiotrade.app.CO.ID – JAKARTA.

Pada bulan September 2025, nilai transaksi aset kripto mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh dinamika pasar global yang terus berubah. Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK menjelaskan bahwa pada bulan September 2025 tercatat sebanyak 1.416 aset kripto yang dapat diperdagangkan. Jumlah konsumen atau investor mencapai 18,08 juta orang per Agustus 2025, meningkat 9,57% dibandingkan Juli 2025 yang berjumlah 16,50 juta investor.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

“Nilai transaksi aset kripto selama September 2025 tercatat sebesar Rp 38,64 triliun, menurun 14,53% dibandingkan Agustus 2025 yang tercatat sebesar Rp 45,21 triliun,” ujar Hasan dalam konferensi pers RDKB OJK pada Kamis (9/10).

Hasan juga menyebutkan bahwa total nilai transaksi aset kripto dari Januari hingga September 2025 tercatat senilai Rp 360,30 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen dan kondisi pasar tetap terjaga dengan baik.

CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, mengatakan bahwa nilai transaksi kripto di platform Tokocrypto mengalami sedikit penurunan, sekitar kurang dari 5% pada September dibandingkan Agustus. Tren ini sejalan dengan data OJK yang menunjukkan penurunan transaksi aset kripto nasional sebesar 14,53% pada periode yang sama.

“Meski begitu, total transaksi di bulan September masih tercatat di atas Rp 12 triliun,” ujar Calvin kepada aiotrade.app, Jumat (10/10).

Calvin menjelaskan bahwa penurunan ini mencerminkan dinamika pasar global yang sedang memasuki fase konsolidasi setelah periode volatilitas tinggi di bulan sebelumnya. Pada Agustus 2025, Bitcoin sempat mencetak rekor ATH di atas US$ 124.000, yang memicu lonjakan aktivitas trading dan euforia investor akibat meningkatnya sentimen Fear of Missing Out (FOMO).

Namun, memasuki September, pasar mulai mengalami pendinginan. Volatilitas harga Bitcoin dan Ethereum menurun signifikan, sekitar 26% secara bulanan (MoM), menandakan berkurangnya pergerakan harga ekstrem yang biasanya menjadi pemicu utama volume transaksi tinggi.

Dalam kondisi pasar yang lebih tenang ini, banyak investor, khususnya ritel, memilih untuk bersikap wait and see, menunggu arah pasar yang lebih jelas sebelum kembali aktif bertransaksi.

“Akibatnya, aktivitas perdagangan di berbagai bursa, baik global maupun domestik, mengalami penurunan, begitu pula dengan pendapatan jaringan blockchain,” terang Calvin.

Selain itu, rotasi aset juga turut memengaruhi. Calvin bilang, setelah reli besar di Agustus, minat terhadap altcoin menurun pada September karena investor lebih memilih bertahan pada aset utama seperti Bitcoin.

Di sisi lain, faktor makroekonomi global seperti inflasi AS yang cenderung stabil dan ekspektasi suku bunga yang belum berubah juga menyebabkan pasar kripto bergerak dalam kisaran harga yang lebih sempit.

“Kendati demikian, penurunan ini tidak menandakan melemahnya minat terhadap aset kripto, melainkan merupakan fase jeda yang sehat sebelum potensi reli lanjutan. Tanda-tanda pemulihan sudah mulai terlihat di awal Oktober, ketika Bitcoin kembali menembus ATH baru di sekitar US$126.000 dan volatilitas pasar kembali meningkat,” jelas Calvin.

Selain itu, munculnya token-token baru seperti ASTER dan XPL, yang telah resmi listing di sejumlah exchange termasuk Tokocrypto, juga diperkirakan akan membangkitkan kembali minat investor ritel dan meningkatkan aktivitas perdagangan dalam beberapa bulan ke depan.

“Dengan kata lain, penurunan transaksi di September bersifat teknis dan sementara, bagian dari siklus alami pasar kripto yang sangat dipengaruhi oleh sentimen, momentum harga, dan pergerakan arus modal global,” pungkas Calvin.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan